Selasa, Oktober 19, 2021

Peran vital perempuan sebagai agent of change era digital

Must read

Digital Media Strategist Eko Nuryono menyebut perempuan adalah agent of change di era digital ini. Di lingkungan terkecil keluarga, peran perempuan sebagai agen perubahan era digital pun tak terelakkan. 

“Ketika banyak nilai-nilai asing masuk dan menggeser nilai-nilai lokalitas yang bisa mempengaruhi anak, perempuan yang menjadi garda terdepan membimbingnya agar generasi muda tak terlepas dari akarnya,” kata Eko saat menjadi pembicara webinar literasi digital bertema ”Pemanfaatan Teknologi Digital dalam Menunjang Produktivitas Perempuan” yang digelar Kementerian Kominfo untuk masyarakat Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, Senin (9/8/2021).

Sebagai agen perubahan era digital, lanjut Eko, perempuan berperan membawakan pengaruh positif bagi anak yang menghadapi derasnya arus informasi dari layar gadgetnya. 

Maraknya penggunaan gawai sudah bukan hal aneh lagi pada anak-anak saat ini meski hal itu cukup mengkhawatirkan, mengingat banyaknya bahaya yang mengancam anak sebagai generasi penerus bangsa. 

“Perempuan vital perannya mendampingi anak dan memberi perlindungan bagi mereka di era digital ini. Perempuan harus bisa mendidik anak sesuai dengan perkembangan zaman, mempersiapkan anak untuk menghadapi era digital yang penuh manfaat sekaligus tantangan,” ujar Eko. 

Eko menuturkan, kaum perempuan di era digital ini dituntut peka membaca peluang dan ancaman yang terjadi di sekitarnya. Peluang era digital satu sisi dapat memperluas jaringan teman, media pengembangan diri dan mempermudah akses informasi.

“Namun di sisi lain era digital berpotensi memberi ancaman seperti pencurian data, cyber terorism, hacking, konten ilegal, dan cyber bulliying,” urai Eko.

Tak sedikit anak yang terjerumus dalam bahaya ketika menggunakan gawai lantaran adanya kesenjangan kemampuan teknologi antara orangtua dan anak. 

“Perempuan harus mempunyai literasi digital yang baik  dan memahami aturan di dunia digital, mampu memilah sekaligus menyampaikan konten positif dan mencegah konten negatif pada anak,” tegasnya.

Di era digital, sambung Eko, perempuan harus mempersiapkan diri dan turut mengambil peran dalam memasuki perubahan industri di era inovasi digital saat ini. Sebab perkembangan industri era digital menjadi peluang untuk dapat meningkatkan peran dan kapasitas perempuan di berbagai bidang, termasuk pembangunan, partisipasi dalam dunia kerja, politik, dan pendidikan. 

“Perempuan dapat berperan dalam menciptakan konten positif untuk memerangi hoaks, penipuan daring, perjudian online, eksploitasi seksual pada anak, perundungan siber, ujaran kebencian, juga radikalisme berbasis digital yang mengancam persatuan dan kesatuan,” tegas Eko.

Lebih jauh Eko mengatakan, dalam masa kepesatan digital ini, perempuan dihadapkan pada satu kondisi. Bahwasanya masyarakat Indonesia lebih suka mengakses informasi dan berita baru melalui video. 

Selain tampak lebih atraktif, menerima informasi melalui video online juga mendorong penonton untuk lebih memahami informasi secara nyata dan eksklusif.

“Insting manusia lebih cepat bereaksi pada sesuatu yang bergerak, karena mata kita otomatis tertarik pada sesuatu yang bergerak,” kata Eko. Selain itu membaca lebih melelahkan daripada menonton video.

Narasumber lain dalam webinar itu, Sekretaris PC Muslimat NU Gunung Kidul Retno Ningsih mengatakan, perempuan di era kini mesti memahami budaya digital.

“Media sosial hadir sebagai penanda transformasi budaya digital dan menjadi bagian proses globalisasi. Soal transformasi ini yang perlu diikuti oleh kaum perempuan agar selalu uptodate,” kata Retno.

Retno menambahkan, globalisasi seringkali dikatakan telah menimbulkan fenomena yang disebut universalitas. Hal ini ditandai dengan munculnya media sosial yang membuat semua informasi bisa didapat dengan cepat.

“Perempuan perlu mencermati, bahwa globalisasi saat ini juga membawa pengaruh pada politik identitas. Dampak turunan dari globalisasi ini tak seluruhnya baik, banyak yang mesti difilter,” kata Retno.

Webinar yang dimoderatori Harry Perdana ini juga menghadirkan narasumber dosen Sosiologi UGM M. Rahayu dan dosen STPMD ”APMD” Yogyakarta Fadjarini Sulistyowati, serta Luluk Kartika Putri sebagai key opinion leader.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article