Jumat, Mei 7, 2021

2/3 distrik ritel di Asia Pasifik mengalami penurunan harga sewa di 2020

Must read

Sektor ritel di Tiongkok Daratan merupakan daerah dengan penurunan terendah di kawasan ini

Dua pertiga distrik ritel di Asia Pasifik mengalami penurunan harga sewa pada tahun 2020, dengan Causeway Bay di Hong Kong mengalami penurunan paling tajam sebesar 43%, menurut laporan Main Streets terbaru Cushman & Wakefield.

Namun, sektor ritel di Tiongkok Daratan mengalami penurunan paling sedikit di antara semua distrik di kawasan ini, dengan penurunan sewa rata-rata sebesar 5%.

Berbeda dengan Beijing Central Business District (CBD) yang mengalami penurunan sewa sebesar 14% pada tahun 2020, distrik Luohu di Shenzhen mengalami pertumbuhan sewa tertinggi sebesar 5%. Terlepas dari itu semua, sedikit perubahan yang terjadi dalam susunan peringkat harga sewa di seluruh Asia Pasifik, dengan tiga kota paling mahal untuk ritel tetap diduduki oleh Hong Kong, Tokyo dan Sydney.

“Penyebab utama hal ini adalah penyesuaian operasional karena Covid-19, seperti penutupan perbatasan internasional, lockdown, dan diterapkannya praktik kerja dari rumah hampir menyeluruh di semua wilayah. Oleh karena itu, kami melihat sedikit perubahan yang terjadi dalam peringkat harga sewa di Asia Pasifik, setidaknya untuk 10 kota teratas, dengan Hong Kong, Tokyo, Sydney, Seoul, dan Osaka tetap mempertahankan dominasinya di urutan teratas,” kata Dr. Dominic Brown, Head of Insight & Analysis, Asia Pacific at Cushman & Wakefield.

“Di ujung lain spektrum, pasar India sangat menonjol, menempati empat lokasi paling murah di kawasan ini. Sebagai perbandingan, harga sewa di Tsim Sha Tsui, Hong Kong hampir 80 kali lebih mahal daripada Banjarra Hills di Hyderabad.”

Peringkat Distrik ritel termahal berdasarkan harga sewa pada Q4 2020 (USD/sqft/tahun)

  1. Hong Kong, Tsim Sha Tsui, $1,607
  2. Tokyo, Ginza, $1,223
  3. Sydney, Pitt Street Mall, $974
  4. Seou,l Myeongdong $930
  5. Osaka, Shinsaibashisuji/Midosuji, $805 
  6. Shanghai, West Nanjing Road, $600
  7. Beijing, CBD, $500
  8. Nanjing, Xinjiekou, $470
  9. Melbourne, Bourke Street, $422 
  10. Singapore, Orchard Road, $421 

Tren Ritel

Bangkitnya lokalisme – Pembeli menjadi lebih mendukung bisnis lokal untuk membantu mereka bertahan melewati pandemi. Dalam survei global tahun 2020 yang dilakukan terhadap 8.000 konsumen oleh Rakuten Advertising, 50% rumah tangga menjawab bahwa mereka telah berbelanja lebih banyak dari bisnis lokal.

Selain itu, konsumen di Asia Pasifik lebih cenderung untuk menghindari melakukan pembelian online secara internasional, hal ini menunjukkan preferensi mereka untuk membelanjakan uang mereka di dalam negeri.

Pertumbuhan e-commerce – Pandemi telah mempercepat pertumbuhan ritel online karena lockdown dan pembatasan sosial yang telah mendorong pembeli beralih ke platform digital. Untuk kawasan Asia Pasifik, yang menjadi kawasan haus digital, pertumbuhan e-commerce tidaklah mengherankan.

Kawasan ini mempunyai 64% pangsa e-commerce global senilai USD2,5 triliun dari nilai total global sebesar USD3,9 triliun, menurut e-marketer.

