Koes Plus, legenda, dan ”Copycats”

1
172
Sabpri Piliang

Oleh: Sabpri Piliang

Musik adalah sebuah imitasi, modifikasi, dan kiblat. Ketika kesuksesan berhasil diraup oleh sebuah kelompok usaha atau kelompok musik, maka akan lahir imitasi-imitasi baru yang bisa meraih kesuksesan seperti kelompok yang ditirunya. Kerja keras kelompok musik imitator dan modifikator, seperti Koes Plus terhadap Everly Brother dan The Beatles, mampu menyihir penduduk negara sebesar Indonesia, hingga hari ini.

Bahkan, setelah kepergian tiga personel ”ruh musik Indonesia” dari Tuban, Jawa Timur, ini: Tonny Koeswoyo, Murry, dan belum lama Yon Koeswoyo,  mereka ”tak pernah mati”. Ratusan komunitas hidup dan lahir di seantero kota. Kelompok musik yang berimitasi pada Koes Plus, di kekinian katakanlah: T-Koes, Bplus, K-Koes Band, dan banyak nama lagi ”brand”, membentang di berbagai kota: Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Surabaya, Palembang, Medan.

Imitator atau modifikator, seperti Panjaitan Bersaudara (Panbers), D’lloyd,  Usman Bersaudara (Usbros), No Koes, Bimbo, The Rollies, Topan Group,  Anak Kali Asin (AKA), Sonata Tanjung, Arthur Kaunang, dan Syech Abidin (SAS Group), Favourites Group, Lollypop, The Mercys, dan banyak lagi kelompok musik era 70-80-an, lahir karena adanya unsur berkiblat pada gaya, atau karakter bermusik.

Koes Plus yang berawal dari Koes Bersaudara, lewat cara bermusik dan suara  imitasi dari duet Everly Brother, membawa kelompok ini ke penjara Glodok. Bung Karno yang menyebut musik mereka sebagai  tipikal cengeng, ngak...ngik...ngok, dianggap akan mempengaruhi jiwa dan semangat revolusi kemerdekaan bangsa Indonesia. Bangsa ini akan lemah, bila cara bernyanyi dan bermusik seperti halnya Koes Bersaudara.

Padahal pada saat yang bersamaan, di belahan benua Eropa, masyarakatnya tengah digandrungi musik bergaya pop, seperti yang dilakukan oleh Beatles, Beeges, dan Everly Brother. Seorang maestro sehebat Tonny Koeswoyo, mati-matian mendidik kedua adiknya: Koesyono (Yon Koeswoyo) dan Koesroyo (Yok Koeswoyo), agar kemampuan suara satu dan suara duanya, menjadi kombinasi apik seperti alunan kompak Everly Brother yang syahdu di telinga.

Tidak boleh ada yang tersinggung dengan tudingan bermusik kelompok anak-anak muda Indonesia, berasal dari peniruan. Oded Shenkar, Profesor Bidang Manajemen di Fisher College of Business, The Ohio State University (USA) dalam bukunya Copycats menyebutkan, peniruan adalah sama pentingnya dengan inovasi. Peniruan (imitasi) merupakan elemen inti di dalam strategi menarik perhatian, dan juga strategi kompetisi bisnis, tanpa  perlu membuang-buang waktu mencari pola baru lewat riset terlebih dahulu.

Lagu-lagu ciptaan Yok Koeswoyo yang berjudul Penipu Tua dan Jemu pada album In Hard Beat” (1975-1976)), dengan tekanan pada musik pop-rocknya, sekalipun tidak sama di dalam nada, namun karakternya hampir mirip dengan lagu Hey Jude. Atau pada lagu Yesterday yang bernada lembut, karakternya sama dengan lagu Aku Milikmu diciptakan dan dinyanyikan oleh Tonny Koeswoyo. Sementara Kasmuri (Murry), salah satu personel Koes Plus melalui lagu Bujangan, tak luput dari gaya Beatles dan Everly Brother dalam duet suara Yon-Yok pada Reff-nya.

Everly Brother

Bila Koes Bersaudara dan Koes Plus menjadi ”breakthrough” dunia musik Indonesia, yang sebelumnya hanya mengenal lagu-lagu dengan suara tarik leher, seperti nada seriosa, selanjutnya Indonesia menghasilkan kelompok  musik lain yang juga lahir dari imitasi. D’llyod yang masuk ke ranah musik pop pada era 1974-an, tidak bisa dikatakan lepas dari musik pop yang bergaya imitasi.

Sekalipun pada akhirnya mereka terlepas dari peniruan musik pop yang diusung oleh Koes Plus, namun tetap saja, idola yang ditiru adalah Koes Plus. Idiom Koes Plus telah menjadi ”benchmark” musik di Tanah Air,  walaupun Koes Plus menjadikan Everly dan Beatles sebagai muara tolok ukurnya.

