Selasa, Oktober 19, 2021

Jaga siswa saat unggah dan unduh. Selalu perhatikan unggah-ungguh

Must read

Data Kominfo terbaru tahun ini yang dikutip Handono, Kepala MAN Salatiga saat berbicara dalam webinar Literasi Digital: Indonesia Makin Cakap Digital untuk warga Kabupaten Tegal, Jawa Tengah , 5 Oktober 2021, menarik untuk dikritisi. Kominfo mencatat, ada 30 jutaan remaja, khususnya siswa SD hingga sekolah menengah, mengakses internet dengan gawainya setiap hari untuk beragam kepentingan. Tak hanya untuk proses belajar di kelas online setiap hari.

”Ini tentu butuh perhatian dan pendampingan orangtua dan guru agar siswa tak salah pilih konten dan materi yang, kalau dibiarkan, bisa mengganggu kepribadian dan perilaku sosial di masa tumbuh kembangnya,” ujar Handono lebih jauh dalam diskusi virtual yang mengusung topik, ”Adaptasi Literasi Empat Pilar untuk Siswa”, yang diikuti ratusan peserta lintas profesi dari seantero Tegal secara daring.

Lebih jauh, Kakanwil Kementerian Agama Jateng, Mustain Ahmad, saat tampil sebagai keynote speech dalam webinar yang digelar Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) ini, menyebut kekhawatiran terjadinya penetrasi medsos dalam menjadikan para siswa kader gerakan radikalisme agama dan perusakan ideologi berciri agama sejak dini, khususnya bagi anak-anak di madrasah dan pesantren.

”Mari para guru, khususnya di keluarga besar Kementerian Agama, di madrasah dan pesantren se-Jawa Tengah untuk turun langsung terlibat aktif mendampingi siswa saat aktif bermedia digital untuk mencegah agar tak terpapar konten negatif itu. Karena, remaja kita adalah kader penerus masa depan bangsa kita,” pesan Mustain.

Dimoderatori oleh Finalis Miss Indonesia 2008 Yessica, selain Handono dan Mustani, tampil pula tiga pembicara lain: Fadrian Gultom, praktisi teknologi finacial dan digital marketing branding; Eddie Siregar, penggiat empat pilar; dan Dr. Arfian, dosen dan konsultan SDM, serta Shafa Lubis, anggota @ingthotelightid yang tampil sebagai key opinion leader.

Dalam catatan Fadrian Gultom, tak hanya konten radikalisme, siswa dan remaja Indonesia di usia produktif juga mesti hati-hati dari ancaman cyber bully. Bukan hanya sebagai korban, tapi malah dikhawatirkan jadi pelaku. Hal sepele, kadang malah dijadikan alsan mereka saling bully teman sekolah di medsos.

Kadang cuma karena rasa tak suka temannya gendut atau bajunya dirasa norak, lalu jadi bahan bully di medsos. ”Itu bikin yang di-bully enggak nyaman dan terganggu psikologisnya, sampai susah tidur dan malas mengikuti kelas online dalam jangka lama. Ini tak bisa dibiarkan,” terang Fadrian serius.

Namanya remaja, sudah sangat erat dengan dunia digital. Tindakan bully itu tentu dilakukan di gawainya lewat beragam platform. Fadrian menambahkan, pihaknya pernah menyurvei bahwa tidakan bully yang lewat Instagram itu mencapai 42 persen, lewat Facebook 37 persen, dan WhatsApps 12 persen, bahkan diledek dengan video di Youtube sampai 10 persen.

”Jangan sepelekan cyber bully di masa kini. Banyak remaja di Eropa hingga artis sinetron di Korea yang sangat tertekan dengan banyaknya bully di medsosnya. Sebagian sampai memutuskan bunuh diri. Jadi, kewajiban orangtua setidaknya yang lebih dewasa, juga guru, harus terlibat mendampingi agar hal ini tak terus terulang,” pesan Fadrian.

Handono kembali mewanti-wanti para guru di sekolah, mesti tampil membimbing dan memberi teladan kepada siswa saat mereka mengunggah dan mengunduh konten digital dari medsos, khusunya saat proses pembelajaran online.

”Orangtua juga mesti turut mengawasi anak. Pastikan agar saat mereka mengunggah hanya konten yang sehat saja dan saat mengunduh hanya yang memberi manfaat. Dan juga, jaga mereka tetap menjaga unggah-ungguh. Artinya, etika digital yang terus terjaga positif,” pesan Handono. Memang, di era persaingan 4.0, dalam pandangan Dr. Arfian, kompetensi digital di segala lapisan usia produktif menjadi suatu keharusan.

”Kecakapan dan keterampilan digital sudah menjadi keterampilan dasar yang tak terelakan dan mesti dikuasai. Bukan hanya untuk modal maju dan berkembang, tapi juga bersaing dalam berprestasi di sekolah maupun untuk survive di segala aspek kehidupan,” tegasnya.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article