TEMPO kok masih terbit?

0
898

Oleh Eddy Herwanto

Kado sedih dari RUPS 25 Agustus 2020 untuk pemegang saham menjelang 50 tahun majalah TEMPO Maret 2021: kinerjanya terus merosot dua tahun terakhir. Semester I 2020, rugi bersih berjalan PT Tempo Inti Media (ticker:TMPO) jadi Rp24,14 miliar (Juni 2020) naik dari Rp5,14 miliar (Juni 2019). Kerugian terjadi karena pendapatannya pada periode itu rontok Rp52,428 miliar (hampir 37%) dari Rp142,266 miliar ke Rp89,838 miliar. Cukup dalam.

Penurunan terjadi bukan melulu karena PSBB Covid-19, tapi juga karena perubahan sikap konsumen memperoleh berita. Pembaca mungkin tidak perlu lagi kelengkapan dan kedalaman. TEMPO pernah menikmati pertumbuhan tinggi. Pada periode antara 1980 -1990, TEMPO setidaknya tumbuh dua digit. Tingginya pertumbuhan itu menyebabkan perusahaan melebarkan organisasi, dan mulai tergoda melakukan diversifikasi usaha – termasuk pemegang sahamnya mengambilalih saham sekaligus pengelolaan koran Jawa Pos, Surabaya.

Tingginya pertumbuhan itu (dari sirkulasi dan iklan), merupakan berkah entry barrier yang dibangun penguasa Orde Baru, terutama akibat dibatasinya pemberian SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers). Hanya TEMPO satu satunya majalah berita mingguan. Tidak seperti di Amerika ada Time, Newsweek, dan beberapa lagi yang muncul belakangan. Monopoli sebut saja, menyebabkan TEMPO berada di zona nyaman (Hermawan Kertajaya, 1999).

Akhirnya organisasi redaksi bengkak, sebuah artikel dihasilkan dari keroyokan liputan banyak koresponden, reporter, atau stringer. Karena panjang naskah dibatasi halaman, laporan reporter sering hanya dikutip sebagian, bahkan banyak yang hanya dikutip “koma atau titik” nya saja – terutama jika laporan tidak sesuai dengan angle yang diminta jabrik (penanggung jawab rubrik). Keadaan ini menyebabkan banyak laporan bagus terbuang, dan memunculkan kekesalan wartawan. Anehnya masih banyak wartawan harus tidur di bawah kolong meja.

Tidak ada usaha melakukan creative destruction dari internal organsasi. Beberapa kali SWOT persoalan membengkaknya organisasi redaksi ini tidak pernah tersentuh. Tidak jelas mengapa, manajemen tidak melihat “kelemahan” ini. Dalam suatu obrolan santai, sejumlah wartawan senior pernah rasan-rasan, sesungguhnya TEMPO bisa membuat satu majalah berita lagi dengan organisai tahun 1980-an itu.

Second brand, mengapa tidak. Toyota Motor Jepang melahirkan Daihatsu. Lemak di organisai redaksi sesungguhnya demikian mengkhawatirkan karena membuat biaya peliputan membengkakan COGS (cost of good sales). Padahal pernah pada awal 1980-an, TEMPO hanya punya lima reporter, lima reporter saja di Jakarta, dan bisa menghasilkan banyak berita eksklusif (Wawancara Liem Sioe Liong, misalnya). Pernah memang dicoba, kelebihan sumber daya di redaksi itu disalurkan membuat buku Apa Siapa (oleh Said Mukhsin).

Jadi ketika sejumlah awak TEMPO, dan SWA keluar membuat EDITOR, sesungguhnya berkah buat TEMPO menghilangkan lemak redaksi. Tapi entah mengapa, tsunami kecil (Putu Setia, 2004) itu ditanggulangi dengan “merekrut” teman-teman yang semula terabaikan dalam karier. Lahirnya EDITOR sesungguhnya bisa dipandang sebagai creative destruction eksternal, dan kesempatan bagi TEMPO melakukan evaluasi, dan jika perlu reorientasi usahanya.

Tapi peluang itu tidak dilihat. TEMPO bahkan secara masif masuk lebih dalam ke bisnis intinya, antara lain membangun kantor di Palmerah Selatan dengan pinjaman komersial, justru di saat era televisi bersinar, dan teknologi digital menjelang di ufuk Timur. Sedih membaca laporan keuangan semester pertama 2020. Jika berlanjut bisa terjadi defisiensi modal kembali. Harus ditutup dengan penawaran umum terbatas (PUT) lagi?

Sekalipun modal disetor sudah ditambah Rp66 miliar lebih melalui PUT I, beban utang yang harus ditunaikan pada 2020 berjalan akan menekan arus kas perusahaan. Apalagi sejak PSBB mulai Maret, warga lebih suka melakukan aktivitas secara daring, juga untuk memperoleh bacaan. Dulu, penjualan secara eceran, antara lain di banyak lampu merah Jakarta dan Surabaya, banyak menolong arus kasnya. Tapi kini, penjualan eceran, yang memberikan pemasukan secara tunai, jauh berkurang.

Menjelang ulang tahun ke 50 pada Maret 2021, kiranya pemegang saham dan pengelolanya perlu membuat keputusan tidak populer, misalnya memotong anak usaha yang tidak punya prospek. Bahkan jika perlu, sebagai langkah terakhir, menutup media cetak TEMPO – seperti dilakukan Washington Post Co. dengan mengubur Newsweek selamanya.

Sakit tentu saja. Zaman sudah berubah: pembaca perlu berita yang padat dan cepat. Kedalaman menjadi nomor berikutnya. Semester kedua, setelah perusahaan banyak memotong belanja iklan menyusul pandemi Covid-19, perjalanan TEMPO bakal lebih berat. Jika diteruskan, perlu kerja lebih keras dari sebelumnya, supaya tetap terbit.

TINGGALKAN PESAN

ketik komentar anda
Masukkan nama anda di sini