Selasa, Oktober 19, 2021

Manifesto Hendrix

Must read

Oleh Idrus F. Shahab

Jimi Hendrix. Umurnya 27 tahun, bandananya merah, gitarnya putih, giginya putih, menggoreskan sesuatu yang tak bisa dihapuskan dari catatan sejarah kontemporer Amerika Serikat hingga kini.

Di kota kecil Bethel, New York, fajar belum lama menyingsing ketika ia naik panggung pada hari ketiga pesta musik pop terbesar abad 20: Woodstock 1969. Ada sejumlah nama besar yang juga muncul di hadapan ratusan ribu mata penonton pada pertengahan bulan Agustus 1969 itu: the Who, the Grateful Dead, Joan Baez, Ravi Shankar, Blood Sweat and Tears, Credence Clear Water Revival, dan banyak lagi.

Tapi tampaknya Hendrix lah bintang yang paling mencorong pada hari penutup festival itu. Semua seakan menyibak, memberi jalan kepadanya, termasuk kelompok musiknya sendiri, The Jimi Hendrix Experience, yang seolah menempatkan diri sebagai sebuah kanvas putih yang siap dicoret, dilukis sang maestro.

Sambil sesekali ditemani bunyi simbal dan drum, ia membawakan The Star Spangled Banner, lagu kebangsaan Amerika, dengan cara yang belum pernah dilakukan orang sebelumnya. Dan semua seakan berjalan baik-baik saja, sampai akhirnya musik memasuki bagian reffrain, dan Hendrix membuat lagu yang diciptakan Francis Scott Key pada 1814 ini jadi miliknya seorang.

Terus terang, dibanding permainannya yang istimewa kala membawakan All Along with Watchtower atau Purple Haze, ini bukan permainan terbaiknya. Tapi inilah permainan yang spektakuler.

Aneka bunyi disonan menyebar hampir di setiap bar pada bagian ini, dan lihatlah, tanpa beban ia menyeberang dari satu ekstrem ke ekstrem yang lain. Musik yang merupakan simbol identitas bangsa Amerika itu sekonyong-konyong melengking, melolong-lolong manakala jemarinya yang hitam menjelajahi nada-nada tertinggi yang bisa diraih sebuah gitar elektrik.

Dalam hitungan detik musik yang tadinya berada di puncak nada-nada tertinggi itu tiba-tiba terjun bebas. Gitar di tangannya keudian mengeluarkan nada-nada rendah, sangat rendah, dan ini menimbulkan efek luar biasa: musik terdengar seperti suara orang berteriak-teriak, makin lama makin parau dan akhirnya menggeram keras layaknya binatang buas.

Mungkin inilah tafsir paling liar terhadap lagu kebangsaan itu. Ada beraneka tanggapan yang muncul setelah pertunjukan di Woodstock 1969 itu: dari orang-orang yang merasa tersinggung berat atas kelancangan Jimi memelesetkan Star Spangled Banner sedemikian rupa, hingga yang mendukung, seraya menyamakannya dengan sebuah manifesto politik. Suatu kritik terhadap patriotisme Amerika yang salah kaprah –misal keterlibatannya dalam Perang Vietnam—waktu itu.

Hendrix sendiri hanya berkomentar pendek dalam sebuah wawancara televisi. Menyatakan tak berniat melecehkan, ia memuji lagu Star Spangled Banner. “Itu lagu yang indah,” katanya.

Pernyataan ini cepat melunakkan hati para pengeritiknya yang paling vokal, sekaligus mendongkrak ketenarannya lebih tinggi lagi. Dan Hendrix akhirnya memang tidak pernah turun dari puncak tersebut.

Bahkan ia tak pernah beranjak tua di titik itu: rambut kribonya tak kunjung memutih, kulitnya tak berkeriput, perutnya tak membuncit sebagaimana rekan-rekannya dari generasi baby boomer (lihatlah Eric Clapton atau Elton John).

Pada 18 September 1970 Jimi ditemukan tewas di Hotel Samarkand, London. Diketemukan narkoba di dalam darahnya, tapi spekulasi mengenai penyebab kematiannya tak pernah berakhir ketika dokter menjumpai anggur merah dalam volume yang susah dipercaya dalam tubuhnya.

Ya, sampai hayatnya berakhir pun Jimi tak pernah berhenti jadi topik pembicaraan.

Kematian Jimi –bersama Janis Joplin, Jimmy Morrison, Brian Jones, juga Kurt Cobain– seolah manfesto politiknya yang kedua setelah Star Spangled Banner-nya yang legendaris di Woodstock 1969. Mereka bagian dari generasi bunga yang menolak kemapanan dan borjuasi generasi sebelumnya.

Jimi dan kawan-kawan berkeyakinan bahwa orang-orang yang usianya sudah mencapai 30 tahun adalah para konformis– orang-orang yang telah berkompromi dengan masyarakat yang telah terpolusi oleh nilai-nilai borjuis. Jimi, tak seperti rekan-rekannya seperti Eric Clapton atau pun Elton John kini, tak pernah jadi tua atau pun mapan.

Namun Jimi tak pernah tahu bahwa zaman telah berubah banyak, dan para seniman rock yang mati muda (baca: Janis, Brian, Kurt yang masuk kelompok 27, yaitu mereka yang mati muda pada pucuk popularitasnya) kini telah menjadi komoditas yang tak kunjung habis dijual. Termasuk dirinya. Dalam website resmi Jimi Hendrix, ditawarkan bermacam memorabilia: dari vas bunga bergambar Jimi hingga lilin-lilin pajangan.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article