Selasa, Oktober 19, 2021

Positif dan negatif medsos, cara bijak dan aman di ruang digital

Must read

Media sosial dewasa ini tak bisa lepas dari aktivitas sehari-hari, bahkan di masa pandemi tingkat penggunaannya semakin naik. Namun meski kebanyakan waktu kini berada di ruang digital, bukan berarti pengguna bisa bebas tanpa memperhatikan lingkungan digital dan warga digital lainnya. Etika bermedia sosial yang bijak dan bersahabat tak boleh dilupakan.

Seperti disampaikan Rahmat Alfian Pranowo dari Kaizen Room saat berbicara dalam webinar literasi digital untuk masyarakat Kabupaten Kebumen, 7 Juli 2021, ruang digital juga ada etikanya seperti di dunia nyata. Bermedia sosial tidak lantas membuat pengguna merasa bebas dalam berinteraksi di dalamnya, karena merasa tidak terlihat oleh siapa pun. 

“Yang perlu kita pahami tentang etika bermedia sosial adalah bagaimana kita secara sadar melakukan aktivitas di media sosial dengan memiliki tujuan. Sebab, kita juga harus tanggung jawab terhadap dampak aktivitas yang kita lakukan. Bermedia sosial juga harus memiliki integritas, jujur, tidak mengambil atau mencuri karya orang lain. Serta selalu melakukan kebajikan dengan membuat konten positif,” jelas Rahmat tentang salah satu pilar literasi digital, digital ethics.

Seperti disampaikan Presiden Joko Widodo dalam rekaman sambutannya di awal acara, pengguna media digital harus membanjiri media sosial dengan konten-konten positif untuk meminimalkan ancaman kejahatan digital di dalamnya.

“Bagaimana caranya beretika di ruang digital? Yaitu dengan menggunakan bahasa yang baik atau sopan saat bermedia sosial. Menghargai karya orang lain dengan mencantumkan sumber jika mengunggah konten milik orang lain. Kemudian yang paling penting adalah waspada terhadap penyebaran informasi bermuatan negatif seperti yang berkaitan SARA, hoaks, pornografi, dan kekerasan. Sebagai warga digital, kita juga perlu membatasi informasi pribadi yang ingin disampaikan. Informasi pribadi inilah yang biasanya memicu terjadinya kejahatan digital,” jelas Rahmat.

Rahmat menambahkan, aktivitas yang dilakukan di media sosial merupakan identitas penggunanya. Jika yang diproduksi konten negatif, ia akan memiliki reputasi yang sama negatifnya, begitu juga sebaliknya. Oleh sebab itu, mengelola reputasi di dunia online itu penting.

“Ingatlah, jejak digital mungkin saja tidak akan bisa dihapus. Maka sampaikanlah dengan bijak, sopan, dan santun serta mengikuti etika sekaligus aturan yang berlaku,” pesannya. 

Di sisi lain, etika bermedia juga berkaitan dengan pilar keamanan dalam menggunakan teknologi dan media digital. Disampaikan oleh Jota Eko Hapsono (founder Jogjania.com), menggunakan media sosial itu memang penting di era saat ini. 

Namun, sebagaimana koin, media sosial juga punya dua sisi yang bisa memberikan dampak negatif dan positifnya tergantung bagaimana pengguna memanfaatkan media sosial. Secara positif, jelas Jota, media sosial bisa meningkatkan skill, memperluas jaringan, bahkan meningkatkan pemasaran bagi pelaku bisnis. 

Sementara dari sisi negatif, media sosial juga menunjukkan maraknya kejahatan di ruang siber. Jika tidak bijak, media sosial juga dapat mengganggu kesehatan mental. Bahkan privasi pengguna juga hilang. 

“Di dunia digital ini tak jarang pengguna merasa tidak kelihatan, merasa aman dengan bersembunyi di akun anonimnya. Padahal jika ditelusuri akun anonim itu masih bisa ditemukan siapa pemiliknya,” ujar Jota.

Maka dari itu sebelum terjun, sebelum mengunggah atau berinteraksi di media sosial pastikan dulu media sosial yang dibuat hendak digunakan untuk keperluan apa. Jika sudah menemukan tujuan itu baru pilih platform yang tepat dan mengikuti akun-akun yang sepaham dengan tujuan kita bermedsos.

“Sebab yang paling penting adalah kita harus mempersiapkan keamanan dari sisi pengguna terlebih dahulu agar saat masuk ke media sosial tidak belok ke hal-hal yang menurut kita negatif. Pilih konten yang sesuai dengan kebutuhan kita, dari keamanan akun juga harus dipagari dengan password yang kuat. Jangan sampai kita lengah di pertahanan diri kita,” pungkasnya.

Sementara itu, pilar literasi digital lain yakni digital skill dan digital culture disampaikan oleh pemateri Mustolih (dosen UMNU Kebumen) dan M. Solahudin (ketua Pergunu Kebumen). Kegiatan yang dipandu oleh Bobby Aulia ini juga mengajak key opinion leader Aditya Suryo (entertainer) sebagai pemantik diskusi.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article