Pandemi juga telah mengubah sektor ritel barang mewah ke pangsa pasar pembelian online, yang meningkat dari 12% pada 2019 menjadi 23% pada 2020, menurut Bain & Company.

Namun, masih terlalu dini untuk mengetahui apakah perubahan ini sementara atau awal dari adopsi ritel online barang-barang mewah yang lebih luas.

Konsumen barang mewah umumnya lebih memilih membeli di dalam toko untuk menikmati layanan berkualitas tinggi yang menyertainya, akan tetapi kehadiran pemasaran omni-channel yang berkembang pesat akan sangat berdampak pada evolusi sektor ritel barang mewah.

Melihat ke depan

Sektor ritel menghadapi beberapa hambatan siklus dan struktural yang paling signifikan dari semua sektor real estat; beberapa di antaranya telah terjadi sebelum COVID-19, sementara yang lain terjadi sebagai akibat dari pembatasan ketat pada mobilitas populasi. Hal ini memiliki dampak pada distrik ritel kelas atas.

Tampaknya distrik ini tidak akan segera kembali ke kinerja sebelum COVID karena lambatnya pemulihan perjalanan internasional, tetapi pada saat yang sama, tidak berarti akan menghilang dan menjadi tidak relevan.

Perkembangan peluncuran program vaksin secara global dan “kembali normal” secara bertahap juga akan berkontribusi pada pemulihan sektor ritel secara keseluruhan. Untuk sektor ritel, dalam waktu dekat ini, terjadi percabangan dalam cara berbelanja konsumen; dengan konsep mengutamakan nilai yang terus berkembang dan ritel barang mewah yang pulih lebih cepat.

Menyusul krisis keuangan global 2008, ritel barang mewah global secara umum pulih dalam rentang waktu 12 hingga 18 bulan. Ini terbukti dari keadaan China pada tahun 2020, hal ini seharusnya bisa memberikan rasa optimisme untuk sektor ritel barang mewah.

Dengan tetap berfokus pada masalah dan kesulitan yang terjadi saat ini, sebaiknya kita tidak lalai untuk memperhatikan peluang jangka panjang. Selama dekade berikutnya, ekonomi regional Asia Pasifik akan terus melampaui bagian dunia lainnya dan tumbuh dari 36% menjadi 40%. Kelas menengah diperkirakan akan membengkak lebih dari 1,5 miliar pada periode yang sama.

Tren ini didukung dengan fakta bahwa banyak pasar di seluruh kawasan, terutama di Asia Tenggara, tetap kekurangan ruang fisik ritel, yang menggaris bawahi peluang di luar kondisi yang dipengaruhi oleh COVID-19 saat ini.

“Tren pemulihan pasar secara bertahap juga diharapkan terjadi di Indonesia, karena meskipun bukan negara produsen vaksin, pelaksanaan program vaksin di Indonesia termasuk di antara negara-negara dengan persentase tertinggi populasi yang telah divaksin, dan pencapaian tersebut telah menunjukkan dampak pada pengembalian trafik pelanggan ke pusat-pusat ritel secara bertahap,” kata Lini Djafar, Managing Director, Cushman & Wakefield Indonesia.

Mengenai Cushman & Wakefield

Cushman & Wakefield (NYSE: CWK) adalah perusahaan jasa real estat global terkemuka yang telah memberikan nilai tambah kepada pemilik dan penghuni real estat. Cushman & Wakefield merupakan salah satu perusahaan jasa real estat terbesar dengan sekitar 50.000 pegawai yang tersebar di 400 kantor pada 60 negara.

Pada 2020, perusahaan ini tercatat memiliki penghasilan sebesar 7.8 milyar USD dari jasa utamanya di bidang properti, pengelolaan fasilitas dan proyek, penyewaan, pasar modal, penilaian, dan jasa lainnya. Untuk mengetahui lebih lanjut, kunjungi cushmanwakefield.com atau ikuti @CushWake di Twitter.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article