Senin, Desember 6, 2021

Perkembangan teknologi bergerak cepat, berikut tren pekerjaan di era digital

Must read

Tren pekerjaan dan bidang usaha ikut bergeser dengan hadirnya teknologi digital yang makin pesat perkembangannya. Di sisi lain literasi digital juga perlu diasah agar dapat mengikuti perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Hal itu sebagaimana yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia yang tengah menggencarkan sosialisasi program literasi digital melalui kegiatan webinar. Literasi digital yang sedang ditanamkan kepada talenta digital Indonesia sendiri mencakup empat pilar: digital culture, digital skill, digital safety, dan digital ethics.

Salah satunya webinar yang diselenggarakan untuk masyarakat Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, pada hari ini, Senin (26/7/2021) dengan tema “Tren Pekerjaan dan Usaha di Dunia Digital”. Diskusi yang dipandu oleh reporter TV Niken Pertiwi diikuti 600-an peserta, juga beberapa narasumber yang cakap pada bidangnya. Mereka adalah Farid Fitriyadi (dosen Universitas Sahid Surakarta), Ahmad Khoirul Anwar (dosen Universitas Sahid Surakarta), Retno Kusumastuti Hardjono (dosen Universitas Indonesia), dan Arfian (konsultan SDM). Hadir pula key opinion leader dalam diskusi virtual yakni Debi Glen (tv presenter).

Farid Fitriyadi dalam paparannya menyampaikan, dunia digital telah menggeser budaya masyarakat, khususnya dalam menjalankan aktivitas harian. Dunia digital memberikan kemudahan dengan hadirnya teknologi dan mengubah kehidupan hanya dalam satu genggaman tangan.

Pesatnya perkembangan teknologi dan kondisi pandemi Covid-19 memicu peningkatan pengguna digital, bahkan dengan dukungan internet keduanya menjadi kebutuhan dasar bagi kehidupan saat ini. Dari segi komunikasi misalnya, dunia digital menjadi tempat perjumpaan baru dan menghadirkan kolaborasi seperti terlaksananya webinar yang dapat mempertemukan banyak orang dalam satu waktu meski di tempat yang berbeda.

Tak hanya itu, transportasi online juga makin eksis dan digemari begitu juga dengan budaya cashless dalam bertransaksi. “Namun kemudahan tersebut juga memberikan dampak negatif. Masyarakat menjadi lebih individualis karena kemudahan yang bisa kita rasakan hanya dengan sejangkauan tangan,” ujar Farid.

Akan tetapi, lanjut Farid, industri 4.0 memang memaksa masyarakat untuk mau tidak mau beradaptasi agar tidak ketinggalan. Teknologi menggeser hampir segala hal ke arah digitalisasi, mulai dari perilaku belanja online, transportasi, pendidikan online, hingga budaya melamar kerja juga berubah dari cara konvensional dengan mengirimkan lembaran data kini bisa dilakukan dengan mudah secara digital.

“Budaya perubahan ke dunia digital pun ikut menggeser tren pekerjaan dan bidang usaha. Di antaranya yang paling banyak dibutuhkan adalah social media specialist, content writer, video creator, desain grafis, data analyst, hingga web designer. Jenis-jenis pekerjaan tersebut saat ini paling banyak dibutuhkan karena adanya digitalisasi,” jelas Farid.

Sayangnya, kemudahan yang diberikan oleh adanya digitalisasi juga mempunyai titik lemah keamanannya. Seperti disampaikan oleh Akhmad Khoirul Anwar, aspek kehidupan yang bergeser ke dunia digital dan pemanfaatan internet membuat informasi data pribadi penggunanya juga ikut terbawa.

Jika tidak punya kecakapan keamanan dalam menggunakan platform digital, data pribadi menjadi titik lemah yang dapat memberikan dampak negatif.

“Karena menggunakan koneksi internet, baik itu jaringan pribadi ataupun jaringan publik, data diri yang kita unggah di internet membuka ancaman keamanan dan celah kejahatan. Sebab rawan sekali pencurian daya dan kejahatan digital lainnya atau cybercrime,” jelas Khoirul Anwar.

Keamanan digital seperti memberikan password pada perangkat digital dan akun digital berfungsi melindungi informasi pribadi dari tindakan cyber attack yang mengganggu aktivitas digital.

“Keterbukaan informasi seseorang menyebabkan kurangnya keamanan digital saat ini, baik akses pribadi maupun pekerjaan dan usaha. Bijaklah dan waspada dalam menggunakan dan memanfaatkan kecanggihan teknologi, karena baik buruknya teknologi tergantung pada penggunanya,” ujar Khoirul Anwar mengakhiri pemaparannya.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article