Senin, Desember 6, 2021

Data pribadi: aurat yang mesti dijaga privasinya

Must read

Data pribadi dan privasi masih menjadi isu penting dalam bermedia digital. Tak sedikit kasus kebocoran data dialami oleh perusahaan besar, dan perilaku di ruang digital kadang masih cenderung menyepelekan penting menjaga privasi. Tema “Memahami Privasi di Ruang Digital” dibahas dalam webinar literasi digital yang diselenggarakan Kominfo RI untuk masyarakat Kabupaten Boyolali, Senin (4/10/2021).

Kegiatan yang dipandu oleh entertainer Zacky Ahmad ini menghadirkan empar narasumber: Athif Titah Amithuhu (media online Ceritasantri.id), Yusuf Mars (content creator Padasuka TV), Tobirin (dosen Universitas Jenderal Soedirman), Danu Anggada Bimantara (pegiat seni tradisi). Juga Julia RGDS (Putri Tenun Songket Indonesia) yang hadir sebagai key opinion leader. Masing-masing narasumber menyampaikan materi dari perspektif empat pilar literasi digital: digital ethics, digital safety, digital culture, dan digital skills.

Dosen Universitas Jenderal Soedirman Tobirin menjelaskan bahwa privasi dan data pribadi saling berkaitan, dan di era digitalisasi big data berperan besar dalam penggunaan data untuk keperluan bisnis dan politik. Sebab privasi menyajikan data yang kita inginkan dan yang dikomunikasikan, ujung-ujungnya privasi dan kebebasan akan saling beririsan.

Privasi ditafsirkan sebagai hak untuk dibiarkan sendiri, bagaimana hak kesendirian orang lain itu dihargai. Privasi ditempatkan dalam lingkungan modern dimana harus hidup berdampingan dengan minat masyarakat dalam kehidupan berjejaring.

“Dengan demikian privasi berbatasan dengan kebebasan orang lain, di Indonesia kebabasan itu dibatasi oleh adanya UU ITE. Kita bebas berekspresi, membagikan informasi pribadi, tetapi jangan sampai menyesal belakangan karena tidak berpikir sebelum memutuskan membagikan informasi,” ujar Tobirin.

Kaitannya dengan privasi, Tobirin mencontohkan budaya “petan” yang umumnya menjadi momen membicarakan orang lain oleh sekelompok orang itu saat ini terbawa ke ruang digital. Orang menjadi ringan berekspresi apapun, bahkan ketika itu bukan pada cakupannya. Melihat hal tersebut internet ternyata merupakan dunia bebas, namun kebebasan itu justru membuat orang lupa dengan batasan privasi sehingga kebablasan.  Dengan demikian kebebasan berekspresi di internet dan budaya digital berbatasan dengan hak privasi orang lain.

“Tantangan hak privasi adalah keterbukaan informasi, kebijakan ketahanan nasional dan internasional, dan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Oleh karena itu diperlukan manajemen privasi yang baik,” imbuhnya.

Manajemen privasi di sini berkaitan dengan jejak digital. Era keberlimpahan informasi kerap membuat banyak orang berada dalam euforia kebebasan. Jejak digital yang merupakan riwayat atas aktivitas digital itu hendaknya dikorelasikan dengan bagaimana tetap bisa bisa berekspresi tanpa mengganggu hak privasi orang lain.

Pegiat seni tradisi Danu Anggada Bimantara menambahkan bahwa privasi berkelindan erat dengan etika dan etiket digital setiap pengguna platform digital. Bicara privasi dan data pribadi sudah tentu mempelajari etika. Etika berinteraksi adalah tidak melanggar hak orang lain, dan itu tidak hanya terjadi di dunia nyata melainkan harus dibawa ke ruang digital.

Berselancar di internet berarti mengizinkan platform digital untuk mengumpulkan data tertentu dari aktivitas yang dilakukan oleh penggunanya. Oleh sebab itu, literasi digital tentang etika menjaga data pribadi mesti ditanamkan kepada anak sejak dini.

“Data pribadi tak ubahnya privasi yang harus dijaga, hal penting yang tidak perlu diumbar. Mengumbar data pribadi dapat menjadi sasaran penipuan dan penguntitan jika itu bicara soal keamanan dan keselamatan di ruang digital, dan dalam hal bisnis data pribadi dapat dijadikan data referensi bagi pengiklan,” jelas Danu Anggada Bimantara. Kita harus menjadi warganet yang peduli perlindungan data pribadi. Memastikan hanya menyerahkan data pribadi kepada platform dan institusi terpercaya, memahami kebijakan privasi sebelum memasukkan data pribadi. Gunakan kemampuan berpikir kritis sebelum membagikan data, sebab kontrol utama privasi berasal dari masing-masing individu.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article