Selasa, Oktober 19, 2021

Dampak serius rendahnya literasi digital

Must read

Rendahnya literasi digital bisa mengacaukan berbagai aspek kehidupan manusia yang sangat mengandalkanya saat ini. Kurangnya kecakapan digital dalam menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak dapat menimbulkan penggunaan media digital yang tidak optimal.

Lalu, lemahnya budaya digital bisa memunculkan pelanggaran terhadap hak digital warga. Adapun rendahnya etika digital berpeluang menciptakan ruang digital yang tidak menyenangkan karena terdapat banyak konten negatif.

“Sedangkan rapuhnya keamanan digital berpotensi terhadap kebocoran data pribadi maupun penipuan digital,” ujar Pemred Betanews.id Suwoko saat menjadi pembicara webinar literasi digital bertema “Literasi Digital Dalam Meningkatkan Wawasan Kebangsaan” yang digelar Kementerian Kominfo untuk masyarakat Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Jumat (24/9/2021).

Dalam webinar yang diikuti ratusan peserta itu, Suwoko menuturkan di tengah majemuknya pengguna internet di Indonesia, wawasan kebangsaan harus ada pada generasi muda, agar nilai-nilai ini bisa jadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Hidup berbangsa berarti mendasarkan diri pada Pancasila. “Artinya, setiap individu ditekankan punya semangat bersatu, menghormati perbedaan, rela berkorban, pantang menyerah, gotong-oyong, patriotisme, nasionalisme, optimisme, harga diri, kebersamaan, dan percaya pada diri sendiri,” urai Suwoko.

Suwoko menambahkan, jika kurang mampu memaknai Pancasila, dikhawatirkan akan tidak mampu memahami batasan akan kebebasan berekspresi dengan perundungan siber, ujaran kebencian, pencemaran nama baik atau provokasi mengarah perpecahan sosial.

Padahal, di era digital ada yang namanya jejak digital. Mulai dari kunjungan di situs web, komentar pada media sosial, foto, hingga transaksi di platform belanja daring.

Narasumber lain webinar itu, dosen UHN IGB Sugriwa Bali Dewi Bunga menuturkan terkikisnya rasa nasionalisme di kalangan muda dikhawatirkan akan berdampak buruk kepada persatuan dan kesatuan bangsa. Padahal peranan pemuda sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa.

“Untuk itu perlu pendidikan dan pembinaan karakter bangsa untuk memajukan peradaban bangsa agar menjadi bangsa yang semakin terdepan dengan sumber daya manusia berilmu, berwawasan, dan berkarakter,” kata Dewi Bunga merujuk sumber indonesiabaik.id.

Dewi menuturkan karakter merupakan hal sangat esensial dalam berbangsa dan bernegara, karena hilangnya karakter akan menyebabkan hilangnya generasi penerus bangsa.

“Karakter harus dibangun dan dibentuk untuk menjadi bangsa yang bermartabat, sehingga menumbuhkan dan memperkuat jati diri bangsa. Menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan membentuk manusia dan masyarakat Indonesia yang berakhlak mulia,” tegasnya. Webinar ini juga menghadirkan narasumber lain seperti penulis dan budayawan Muhammad Jadul Maula, CEO Viewture Creative Solution Mohammad Adnan, serta dimoderatori Fikri Hadil juga Ayu Rahmah selaku key opinion leader.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article