Selasa, Juli 27, 2021

Mis-informasi, dis-informasi, mal-informasi. Apa bedanya?

Must read

Webinar literasi digital gelaran Kementerian Kominfo dan Debindo, kali ini mengusung tema ”Sadar terhadap Bahaya Disrupsi Digital”. Diselenggarakan untuk masyarakat Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, 16 Juni lalu, webinar yang dimulai pukul 09.00 WIB ini dipandu oleh entertainer Zacky Ahmad selaku moderator.

Berlangsung 2,5 jam, diskusi daring ini menghadirkan narasumber utama A. Zulchaidir Ashari (Kaizen Room), Saefuddin A. Syahfi (dosen UIN Prof. Saifudin Zuhri Purwokerto), Eka Y. Saputra (Web App Developer – Konsultan Teknologi), Mathori Brilliant (aktor LO Hakim) dan Nindy Gita (Professional Public Speaker) sebagai key opinion leader.

Kegiatan ini, kita tahu, merupakan bagian dari Program Literasi Digital Nasional: Indonesia Makin Cakap Digital yang telah dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo pada 20 Mei 2021 lalu.

Dalam paparannya, Saefuddin A. Syafii antara lain memaparkan, di era kemajuan digital para pengguna perlu memahami yang disebut dengan Mis-informasi, Dis-informasi, dan Mal-informasi

“Mis-informasi merupakan informasi salah, namun tidak sengaja dibuat untuk membuat kekacauan,” kata Saefuddin. Berbeda dengan Dis-informasi yang merupakan informasi salah namun sengaja dibuat untuk membuat kekacauan.

“Yang paling membahayakan adalah Mal-informasi. Yakni, peristiwa yang benar terjadi namun sengaja digunakan untuk membuat kekacauan, seperti disorot besar-besaran,” ujarnya.

Konten yang memuat Mis-informasi, Dis-informasi, dan Mal-informasi ini begitu mudah dijumpai di media sosial dalam beragam bentuk.

Saefuddin menggambarkan minat atau ketertarikan pengguna digital turut mengatur apa yang akan disodorkan ruang digital itu kepadanya sesuai minat yang disukainya.

Ia mengambil contoh cara kerja atau algoritma media sosial Instagram.

Algoritma Instagram sendiri merupakan serangkaian aturan atau kalkulasi yang dipergunakan untuk memecahkan masalah dan memberikan hasil yang diinginkan. Di media sosial, algoritma digunakan untuk menyampaikan konten kepada penggunanya.

“Ada setidaknya enam faktor penting yang dapat mempengaruhi algoritma Instagram 2021 untuk feeds,” kata Saefuddin.

Pertama yakni Minat (Interest). Feeds Instagram yang muncul di beranda tidak hanya berdasarkan pada orang yang diikuti, tetapi juga berdasarkan akun dan jenis postingan yang pernah disukai secara historis. Semakin sering algoritma Instagram berpikir Anda akan “menyukai” jenis postingan tertentu, maka semakin tinggi postingan itu akan muncul di beranda Instagram Anda.

Karena itu, konsisten tampil di Instagram sangat penting karena itu akan membantu memberikan sinyal positif ke algoritma Instagram dan memberi audiens lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan konten dari brand Anda.

Kedua, Hubungan (Relationship). Algoritma Instagram memprioritaskan postingan dari teman, keluarga, dan akun yang Anda pedulikan. Agar Instagram menunjukkan apa yang benar-benar Anda inginkan, algoritma menggunakan interaksi Anda untuk mengumpulkan siapa yang paling dekat dengan Anda.

Ketiga, Rentang Waktu (Timeliness). Algoritma Instagram tidak hanya memperhatikan seberapa banyak engagement yang didapat pada postingan Instagram Anda, tetapi juga melihat berapa lama foto itu diposting. Hal ini karena Instagram selalu ingin memberikan para penggunanya postingan terbaru dan paling menarik.

Keempat, Frekuensi (Frequency). Jika Anda sering scrolling postingan – postingan yang muncul di beranda Instagram Anda, feeds pada beranda akan terlihat lebih kronologis, karena Instagram mencoba menampilkan postingan terbaik sejak kunjungan terakhir. Namun jika Anda lebih jarang memeriksa aplikasi Instagram, feeds Anda akan disortir menurut algoritma Instagram yang mungkin Anda sukai, bukan secara kronologis.

Kelima, akun yang diikuti (Following). Jika Anda mengikuti banyak orang, maka Instagram memiliki lebih banyak opsi untuk dipilih. Jadi, Anda mungkin tidak akan melihat semua kiriman dari setiap akun. Kemudian, mungkin ada baiknya menghapus followers yang tidak aktif atau “ghost followers” secara sistematis. Jika sebagian besar dari pengikut Anda tidak aktif.

Oleh sebab itu, penting untuk sesekali melakukan pengecekan pada following dan followers brand Anda di Instagram, lalu menghapus mereka yang sudah tidak aktif.

Keenam, Usage (Penggunaan). Jika Anda banyak menghabiskan waktu di Instagram, maka Anda akan melihat lebih banyak postingan saat Instagram hingga seperti membaca katalog.

Di sesi lain, Eka Y. Saputra selaku Web App Developer – Konsultan Teknologi mengatakan, lawan dari disrupsi adalah inovasi.

“Disrupsi ditandai dengan penggantian pembaruan total, bersifat menyeragamkan serta sulit diadopsi dan ditinggalkan,” kata dia.

Adapun inovasi ditandai dengan perbaikan, penyempurnaan, menambah ragam, dan cepat diadopsi/ditinggalkan.

Sekadar informasi, di wilayah Kabupaten Karanganyar, Kementerian Kominfo akan menyelenggarakan berbagai kegiatan Webinar Literasi Digital: Indonesia Makin Cakap Digital selama periode Mei hingga Desember 2021.

Kegiatan Webinar Literasi Digital ini bertujuan mendukung percepatan transformasi digital, agar masyarakat makin cakap digital dalam memanfaatkan internet demi menunjang kemajuan bangsa.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article