Selasa, September 21, 2021

Wujudkan ketahanan nasional dan nasionalisme lewat produksi konten

Must read

Ketahanan nasional adalah kondisi dinamik bangsa Indonesia yang meliputi segenap aspek kehidupan nasional yang terintegrasi. Di dalamnya berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional. Tidak hanya dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam, namun juga untuk menjamin identitas, integritas, kelangsungan hidup bangsa dan negara, serta perjuangan mencapai tujuan nasional.

”Adapun era digital mengacu pada masa ketika informasi mudah dan  cepat diperoleh serta disebarluaskan dengan teknologi  digital,” kata dosen Magister Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur Jakarta Denik Iswandani Witarti saat menjadi pembicara dalam webinar literasi digital bertajuk ”Transformasi Digital sebagai Wujud Ketahanan Nasional” yang digelar Kementerian Kominfo untuk masyarakat Kota Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (8/9/2021).

Denik mengatakan, aktivitas digital yang berupa searching, vlogging, posting, blogging, comment, like, share, selain untuk menunjukkan hal-hal yang positif, sebaiknya juga diarahkan untuk penguatan toleransi beragama maupun nasionalisme dalam rangka mewujudkan ketahanan nasional.

”Saya sangat suka dengan video postingan Hotman Paris saat melayat mendiang Gus Sholah. Dia nampak duduk tenang bersila di belakang barisan para pelayat yang sedang melaksanakan ibadah salat. Itulah toleransi!” kata Denik kepada 150-an partisipan webinar.

Selain mewujudkannya dalam bentuk toleransi beragama, ketahanan nasional bisa juga diwujudkan dengan menanamkan jiwa nasionalisme dengan cara memproduksi konten sebagaimana yang dilakukan anak-anak muda yang menyanyikan lagu Kebyar-kebyar, misalnya. ”Begitu juga kebanggaan dalam penggunaan bahasa Indonesia maupun tetap memilih menggunakan kain batik saat berkunjung ke luar negeri,” sebut Denik.

Denik berpendapat, nasionalisme untuk memupuk ketahanan nasional di bidang ekonomi yakni dengan membantu para pedagang kecil tetap membuat makanan khas daerah. “Dalam seni budaya, nasionalisme juga bisa berupa memperkenalkan karya seni budaya bangsa sendiri dalam pertunjukan di luar negeri,” ungkap Denik.

Di akhir paparannya, Denik meminta para pengguna digital untuk waspada terhadap ancaman dunia maya seperti perundungan (cyber-bullying, radikalisme dan terorisme, hoaks, dan polarisasi masyarakat. ”Jika garuda di dadamu, maka garuda juga di postinganmu,” tegas Denik mengakhiri paparan.

Narasumber lain dalam webinar ini, direktur Indotrust Surakarta Purwanto menyatakan, keamanan digital (digital safety) sama dengan ketahanan nasional. Tantangan ketahanan nasional di era global bersifat kompleks, yakni mencakup tantangan ketahanan di bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan.

”Ketahanan nasional di era global harus tetap bersifat terbuka terhadap berbagai kemajuan dalam bidang teknologi, informasi, komunikasi, dan transportasi akan tetapi tetap harus selektif,” ujar Purwanto.

Menurut Purwanto, ketahanan nasional di era global juga tetap harus dapat memainkan perannya dalam upaya mewujudkan generasi emas tahun 2045 sebagai generasi energik, aktif, kreatif, inovatif, peduli, berperadaban, siap menghadapi tantangan, tidak mudah menyerah, cerdas, tangguh, trengginas, berbudaya dan memiliki pola pikir global yang komprehensif dan integral dalam memandang wilayah NKRI.

Guna menghadapi tantangan global menyongsong generasi emas tahun 2045, lanjut Purwanto, maka harus dapat menciptakan ketahanan nasional yang mantap, yakni ketahanan nasional yang memiliki keuletan dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan global yang kompleks dan harus disertai dengan dibangunnya sikap positif warga negara.

”Hindari sikap negatif warga negara dalam pembangunan nasional di segala aspek dan bidangnya. Dalam bidang keamanan siber perlu peningkatan teknologi serta kesiapan dalam transformasi database. Di bidang pertahanan, melalui upgrade dan penerapan teknologi terkini,” jelas Purwanto.

Webinar yang dipandu oleh moderator Nindy Gita itu, juga menghadirkan narasumber M. Nur Arifin (peneliti dan antropolog), Dwi Hernuningsih (Dewan Pengawas LPP RRI), dan Fadhil Achyari selaku key opinion leader.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article