Takdirkah ini?

0
5
Photo: Gerd Altmann (Pixabay)

Oleh Anang Yaqeen

Takdirku adalah hari hari yg panjang. Hari-hari dengan pergulatan kehidupan yang makin tidak bisa dimengerti secara benar. Dalam bekap keyakinan yg tipis dan bergejolak. Dalam waktu yang terus bergulir. Dalam asa yg sudah di titik nadir. Tak juga kutemukan peristiwa takdir. Kepada Tuhan kah kesah ini aku alamatkan?

Setiap tarikan nafas, adalah segaris irisan kepedihan baru dalam tapak luka lama. Mengalir deras darah segar kegetiran. Setiap ketukan di pintu depan, adalah hantaran kengiluan yg merasuki persendian paling dalam jasad tua berlumur nista.

Entah dimana Tuhan menyimpan maksud atas semua peristiwa ini. Selalu aku gagal mengupas rencananya. Tuhan lebih banyak aku jumpai dalam imajinasi yg rumit tak berujung pada satu kesimpulan. Alam raya terasa sebagai bentangan kepedihan tak bertuan.

Doa ku lantas saja berbekal geram. Amarahku tak beralamat. Maka langit menjadi pelampiasan di malam-malam hening beraroma bangkai para pendusta. Subhanallah.. Subhanallah.. Subhanallah tasbih ku menggebrak. Keikhlasan tercabik murka. Tuhan menjadi pelampiasan terakhir.

Serua, Ciputat, Tagerang Selaran, 6 Agustus 2019

TINGGALKAN PESAN

ketik komentar anda
Masukkan nama anda di sini