Vaksin Covid-19, Q&A

0
22

Infomasi dari ahlinya yang bahasanya sederhana, mudah dimengerti awam dan sangat informatif. ๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡

Prof Abdul Muthalib SpPD KHOM, guru besar FKUI

Berikut penjelasan dan batahan terhadap pertanyaan dan argumen yang sering diucapkan oleh orang-orang yang tidak percaya vaksi dan lebih memilih percaya hoaks dan teori-teori konspirasi:

Q: Pola hidup dan makanan sehat cukup untuk menghindari Covid, tidak perlu vaksin. Benarkah?

A: Betul memang semakin imun kita kuat, semakin kebal kita dari virus. Tapi tidak semua virus, bakteri, atau parasit lain bisa dicegah hanya dengan pola makan sehat. Mau kita sesehat apapun, kalau terpapar virus rubella, HIV, hepatitis, ebola, polio, dll kita bisa tetap kena.

Q: Saya punya hak untuk tidak menerima vaksin. Kalau tidak mau, tidak sah memaksa. Benar?

A: Jika anda hidup sendirian di pulau tanpa orang lain, mungkin betul vaksinasi itu adalah hak/pilihan pribadi. Tapi kita hidup berdampingan dengan orang lain.

Apalagi di pulau Jawa, penduduk sangat padat. Jadi, vaksinasi itu bukan masalah kesehatan pribadi saja, tapi mencegah penularan dan membentuk herd immunity (herd immunity terbentuk jika kurang lbh 70% orang divaksin).

Dengan divaksin, kita melindungi orang lain yang tidak bisa divaksin (misal lansia, orang kelainan imun, yang menjalani kemoterapi, penderita alergi langka, dll*) agar tetap sehat. Jika mereka terlular Covid-19 dan meninggal, maka itu kesalahan para orang sehat yang memilih utuk tidak divaksin.
*๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ ๐˜ท๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ

Q: Mengapa pemerintah menghimbau semua orang yang bisa divaksin untuk divaksin? Apakah termรกsuk pelanggaran hak asasi manusia?

A: Dalam hal Covid sekarang pemerintah sebaiknya mewajibkan vaksinasi untuk melindungi orang-orang tertentu yang tidak bisa vaksin, kasihan mereka yg tidak punya pilihan. Kasihan orang yang ingin divaksin tapi tidak bisa, lansia dan orang-orang sakit yang ingin hidup.

Hanya karena egoisme orang-orang anti-vaksin yang percaya hoaks dan konspirasi, orang-orang yang benar-benar menghargai hidup bisa meninggal. Pilihanmu sebagai anti-vaksin dapat membunuh orang yang sakit dan lemah. Saya yakin di agama apapun membunuh itu perbuatan dosa, apalagi terhadap orang tua dan orang yang sakit.

Q: Vaksin itu Noaks, tidak membentuk anti-virus. Covid-19 itu hanya rumor. Benarkah?

A: Bagi yang mau percaya hoaks atau teori-teori konspirasi silahkan. Yang jelas, science itu bukan agama, science bukan untuk dipercaya. Biologi itu fakta. Jantung kita ada 1, itu fakta, tidak peduli mau percaya atau tidak.

Mau kita tidak percaya vaksin, tetap saja faktanya segelintir orang tertentu akan menjadi korban dari pilihan egois orang yang tidak vaksin. Lakukan 3M dan tolong nanti ambil vaksin jika kalian bisa divaksin. Bantu bentuk herd immunity untuk melindungi orang lain yang secara fisik tidak mampu mendapatkan vaksin.

Q: Kami tidak percaya pemerintah, karena pemerintah tidak transparan. Pemerintah hanya mengalihkan isu lain, pemerintah tidak dapat dipercaya. Benarkah?

A: Kalau yg tdk percaya pemerintah Indonesia, percayalah pd kami para ilmuwan dan tenaga medis. Ambil vaksinasi untuk melindungi nyawa ora g lain yang tidak bisa divaksin (lansia, orang kelainan imun, yang kemoterapi, dll). Atau percayalah kepada pemerintah negara lain saja yang menurut kalian terpercaya. Jutaan orang dari negara lain juga sudah divaksin.

Q: Percuma divaksin, virusnya terus bermutasi dan orang yang sudah divaksin bisa kena lagi. Jadi buat apa divaksin?

A: Betul. Tapi perlu diketahui bahwa virus tidak bisa bermutasi jika tidak ada penyebaran. Jika kita memvaksinasi cukup banyak orang, maka mutation rate virusnya akan melambat. Lama-kelamaan maka pandemi Covid akan bisa selesai. Maka dari itu, vaksinasi bukan solusi instan, harus tetap 3M sampai herd immunity terbentuk.

Q: Jika telah divaksin dan sudah imun terhadap Covid, kenapa kita teap harus memakai masker dan menjaga jarak?

A: Jika tujuannya hanya untuk proteksi diri sendiri, tidak usah pakai masker. Tapi tidaklah sebaiknya kita juga menyelamatkan orang lain yang tidak bisa divaksin (misal lansia, orang kelainan imun, yang menjalani kemoterapi, penderita alergi langka, dll)? 3M harus tetap dilakukan sampai herd immunity terbentuk (kurang lebih saat 70% orang telah divaksin).