Suara vokalis Syamsuar Hasyim atau lebih dikenal sebagai Sam dalam lagu top hits Titik Noda karya Bartje Van Houten, tidak berbeda jauh dengan lagu Aku Sendiri yang diciptakan dan dinyanyikan oleh Yok Koeswoyo pada Volume 9 Koes Plus, tahun 1974. Juga lagu Suster Maria yang dinyanyikan Sam, begitu mirip melodinya dengan Shanty (album Volume 10 Koes Plus) atau Maria-nya Koes Plus.

Tidak ada yang bisa lepas dari imitasi Koes Plus. Bahkan, Nomo Koeswoyo yang diminta keluar oleh Tonny Koeswoyo karena tidak disiplin berlatih dalam Koes Bersaudara, juga tetap ”terseret” dalam alur dan pusaran Koes Plus. Dengan kelompok baru bernama No Koes bersama: Usman, Said, dan Sofyan, Nomo membuat imitasi lagu-lagu sejenis Koes Plus, seperti Saatku Pulang Sendiri dan Mandolin.

“Nyaris tak ada yang bisa lepas dari proses peniruan. Panbers, Favourite, AKA, SAS, The Mercys, The Rollies, Black Brother, semua menganut hal yang sama.”

Bukan hanya sampai di situ. Bila Koes Plus diumpamakan sebagai ”biang” (induk), lalu No Koes sebagai anak, maka Koes Plus kemudian melahirkan integral baru yang bernama Usman Bersaudara (Usbros). Keluar dari No Koes: Usman, Sofyan, Said, ditambah dengan Mamo Agil, memproklamirkan  Band Usman Bersaudara (Usbros). Mudah ditebak genre-nya, ya tetap Koes Plus. Lagu Mama yang dinyanyikan Sofyan, dan Sorry Boy, memperlihatkan bahwa melodi Koes Plus yang digemari masyarakat, layak untuk ditiru.

Nyaris tak ada yang bisa lepas dari proses peniruan. Panbers, Favourite, AKA, SAS, The Mercys, The Rollies, Black Brother, semua menganut hal yang sama. Panbers dalam lagu Terlambat, Gereja Tua, Embun Pagi, sementara Favourites lewat lagu Tetes Hujan di Bulan April, Yuana, Layu Sebelum Berkembang, kemudian AKA dalam lagu Badai Bulan Desember, The Rollies bersama Kudengar Seruling, The Mercys lewat lagu Tiada Lagi, Black Brother dengan lagu Gadis di Lembah Sunyi, dan SAS Group bersama lagu Rindu, semua tak lepas dari proses imitasi dengan tingkatan gradasi masing-masing.

Koes Bersaudara

Tidak ada yang salah dengan imitasi dengan tingkatan yang berbeda-beda. Imitasi dalam gaya, genre, dan penampilan adalah hal yang lumrah pada sebuah karya musik. Nyaris nihil, karya musik di mana pun tanpa ada proses imitasi. Koes Plus, Panbers, D’lloyd, Black Brothers, No Koes, Koes Bersaudara, Usbros, tidak lahir dengan gaya musik asli. Semua lahir karena kiblat yang digandrungi dan diidolakan. Tak salah, yang salah adalah kalau melakukan penjiplakan sepenuhnya.

Kelompok musik era kini, seperti: NOAH, Ungu, D’Massiv, dan lainnya, juga tak lepas dari kiblat yang sedikit banyak tetap melakukan imitasi pada batas-batas tertentu. Imitasi yang disempurnakan dengan gaya musik sendiri, terkadang lebih digemari oleh pencinta musik. Ahli manajemen AS Theodore Levitt (1966), pernah mengemukakan satu hal: ”Imitasi  merupakan jalan yang jauh lebih lazim menuju pertumbuhan dan keuntungan bisnis.” Koes Plus dan generasi kelompok musik sesudahnya, telah membuktikan itu.

Digemari dan dikenang lewat lagu-lagu yang kini menjadi memori, membuat kita tersihir dan menerawang  ke masa lalu. Sayangnya, mereka tetap ”miskin”, tidak sekaya pemusik zaman kini yang lebih cerdik karena menjual hasil karyanya dengan royalti. Sementara Koes Plus dan generasi sezamannya, berpikir lugu, menjual karya dengan cara ”lepas putus”. Namun, mereka tetap yang terbaik di segala zaman Indonesia. Itu dibuktikan banyaknya komunitas-komunitas Koes Plus di seantero Nusantara.

1 KOMENTAR

  1. Fantastic web site. A lot of helpful information here. I am sending it to some friends ans additionally sharing in delicious. And naturally, thank you to your effort!

TINGGALKAN PESAN

ketik komentar anda
Masukkan nama anda di sini