Ambisi Indonesia menjadi negara ekonomi digital terbesar

0
23

Sudah sejak 2016, Indonesia berambisi menjadi negara ekonomi digital terbesar se-Asia Tenggara. Presiden Joko Widodo menggaungkan ambisi tersebut saat melawat ke Silicon Valley, Februari dua tahun silam. Dalam kunjungannya, Jokowi mengatakan kepada CEO Plug and Play, Saeed Amidi, bahwa Indonesia sedang bekerja mewujudkan visi menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.

”Saya harap Plug and Play dapat bekerja sama dalam upaya Indonesia mencapai visi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara yang mencapai 130 miliar dolar AS pada 2020,” kata Presiden, seperti dikutip dari rilis setkab.go.id, Kamis (18/2/2017).

Ucapan Presiden Jokowi tentu bukan tanpa dasar. Hasil riset Google bersama Temasek yang dipaparkan pada Agustus 2016 menyebutkan, pertumbuhan populasi pengguna internet di Indonesia menjadi salah satu yang berkembang paling pesat di dunia. Tiap tahun, rata-rata pengguna internet di negeri ini bertambah 19 persen. Hasil studi mencakup proyeksi bahwa pada 2020, pengguna internet di Indonesia akan mencapai 215 juta, dari sebelumnya hanya 92 juta pada 2015.

Dus, pasar online Indonesia diprediksi akan meledak dalam 10 tahun, mencapai 81 miliar dolar AS sebelum 2025. Dari total tersebut, e-commerce menyumbang peranan sebesar 57 persen atau 46 miliar dolar AS. ”Indonesia akan menjadi ekonomi digital terbesar di kawasan Asia Tenggara. Pertumbuhan di Indonesia saat ini akan secara dramatis mengubah keadaan ekonomi 10 tahun ke depan,” ujar Managing Director dari Google Indonesia Tony Keusgen, dalam artikel Kompas.com, Jumat (26/8/2017).

Hasil studi GOOGLE DAN TEMASEK MEMPROYEKSIKAN, pada 2020 pengguna internet di Indonesia akan mencapai 215 juta, dari sebelumnya hanya 92 juta pada 2015.

Regulasi dan infrastruktur, sudah siapkah?

Meski memiliki data mentereng, hal itu bukanlah jaminan pada 2020 ekonomi digital Indonesia benar-benar akan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Visi tersebut bisa gagal terwujud lantaran negeri ini masih memiliki seabrek tantangan. Salah satu yang paling kentara, yakni belum memadainya undang-undang atau regulasi di bidang digital ekonomi. Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf membenarkan ihwal ini.

Kata dia, kebijakan pemerintah yang masih berbelit-belit dan sering berubah-ubah membuat para pelaku usaha rintisan atau startup harus berusaha sendiri. Tak hanya itu, skema peraturan yang tidak mereka ketahui membuat perkembangan industri ini jadi melambat. ”Karena itu, saya bilang, Indonesia tidak siap untuk menghadapi ekonomi digital,” kata Triawan, dikutip Kontan.co.id, Selasa (25/7/2017).

Tantangan lain datang dari infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang hingga saat ini belum memadai. Buktinya? Lihat saja peringkat TIK Indonesia di Asia Tenggara. Dari hasil riset We Are Social dan Hootsuite pada enam negara di kawasan tersebut, diketahui peringkat pembangunan infrastruktur jaringan dan telekomunikasi Indonesia berada pada urutan kelima.

TERBESAR DI ASIA TENGGARA: Presiden Joko Widodo

Negeri ini hanya mendapatkan indeks poin 40,41 dari skor maksimal 100. Capaian itu jauh dari Singapura yang menduduki peringkat pertama dengan raihan poin 76,43. Lalu berturut-turut ada Malaysia (53,11), Thailand (49,66), dan Filipina (49,220). Hasil studi yang dirilis Januari 2017 ini hanya menempatkan Indonesia lebih baik dari Vietnam (39,72) yang menempati posisi buncit.

