Selasa, Oktober 19, 2021

Kenali perilaku konsumen di e-market

Must read

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) kembali menggelar webinar literasi digital untuk masyarakat Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Rabu (22/9/2021). Mengusung tema ”Kreatif dan Produktif melalui E-Market di Dunia Digital”, diskusi virtual kali ini menghadirkan sejumlah narasumber yang meninjaunya dari sisi empat pilar literasi digital, yakni: digital ethics, digital safety, digital skills, dan digital culture.

Dari aspek digital ethics, Dosen Universitas Lancang Kuning (UNILAK) Pakanbaru Khuriyatul Husna berpendapat, e-market yang merupakan sistem pemasaran elektronik berbasis internet telah menjadi model transaksi jual beli masyarakat. Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat akibat pandemi Covid-19, makin melambungkan transaksi melalui e-market.

Menurut Khuriyatul, era digital mengenal setidaknya tiga jenis e-market atau toko online. Pertama, online shop, cirinya penjual menawarkan barang langsung ke pembeli, media promosi yang digunakan biasanya sosial media seperti Facebook atau Instagram. Namun ada juga yang menggunakan fasilitas webnya sendiri (tokonya sendiri).

Kedua, marketplace atau lokapasar, cirinya penjual menawarkan barang melalui sebuah situs marketplace. Beberapa marketplace Tokopedia, Bukalapak menjadi pihak ketiga dalam transaksi agar keamanan transaksi online terjamin. Ketiga, adalah e-commerce, merupakan sebuah situs khusus untuk sebuah toko online besar yang mempunyai gudang sendiri seperti Zalora, Berrybenka. Seorang penjual bisa ikut serta mempromosikan barang disini, caranya bekerjasama dengan e-commerce yang dituju.

Khuriyatul mengungkap faktor yang mempengaruhi dalam pengalaman belanja online dari sisi pengantaran (delivery), pengembalian barang (return), layanan pengiriman (shipping service). Hampir semua orang akan senang jika tahu estimasi waktu pengiriman barang, 2 dari 3 orang memilih biaya pengiriman yang paling murah, 43 persen berharap barang akan sampai dalam 2-3 hari, dan 30 persen berharap barang sampai dalam semalam.

”Pembeli sangat menghargai penjual yang memberi kemudahan atas pengembalian barang yang tidak sesuai. Bahkan, mereka cenderung akan memberitahukan kepada orang lain terkait kemudahan itu,” jelas Khuriyatul kepada ratusan partisipan webinar.

Pengungkapan faktor yang berpengaruh dalam belanja online, masih menurut Khuriyatul, diharapkan bisa menjadi gambaran dan pengalaman baik sebagai konsumen maupun produsen (jasa penjualan) dalam menjalankan bisnis online.

Berikutnya, pekerja dan pengembang media seni Tomy Widiyatno Taslim menyatakan, transaksi e-market yang terus bertumbuh dan diproyeksikan mencapai angka Rp 330,7 triliun sepanjang tahun 2021. Nilai itu meningkat dibandingkan transaksi perdagangan digital di 2020 yang tercatat sebesar Rp 253 triliun.

Tomy mengatakan, peningkatan nilai transaksi dalam perdagangan elektrik (e-commerce) berpengaruh secara signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja terutama yang tergabung dalam UMKM. Tahun ini, 17 juta UMKM telah tersambung dan melakukan perdagangan secara online. 

”Tahun 2022 diperkirakan ada 26 juta jumlah pekerjaan (UMKM) yang didukung e-commerce, yakni 17 juta pemilik dan karyawan UMKM berbisnis online, dan 9 juta pekerja pendukung industri UMKM seperti bidang produksi atau pemasaran produk, 250 ribu pekerja logistik, 100 ribu pekerja di platform e-tailing,” urai Tomy.

Agar kreatif dan produktif maka perlu memperhatikan perilaku konsumen e-market. Perilaku konsumen merupakan kegiatan yang menjadi sebuah dasar bagi konsumen hingga akhirnya membuat keputusan untuk membeli suatu barang atau jasa. Perilaku konsumen sangat berkaitan erat dengan proses pembelian; ketika konsumen melakukan pencarian, penelitian hingga mengevaluasi sebuah produk atau jasa.

”Perilaku konsumen di era digital, yakni: melihat standard dan kualitas dari review; rasa toleransi konsumen tipis (komplain bisa dilakukan langsung); menghendaki dialog; banyak pertanyaan; suka cari informasi

Loyalitas (harga murah, diskon, gratis ongkir?); tidak ingin tertinggal hype/trend; korban mode/trend/gaya hidup; utamakan kemudahan pemesanan dan pembayaran; menyukai personalisasi/custom/beda dari yang lain,” pungkas Tomy.

Dipandu moderator Nadia Intan, webinar kali ini menghadirkan narasumber Hani Sutrisno (Owner Desa Bahasa dan Taman Kelinci), Rayndra Syahdan Mahmudin (Koordinator PKK Milenial Kabupaten Magelang), dan presenter TV Putri juniawan selaku key opinion leader. (*)

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article