Kamis, Januari 20, 2022

Mempertegas DNA dan model bisnis media

Must read

Oleh A. Sapto Anggoro 

Bisnis media terus bertumbuh, kalaupun ada banyak yang tutup di media cetak, tapi reinkarnasi menjadi media platform yang lain, pertumbuhannya jauh lebih banyak. Terutama di media online, yang menurut Dewan Pers jumlahnya 43.300. 

Dari jumlah tersebut, kalau misalnya rata-rata awak media 10 orang minimal, sudah 433 ribu tenaga kerja terserap mestinya. Menurut BPS pada 2019 ada 129,3 juta penduduk Indonesia bekerja, berarti dari media online menyumbang 0,33% angkatan kerja. 

Tentu saja jumlah itu terlalu kecil, jika dibanding secara keseluruhan pekerja media dari berbagai platform, misalnya dari industri media televisi, media cetak, radio, pasti jumlahnya juga lebih banyak. Karena keterbatasan saya di luar platform media online, sehingga dibatasi untuk media online. 

Sebelum membahas lebih detil mengenai bagaimana menemukan bisnis media online di Indonesia seperti yang disampaikan oleh panitia seminar, saya perlu menjelaskan lebih dulu bahwa dalam dunia media online, selain mengalami pergeseran teknologi yang mempengaruhi cara bertindak dan bekerja, juga mengenai praktik bisnis itu sendiri, terutama di era startup

Photo by Alla Hetman on Unsplash

Kita bicara bisnis media online, ada tiga hal yang bisa disampaikan. Pertama, adalah perusahaan itu sebagai objek bisnis atau komoditi, artinya medianya dibangun dibesarkan untuk dijual: contoh kasus detik.com diakusisi CT Corp 100%. 

Kedua, media sebagai bagian dari produk untuk ditumbuhkembangkan. Pada bagian kedua ini ada dua bagian. Bagian 2A: Ditumbuhkembangkan dengan cara bisnis konvensional dimana produk konten media sebagai revenue stream dan mengambil keuntungan dividen dari laba atas bisnis media itu sendiri, contoh Kompas.com, Republika.co.id, mediaindonesia.com/ medcom.id, dan lain-lain.

Bagian 2B: Ditumbuhkembangkan dengan cara model bisnis startup, di mana pendiri media mengundang investor untuk pengembangan medianya, melalui beberapa kali series investasi, sehingga nilai perusahaan semakin mahal dan mahal, sahamnya naik terus, dan pendiri menikmati dari kenaikan saham, yang diperjualbelikan, atau keuntungan dari situ sebelum akhirnya eksit. Contoh: tempo.co, kumparan.com, KLY, IDN Times, Katadata, dan lain-lain. 

Model ketiga, yakni pengelolaan tradisional dan menjadikan medianya sebagai anak kandung. Artinya, berapapun nilai yang diberikan meski dengan judul investasi, tidak akan diberikan, karena perusahaan dan brand medianya sudah menyatu dan identik. Contohnya media-media online yang reinkarnasi dari media cetak, seperti Pikiran-Rakyat.com, Kedaulatan Rakyat (KRJogja.com), Balipost.com, dan lain-lain.  

Sebenarnya untuk 2B, bisa teruji melalui waktu. Artinya, bila ditumbuhkembangkan biasa dengan mengandalkan pendapatan iklan dan produk lain, maka masih masuk cara konvensional. Akan tetapi bila sudah dijual 100% alias pendiri sudah tidak memiliki saham lagi, maka bisa juga dikatakan sebagai bagian dari model pertama. Anda memilih model yang mana dalam hal menjalankan bisnis media online? Kembali ke niat masing-masing.

Apapun pilihan yang Anda tentukan kemudian dalam bisnis media online, yang pasti harus ada keberlanjutan (sustainibility). Hal ini penting, karena itu kunci utama yang untuk mewujudkannya dengan cara mendapatkan penghasilan atau revenue dari usaha media tersebut. Apabila revenue media online jelas, maka pemilik media akan bebas menentukan arah perusahaan apakah akan menjadi anak kandung bahkan sampai jadi legenda, atau jadi komoditas, atau jadi startup rintisan yang menguasai pasar media. 

Induktif-Segmented 

Biasanya dalam hal model penarikan kesimpulan, ada dua cara yakni dari umum ke khusus (deduktif), atau dari khusus ke umum (induktif). Demikian juga dalam bisnis media online, apakah media Anda akan berjalan dari toserba yang serba ada atau dari yang khas atau segmented baru nanti dikembangkan ke umum. 

Namun demikian yang tak kalah pentingnya, dalam konsep media online, ada model pengembangan portal vertikal, yakni hanya main di satu kategori tapi dari atas sampai bawah menajam dan dalam. Misalnya portal sepakbola, dibagi sepakbola kuno, sepakbola masa kini, eropa, amerika latin, nasional, sejarah gol, pemain sepatu emas, transfer, dan sebagainya, detil dan rinci. 

