Selasa, Oktober 19, 2021

Ada banyak dosa di dunia maya

Must read

Tak hanya dunia nyata, dunia maya juga punya etika tersendiri. Ada baiknya pengguna media sosial menghindari kebiasaan buruk jika tidak ingin media sosial justru jadi sumber masalah. Di sana ada banyak dosa yang perlu dihindari.

Selain rasis karena SARA adalah hal yang tabu dan bisa menimbulkan kericuhan, pamer kekayaan di dunia maya pun termasuk salah satu dosa yang perlu dihindari, karena dikhawatirkan menjadi target tindak kejahatan, misalnya perampokan.

“Inilah pentingnya etika berinternet (nettiquette) di dunia maya agar terhindar dari informasi yang mengandung hoaks, ujaran kebencian, pronografi, perundungan dan konten negatif lainnya,” ujar Diasma Sandi Swandaru, Peneliti Pusat Studi Pancasila UGM, saat menjadi narasumber webinar literasi digital yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk masyarakat Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Jumat (3/9/2021).

Ketua Umum Genmuda ISRI ini menyampaikan aktivitas interaksi, partisipasi dan kolaborasi di ruang digital harus sesuai dengan kaidah etika digital dan peraturan yang berlaku.

Saran dia, warga digital perlu terus berupaya menghindari konten dan komen negatif. Sedangkan untuk mengecek hoaks bisa melalui pengecekan sumber informasi.

Selain itu, juga tidak gegabah dan menahan diri tidak asal komen. Yang paling penting adalah ikut berperan aktif menyebarkan konten-konten positif.

Narasumber lainnya, Novi Widyaningrum (Researcher, Center for Population dan Policy Studies UGM), dalam kesempatan itu mengupas materi seputar cara menjadi cerdas di era digital.

Seseorang harus memiliki komunikasi digital yang baik mengingat karakteristik komunikasi global adalah melintasi batas-batas geografis dan batas-batas budaya.

Dipandu moderator Thommy Rumahorbo, webinar bertema Menjadi Cerdas di Era Digital ini juga menghadirkan narasumber Mikhail Gorbachev (Peneliti Institute Humor Indonesia Kini), Andi Taru Nugroho Nur Wismono (CEO of Educa Studio), Ngesti Nugraha (Bupati Kabupaten Semarang) sebagai Keynote Speaker, Ganjar Pranowo (Gubernur Provinsi Jawa Tengah) sebagai Keynote Speaker dan Gloria Vincentia (Juara 3 Putri Batik Nusantara 2018) sebagai Key Opinion Leader.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article