Kamis, Januari 20, 2022

HAM Overland de Java

Must read

HUT HAM ke 13 WonosoboPurwokerto

Perayaan HUT HAM adalah salah satu annual event yang diselenggarakan komunitas media sejak 12 tahun lalu. Memasuki tahun ke-13 menjadi momen yang penuh tantangan tidak hanya bagi HAM tapi juga bagi stake holder-nya karena berlangsung di tengah pandemi Covid-19.

Dengan berbagai pertimbangan berat dan harus memenuhi persyaratan protokol kesehatan Covid-19 yang diterapkan oleh Pemerintah Indonesia, HAM pun memutuskan untuk menyelenggarakan HUT secara offline.

Hal ini tak terlepas dari berbagai pertimbangan di antaranya:

  1. Harus tetap memberitakan para stake holders-nya agar tetap hidup dan mampu menggerakan kembali roda ekonominya.
  2. Media ingin mengkonstruksi kembali Industri perhotelan dan pariwisata dalam kesiapannya menyambut tamu dan wisatawan yang datang ke hotel di daerah terutama di Kab. Purwokerto dan Kab. Wonosobo, Jawa Tengah.
  3. Media pun ingin memastikan bahwa hotel dan daerah tersebut nyaman untuk dikunjungi oleh wisatawan serta tamu bisnis karena telah menetapkan protokol kesehatan.

Sub tema yang dipilih “Media Mengkonstruksi Industri Perhotelan dan Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19”.

HUT Himpunan Anak Media ke-13 pelaksanaannya pada 22 – 24 November 2020, dengan pelakukan perjalanan ke Wonosobo dan Purwokerto, dengan sponsor utama Dafam Hotels Management.

Kegiatan ini bisa berlangsung, selain dengan dukungan dari Hotel Dafam Management, juga ada beberapa sponsor lainnya, di antaranya halodoc, Modena, Dermaster, Dusdusan, JAS, Zap, TTC, Toza, H3 Jakarta, Palawi dan Pemda Kabupaten Banyumas.

Wisata kekinian identik dengan lokasi yang mampu menyajikan pemandangan spektakuler bila direkam oleh kamera foto dan keren di media sosial. Apalagi kalau bukan merekam pemandangan dari suatu ketinggian yang ekstrim.

Maka tidak mengherankan kalau di Yogyakarta, wisatawan millennial selalu antre untuk bisa naik dan berfoto di sebuah gardu pandang. Tempat serupa mulai bermunculan, yang lama ikut berbenah dan langsung diserbu kalangan penyuka foto wisata.

Salah satu area yang sekarang makin merebak di Instagram adalah kaki gunung Sindoro dan Sumbing atau antara Wonosobo dan Temanggung. Gunung Sumbing dengan ketinggian 3.371 Mdpl dan Sindoro 3.150 Mdpl yang terletak di Kabupaten Temanggung Jawa Tengah ini, di balik kegagahannya tersembunyi keindahan yang menakjubkan. Di kaki kedua gunung itu tumbuh subur ribuan hektar ladang tembakau.

Keberadaan Gunung Sindoro dan Sumbing memang mendatangkan banyak fenomena alam yang luar biasa. Bila menjelang malam, maka daerah di kaki kedua gunung tersebut akan tertutup kabut. Dari jalan aspal utama sampai jalan batu ke perdesaan seperti diselimuti tabir putih yang dingin. Inilah saatnya untuk memainkan kamera merekam atau berfoto dengan situasi yang begitu misteri.

Menanti Fajar di Posong

Jangan lewatkan untuk mengejar terbitnya matahari. Tempat yang dituju adalah Posong, Desa Tlahab, Temanggung. Ini adalah area perkebunan tembakau milik rakyat.

Posong merupakan sebuah lokasi persis di kaki Gunung Sindoro. Di tempat itu terdapat beberapa gardu pandang untuk menunggu matahari terbit dari balik Gunung Sumbing. Untuk mencegat sang fajar, pengunjung harus sudah berada di sana sejak jam 4 pagi. Dari gerbang tiket menuju area gardu pandang memerlukan waktu sekitar setengah jam.

Melewati jalan berbatu yang menanjak, membelah perkebunan tembakau dan kopi. Bila tiba saat panen tembakau, pengunjung dilarang menggunakan kendaraan roda empat karena akan mengganggu pergerakan kendaraan para petani.

Dari pinggir jalan raya pengunjung bisa menggunakan ojek. Sampai di pos pengamatan, angin gunung yang kencang langsung menyambut, semakin membekukan udara di musim kering yang berkepanjangan ini.

Ada tempat area pandang, gardu pandangnya dibuat kekinian, seperti altar kayu yang keren bila difoto. Sekitar pukul 05.30 WIB semua mata memandang ke arah Gunung Sumbing, perlahan-lahan matahari pagi muncul dari balik Gunung Sumbing.

Segera saja bayangan siluet gigir gunung yang memanjang, membelah perkebunan dan memantulkan sinar emas dari matahari. Inilah saatnya mengoperasikan penuh alat fotografi. Saling memotret atau selfie terus berjalan. Memanfaatkan berbagai sudut gardu pandang dengan latar belakang sinar matahari yang lembut.

Adalah Zunianto, pemuda dari Desa Tlahab yang pada 2007 bekerja di hotel dan menjadi guide bagi tamu hotel yang berkunjung ke Borobudur sampai Dieng. Menurutnya, yang banyak dicari wisatawan adalah sunrise. Seperti di Puthuk Setumbu dekat Borobudur dan beberapa lokasi di kawasan Dieng.

Setiap pulang ke rumah setelah subuh, Zunianto selalu berhenti di sekitar Pom bensin Kecamatan Kledung, Temanggung. Di dataran tinggi Kledung ini dirinya melihat sunrise yang indah dan selalu mengabadikan sunrise tersebut dengan kameranya.

Dirinya mulai tergoda untuk mencari lokasi sunrise yang ideal dan berhasil menemukan area Posong. Lewat pendekatan dengan pihak Pemda, akhirnya area Posong dibangun menjadi area titik pandang sunrise yang berkembang menjadi badan usaha milik desa (BUMDes), Desa Tlahab.

Kini di area tersebut banyak dibuka warung kopi dan makanan yang membuat para pengunjung semakin betah..

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article