Selasa, Oktober 19, 2021

Mana yang lebih pas untuk UMKM, marketplace atau e-commerce?

Must read

Teknologi telah memberikan manfaat besar bagi UMKM untuk berkembang pesat, khususnya dalam proses pemasaran dan penjualan produknya. Di masa pandemi seperti sekarang, proses penjualan secara online meningkat tajam karena dinilai lebih aman, mudah, efektif dan efisien. Namun, mana yang lebih pas untuk dijalankan pelaku UMKM? Marketplace atau e-commerce?

”Ada beberapa perbedaan karakter marketplace dan e-commerce yang perlu diketahui sebelum UMKM memutuskan untuk go digital,” ujar Dosen UPN Veteran Jakarta Freesca Syafitri saat menjadi pembicara dalam webinar literasi digital bertema “Transformasi Digital UMKM Untuk Menghadapi Pandemi Covid-19” yang digelar Kementerian Kominfo untuk masyarakat Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, Jumat (10/9/2021).

Dalam webinar yang diikuti 313 peserta itu, Freesca mengatakan dari sisi pengguna, marketplace punya ciri-ciri memiliki banyak penjual atau vendor, dengan model bisnis berupa business to business (B2B) dan business to customer (B2C). Sedangkan dari sisi sumber profitnya, ada biaya untuk jadi vendor premium dan space minim. Marketplace dalam proses pembayarannya tergantung kebijakan vendor marketplace itu. Pproses pengiriman barang dikirim dari tempat vendor yang terdaftar di marketplace.

”Keunggulan marketplace ini tingkat kepercayaan publik lebih tinggi karena marketplace dijamin oleh penyedianya,” kata Freesca. Di Indonesia sendiri, marketplace menjadi beberapa startup paling sukses di Indonesia, bahkan sudah mencapai status unicorn seperti Tokopedia dan Bukalapak.

Freesca menyatakan, dari sisi penggunanya, e-commerce memang sama- sama memiliki banyak penjual atau vendor tunggal, dengan ciri model bisnisnya business to customer (B2C) atau langsung ke konsumen saja. Sumber profit e-commerce keuntungannya per transaksi dan keuntungan juga iklan (opsional). Dalam e-commerce itu barang langsung oleh pemilik e-commerce ke konsumen. 

E-commerce memiliki keunggulan utama berupa transaksi langsung dengan customer untuk solusi dan kebutuhan lainnya,” kata Freesca. 

Apa pun jenis pemasaran yang ditempuh secara digital, Freesca mengingatkan agar UMKM dalam mendekati konsumen menguasai teknologi marketing digital. Misalnya, memperjelas foto dan deskripsi produk.

”Foto produk yang baik akan menarik perhatian calon customer.  Deskripsi produk harus jelas karena itu menjadi tanggungjawab penjual menjelaskan produk secara transparan,” ujarnya. 

Narasumber lain webinar ini, entrepeneur Widiasmorojati mengungkap tantangan UMKM di era digital, khususnya pada aspek personalitasnya yang berwujud pada kepuasan, egoisme tinggi, idealisme, dan kurangnya analisa. ”UMKM juga seringkali kurang pengalaman dan tidak fokus karena pencarian jati diri inilah yang menjadikan overreactedover pede dan kehilangan identitas serta target pasarnya,” kata dia.

Widiasmorojati menambahkan, profesionalitas di era digital ini berwujud pada suatu sikap yang bertujuan untuk dapat memberikan suatu bentuk tanggung jawab komitmen dan integritas khususnya pada layanan konsumen.

”Di era digital ini, UMKM perlu melakukan remediasi atau perbaikan pola pikir sikap dan perilaku mengikuti perkembangan teknologi disertai toleransi menghargai perbedaan atau perubahan kultur dan scale up keterampilan dalam membaca dan menulis berbicara juga memecahkan masalah budaya digital,” tegas Widiasmorojati.

Webinar yang dimoderatori oleh Bobby Alia ini juga menghadirkan narasumber lain seperti Muhammad Mustafid (Ketua LPPM UNU Yogyakarta). M. Sholahudin Nur Azmy (CEO Pasardesa.id) serta Cyntia Ardila selaku key opinion leader. (*)

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article