Mau bukti lagi? Silakan tengok indeks pembangunan teknologi informasi dan komunikasi (IP-TIK) Indonesia yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Menurut indeks itu, pembangunan IP-TIK dalam kurun 2012-2015 masih berjalan lambat. Pada 2012 indeks IP-TIK Indonesia berada pada angka 4,24, kemudian berturut-turut 4,50 (2013), 4,59 (2014), dan 4,83 (2015). Padahal, mengutip Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, tanpa infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang memadai, mustahil ekonomi digital di Indonesia bisa tercapai.

Pengelolaan data

Tantangan besar lain datang dari pengelolaan data yang kini semakin kompleks dan besar. Ini terjadi akibat lonjakan data atau big data, salah satunya disebabkan melonjaknya penggunaan perangkat-perangkat IoT (Internet of Things). Selain membutuhkan media penyimpanan besar, keberhasilan pengelolaan data bergantung pada kecepatan dalam menganalisis dan memproses data.

Nah, dengan kondisi seperti ini perusahaan berbasis digital sudah tak relevan lagi mengandalkan data storage konvensional untuk melakukan dua hal tersebut. Mereka harus beralih ke platform cloud computing atau komputasi awan, yang memungkinkan proses komputasi dan pengelolaan data dapat dilakukan di awan atau internet.

Pemanfaatan cloud computing dapat memberikan fleksibilitas, efisiensi dan nilai kompetitif bagi perusahaan dan bisnis. Selain itu, perusahaan bisa memilih skala infrastruktur yang dibutuhkan tanpa terbebani ongkos investasi di awal. Lebih jauh, cloud computing juga fleksibel digunakan untuk skala perusahaan kecil, menengah, hingga kelas enterprise.

WUJUDKAN IMPIAN INDONESIA: Bersama Mark Zuckerberg

Di Indonesia, walaupun proses transformasi dari pengelolaan data konvensional ke cloud computing berjalan lambat, saat ini sudah banyak perusahaan yang beralih menggunakan komputasi awan. Ini terlihat dari pasar cloud computing yang terus tumbuh di negeri ini. Menurut Lembaga riset Internasional Data Corporation (IDC), nilai total pasar cloud Indonesia pada 2014 sebesar 169 juta dolar AS. Nilai tersebut meningkat menjadi 378 juta dolar AS pada 2017.

Dengan kata lain, menurut IDC, tingkat pertumbuhan pasar cloud di negeri ini 22-36 persen per tahun. Meski demikian, hingga kini pengguna komputasi awan masih belum dapat memiliki kendali penuh atas data mereka dan menggunakan untuk meningkatkan bisnisnya.

Nah, saat ini sudah ada layanan storage dan cloud yang memungkinkan perusahaan melakukan itu. Layanan tersebut adalah NetApp Private Storage (NPS) for Cloud hasil kolaborasi dengan Equinix Cloud Exchange. Lewat layanan ini, pengguna dapat memiliki kendali penuh atas data mereka.

Equinix Cloud Exchange juga memungkinkan data terhubung langsung dengan platform layanan cloud Amazon Web Services, Microsoft Azure, IBM SoftLayer, dan layanan sejenis lain, sehingga proses komputasi data menjadi jauh lebih cepat. Dengan begitu, perusahaan selain bisa memiliki kendali penuh terhadap data di Indonesia, mereka juga punya akses untuk memindahkan data ke berbagai platform layanan cloud yang dipilihnya dengan cepat.

Alhasil, perusahaan berbasis digital tak perlu lagi galau soal infrastruktur data center mereka. Pengelolaan data suatu perusahaan pun menjadi bisa lebih adaptif dan tangkas. Sehingga, mereka siap dengan next generation data center dalam menghadapi era big data dan IoT. Setidaknya, layanan NetApp Private Storage (NPS) for Cloud hasil kolaborasi dengan Equinix Cloud Exchange menjadi sinyal positif dalam mewujudkan visi untuk menjadikan ekonomi digital Indonesia terbesar se-Asia Tenggara. (Dari berbagai sumber/kps)

TINGGALKAN PESAN

ketik komentar anda
Masukkan nama anda di sini