Selasa, September 21, 2021

Menghentikan gugurnya tenaga kesehatan

Must read


Oleh Eddy Herwanto

“…Dan tidak dipanjangkan umur seseorang, dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan} dalam Kitab (Lauh Mahfuz). Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah”. (Fatir 11)

Jadi pemandangan memilukan saat sebuah mobil ambulan yang membawa jenazah seorang perawat bergerak diiringi isak tangis dan taburan bunga dari barisan tenaga kesehatan (nakes). Upacara pemakaman seperti itu, setelah dishalatkan di halaman rumah sakit, hampir terjadi setiap hari di banyak kota di Indonesia. Bergugurannya nakes, garda terdepan perang melawan Covid-19 itu, mengindikasikan usaha menghentikan penyebaran Covid-19 sangat berat..

Dari hari ke hari sejak Covid-19 dinyatakan sudah masuk Indonesia pada 2 Maret 2020, jumlah nakes yang terpapar, dan kemudian meninggal cenderung bertambah – sekalipun sebagian besar di antaranya sudah menerima vaksin Sinovac dua kali. Serangan Covid-19, menyebabkan Indonesia banyak kehilangan guru besar, dan dokter spesialis senior yang berpengalaman, dokter umum, dokter gigi dan perawat.

Sampai 26 Juli 2021 sejak Maret 2020, LaporCovid19.Org mencatat 1.515 nakes: 545 dokter (dengan 159 dokter spesialis per 1 Juni) dan 494 perawat gugur karena Covid-19.

Selain itu ada bidan (243), apoteker (47),dokter gigi (46), ATLM/ahli tenaga lab.medis (43), petugas ambulans (3), terapis gigi (3), sanitarian (5), epidemiolog (3), dan lain lain profesi pendukung fasilitas kesehatan. Kematian terbanyak nakes terjadi di Jawa Timur: sejak Maret 2020 sampai 26 Juli 2021 tercatat 485 nakes – 149 perawat, dan 275 dokter, 5 tenaga lab dan petugas. Kelelahan karena beban kerja melampaui batas ketahanan manusia akibat membanjirnya pasien lepas libur Iedul Fitri 2021 menjadi pemicu utama gugurnya para nakes yang berada di garda terdepan.

Benar, sebagian besar nakes tersebut sudah dua kali mendapat vaksin Sinovac. Tapi jika setiap hari selama lebih dari 8 jam kerja tanpa jeda dibungkus APD mereka harus menangani pasien di ruang UGD, ICU, ruang perawatan, bahkan juga di tenda lapangan, kursi roda dan mobil serta ambulans, mereka pasti akan kelelahan dan rentan terpapar virus Covid-19. Dokter paling tahu bahaya Covid-19, dan risikonya, namun karena panggilan kemanusiaan dan sumpah profesi, mereka harus berjibaku dengan maut. IDI mencatat 20 dokter dan 10 perawat wafat sekalipun sudah dua kali divaksin Sinovac.

Cerita pilu di lapangan itu kemudian mendorong pemerintah melakukan vaksinasi ketiga sebagai penguat (booster) pembentukan antibody kepada para nakes dengan vaksin yang memiliki kemanjuran (efikasi) di atas 95% seperti produksi Moderna dari Amerika. Vaksinasi ketiga dengan vaksin Moderna dimulai secara simbolis di Rumah Sakit Tjipto Mangunkusumo (Jakarta) atas 50 guru besar Fak Kedokteran UI yang selama ini menangani pasien berat Covid-19 pada 16 Juli 2021.

Vaksin Moderna yang disuntikan kepada para guru besar itu merupakan bagian dari 3.000.060 dosis Moderna yang tiba pada 11 Juli, kemudian disusul 1.500.100 lagi. Kiriman vaksin itu merupakan bentuk komitmen Amerika membantu melalui jalur multilateral Covax Fasilities.

Covax didirikan terutama sebagai bentuk kerjasama negara industri menolong negara berkembang yang terdampak pandemi Covid-19. Segera setelah diterima, vaksin Moderna yang harus disimpan di dalam boks minus 20 derajat Celcius segera didistribusikan ke pelbagai rumah sakit dan pelayanan kesehatan.

Kecepatan pemberian vaksin ketiga bagi para nakes itu diharapkan bisa memperkuat antibody mereka melawan virus Covid-19 yang bermutasi sangat cepat dengan varian baru yang penyebaran virus corona (lebih kecil dari 5 micron) melalui aerosol, tidak lagi melulu dengan droplet. Selain lebih gampang menular, varian Delta, misalnya, bisa menginfeksi tanpa menimbulkan gejala seperti pendahulunya, varian Alfa. Masa inkubasi varian Delta juga disebut lebih singkat. Terlambat menangani pasien yang terinfeksi bisa menyebabkan kematian.

Pemerintah juga menyadari usaha membangun kekebalan kolektif dengan vaksinasi besar-besaran – dengan melibatkan seluruh infrastruktur Kesehatan, bahkan TNI dan Polri – seolah jadi perlombaan lari melawan kecepatan mutasi virus Covid-19. Bayangkan sejak Covid-19 meledak di Cina pada Desember 2019, hingga Juli sudah ditemukan sedikitnya lima varian baru Covid-19.

Karenanya penguat booster perlu cepat diberikan terutama untuk tenaga nakes, selain untuk menangkal penularan varian baru, juga mengingat kemanjuran vaksin kedua akan menurun setelah tiga bulan pemberian vaksin kedua.

“Setelah enam bulan, efikasi itu menurun signifikan,” kata Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fak.Kedokteran UI Samsuridjal Djauzi, dalam webinar 23 Juli 2021 seperti dicatat koran Kompas 24 Juli 2021.

Menurut Sjamsuridjal, mengutip publikasi Nature Medicine pada 2021, vaksin dengan efikasi di atas 95% bertahan pada efikasi 77% setelah 250 hari pemberian dosis kedua pendahulunya (Sinovac). Pada vaksin dengan efikasi 70% turun 33% setelah 250 hari. Kemanjuran vaksin Sinovac seperti diketahui hanya 65,3%. Vaksin penguat akan memberikan perlindungan memadai dalam menangkis serangan virus varian baru.

Jika semua nakes sudah mendapat vaksin Moderna sebagai penguat, kita harapkan tidak terjadi lagi nakes yang gugur, juga diharapkan membaiknya fasilitas kesehatan dan tambahan nakes serta sukarelawan bisa mengurangi beban berlebih para nakes.

Pemandangan memilukan melepas nakes di halaman rumah sakit semoga tidak akan terlihat lagi. Indonesia sehat, nakes bisa beristirahat bersama keluarga.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article