Vaksinasi itu bukan masalah kesehatan pribadi saja, tapi mencegah penularan dan membentuk herd immunity. Vaksinasi dan 3M bukan hanya menyelamatkan diri sendiri, tapi juga membantu orang lain yang membutuhkan perlindungan.

Q : Segala senyawa kimia buatan yang masuk ke tubuh dapat menimbulkan efek, besar atau kecil. Vaksin dapat menimbulkan efek samping yang bisa membahayakan tubun. Benar?

A: Benar. Segala hal yang masuk ke dalam tubuh pasti ada efeknya. Dalam hal vaksinasi, tujuan dari vaksinasi adalah memberikan efek positif bagi tubuh, yaitu memberikan imunitas. Untuk efek samping yang negatif, itu benar bisa terjadi, tapi bukan dalam hal vaksin saja.

Makanan sehat bertujuan menyehatkan tubuh. Tapi bagi segelintir orang (sangat sedikit) yang memiliki alergi langka tertentu atau kelainan genetic tertentu, makanan seperti tomat, kacang, susu, seafood, bisa sangat berbahaya/ mematikan. Sekali lagi, sangat jarang. Sama halnya dengan semua obat dan vaksin.

Q: Vaksin mungkin dapat menyelamatkan manusia dari Covid dan mengakhiri pandemi, tapi kelak keselamatannya bisa terancam oleh efek samping vaksin. Apakah worth it?

A: Iya. Pandemi Covid merupakan prioritas utama pada saat ini. Coba baca analogi di bawah ini agar dpt memahami lebih mudah dan jelas.

Orang yang pingsan dan tidak bernafas dengan baik, harus diberi cardiopulmonary resuscitation (CPR) agar jantung terus memompa darah dan otak tidak kekurangan oksigen. Itu prioritasnya. Ada efek dari prosedur CPR, antara lain tulang rusuk retak/patah.

Walaupun sudah retak, proses CPR tetap harus dilakukan sampai ambulan datang dengan tabung oksigen dan defibrilator. Rusuk retak bisa diobati nanti, tapi jika CPR tdk dilakukan, maka orangnya pasti 100% akan mati.

Jika itu terlalu ekstrem (100% akan mati) coba saya beri contoh yang lain. Jika orang mengalami kecelakaan mobil parah dan orangnya tak sadarkan diri di dalam mobil, kita harus menolong untung menjauhkan korban dari kendaraan tersebut. Kecelakaan mobil yang parah, memiliki risiko terbakar atau ledakan kecil, katakanlah 70%.

Tapi, di sisi lain, memindahkan korban kecelakaan seperti itu bisa memperparah cidera (jika ada), terutama pada tulang punggung. Dengan menyelamatkan korban dari api, ada risiko korban jadi lumpuh atau meninggal, katakanlah 2%.

Di sini, memindahkan korban ke area yang lebih aman adalah prioritas, daripada khawatir tentang kelumpuhan atau kematian akibat dipindah.

Q: Saya sudah terkena Covid dan sembuh. Bukankah saya sudah minum dan memiliki “anti-virus”? Apakah masih harus divaksin lagi?

A: Bagus kalau sudah sembuh, selamat. Betul Anda sudah imun dan memiliki “anti-virus”, tapi tidak bisa dibilang lebih kuat daripada vaksin. Perlu diketahui virus terus bermutasi. Anda masih bisa terkena virus dengan “strain” baru. Jadi lebih baik tetap divaksin. Dengan kata lain, lebih baik “anti-virus”nya di-update dengan versi terbaru.

Q: Mengapa negara yang memproduksi vaksin tertentu, juga impor vaksin dari negara lain? Apakah vaksin dari negara tersebut jelek?

A: Tidak semua merek vaksin memiliki kelebihan dan kekurangan yang sama. Contohnya, misalkan vaksin yang lebih mudah didistribusikan (misalnya tidak perlu suhu -50 C untuk menjaga agar tetap bagus), mungkin tidak bisa digunakan untuk orang dengan kelainan genetik tertentu. Contoh trade-offs lain, misalnya, harga yang leh mahal bisa digunakan untuk para lansia, sedangkan yang lebih murah tidak.

Dari contoh trade-offs faktor-faktor demikian (usia penerima, metode pengiriman, harga, strain virus di lokasi, dll), sebuah negara sangat mungkin untuk mengkolaborasikan merek-merek vaksin yang digunakan sesuai dengan kebutuhan negara tersebut. Dengan demikian, herd immunity dapat lebih cepat terbentuk.

Q: Mau Bagaimana pun juga, saya tetap tidak mau divaksin.

A: Sama halnya seperti merokok, atau nyetir dengan keadaan mabuk. Karena pilihan Anda, orang lain bisa turut menjadi korban jiwa. Kalau orang normal harusnya bakal merasa berdosa ya membunuh orang lain secara tidak langsung. Mungkin kalau Anda beda.

TINGGALKAN PESAN

ketik komentar anda
Masukkan nama anda di sini