Photo by Courtney Clayton on Unsplash

Keuntungan dengan media yang sudah segmented tersebut, adalah orang baik pembaca maupun pemasang iklan tahu bahwa kalau mencari info soal bola adalah di media tersebut, atau pemasang iklan juga tahu siapa profil pembaca media tersebut. Maka apabila mau memasang iklan, akan jelas target pasarnya. 

Dalam hal target pasar ini, profile demografi pembaca (usia, seks, edukasi, SES, lokasi) adalah satu standar minimal informasi yang bisa dibagikan kepada partner klien atau pemasang iklan. Profil demografi pembaca tersebut bisa terjadi sesuai dengan pembaca yang hadir, bisa juga kita setting dengan perencanaan yang matang. 

Untuk bisa mendapatkan profil yang diinginkan, media harus jelas DNA (deoxyribo nucleic acid) atau asam nukleat yang berkaitan dengan genetika. Instruksi-instruksi genetika ini berperan penting dalam pertumbuhan, perkembangan, dan fungsi organisme dan virus. Dalam konteks media, perlu ketegasan DNA media online itu apa. Apakah sebagai media dengan DNA entertainment, indepth, invstigasi, ekonomi, keuangan, etalase bisnis, etalase usaha konsultansi, gerakan atau movement, dan lain-lain. 

Setelah jelas DNA-nya, maka kita bisa memperjelas produknya mengarah ke mana. Misalnya mengarah ke anak muda milenial, mengarah ke perempuan matang-mapan, mengarah ke eksekutif muda, ke ibu dan anak, bahkan untuk hobi, bebas bisa ditentukan. 

Dengan mengenali profil demografi yang di-setting sesuai dengan pilihan DNA medianya, maka pilihan-pilihan produk dan model bisnis yang ditawarkan akan bisa dikembangkan, antara lain: 

  • Iklan banner (display ads) 
  • Content creation (Advertorial, sponsor konten) 
  • Community engagement (aktivitas online offline komunitas) 
  • Community insight (komunitas untuk riset) 
  • Media support & movement (propaganda tersembunyi) 
  • Pay wall (konten berlangganan) 

Dalam menjalankan praktik bisnis iklan atau advertising bahkan konten promosi atau propaganda, media online juga terikat oleh kode etik jurnalistik tentang batas api (fire wall). Ini menyangkut kredibilitas media juga tentang tanggung jawab konten sponsor tersebut bukan pada pemimpin redaksi tapi pemasang iklan. 

Selain pendapatan dari media online di atas, pendapatan juga bisa berasal dari produk ektensinya melalui akun media sosial resmi media online, antara lain YouTube, Facebook, Instagram, Twitter. Namun demikian, seperti halnya media online induknya, media sosial juga harus kelihatan tegas DNA atau jati dirinya. Hal itu akan menentukan engagement-nya antara media dan komunitas sosmednya. Selain jumlah follower yang tak kalah penting adalah engagement.

Platform media sosial tersebut di atas beserta alat pencari Google, seperti diketahui saat ini diperkirakan menguasai 60%-70% total belanja iklan digital di Indonesia. Mengutip data Nielsen, belanja iklan di Indonesia sebesar Rp40,7 triliun di 2018. Namun iklan digital baru menyentuh 6% dari total tersebut atau sekitar Rp2,4 triliun. 

Bila Rp2,4 triliun itu yang 60% untuk platfom global (Google Grup & Facebook Grup), maka media di Indonesia kebagian 40% dari total iklan digital atau sekitar Rp960 miliar. Jumlah itu, dibagi total media online di Indonesia sebanyak 43.300 media, maka setiap media online di Indonesia rata-rata mendapat Rp22,17 juta/media/tahun? 

Dalam bisnis apapun selalu terjadi hukum pareto di mana 20% perusahaan menguasai 80 persen market. Siapakah sajakah media online mereka yang menguasai kue tersebut? 

Di balik pesimisme tersebut, dalam rilisnya terbaru, PricewaterhouseCooper (PwC) sebagai sebuah lembaga konsultan keuangan management dan riset, memprediksi media online menguasai 20% porsi iklan Indonesia tahun 2021. 

Lebih detil dijelaskan, PwC memprediksi total belanja iklan di Indonesia pada 2021 mendatang sebesar US$13,7 miliar (sekitar Rp191,8 triliun). Bila kebagian media online Indonesia 40%, maka belanja iklan total sekitar Rp15,3 triliun. Siapa mau?

Sumber: 

A. Sapto Anggoro– Ketua Dewan Penasihat dan Pertimbangan AMSI (Asosiasi Media Siber Indonesia) 

Disampaikan dalam Konferensi Regional dan Konferensi Nasional Aliansi Jurnalis Indonesia, Jakarta, 6 Agustus 2019

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article