Senin, Desember 6, 2021

Tabbayun dulu, jangan gegabah sebarkan pesan berantai

Must read

Ada semacam kaidah umum yang berlaku di media sosial yaitu sesuatu yang baik belum tentu benar, yang benar belum tentu bermanfaat, bermanfaat belum tentu pantas dipublikasi. Untuk itulah, seseorang apabila menerima pesan berantai atau broadcast jangan mudah menyebarkannya.

“Kedepankan tabayun atau cek dulu setiap informasi yang diterima. Jangan mudah menyebarkan pesan berantai sebelum memahami isi dan siapa yang terlibat di dalamnya,” ujar Imam Alba, Direktur Lembaga Penelitian dan Aplikasi Wacana (LPAW), saat menjadi narasumber webinar literasi digital yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk masyarakat Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (30/7/2021).

Korelasinya dengan tema webinar kali ini ”Membangun Toleransi Beragama Melalui Media Sosial”, Imam menyampaikan dari hasil survei dan riset diketahui sikap toleransi beragama di Indonesia masih tinggi.

Beberapa kota memiliki toleransi yang rendah dibanding kota lain justru kota-kota itu dijadikan model bagi kota lainnya seperti di Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Kejadian intoleransi meningkat menjelang “hajatan” lima tahunan.

Menurut dia, rendahnya literasi membuat pengguna media sosial menampakkan ujaran kebencian, berita bohong, sikap intoleransi, prasangka buruk, khususnya kalangan remaja.

Dia sepakat perlu ada bekal berupa kesadaran untuk bertoleransi agama di dunia maya, yaitu introspeksi dan secara sadar menerima bahwa perbedaan adalah “Sunnatullah”. Kemudian, kesadaran sebagai pewaris dari Bhinneka Tunggal Ika sehingga tidak memaksakan kehendak karena setiap manusia memiliki potensi untuk benar.

Narasumber lainnya, Handono selaku Kepala MAN Salatiga dalam kesempatan itu memaparkan agama idealnya menjadi sumber peradaban yang tinggi. Perbedaan agama tidak dimaknai sebagai ancaman antar kelompok keagamaan itu sendiri.

Kehadiran agama lazimnya menjadi persatuan bukan perpecahan. Agama merupakan unsur pembentuk Pancasila dan selaras dengan kehidupan bangsa Indonesia yang beragam.

Mengapa toleransi beragama penting? Karena perbedaan adalah sunnatullah. Keanekaragaman adalah fitrah bangsa Bangsa Indonesia, bangsa yang berlandaskan nilai-nilai agama. Dan agama mengajarkan keramahan, toleransi dan menghargai keberagaman.

Dipandu moderator Triwi Dyatmoko, webinar juga menghadirkan narasumber Endi Haryono (Dosen Hubungan Internasional dan Dekan Fakultas Humaniora, President University), Ahmad Faridi (Plt Kasi Sarana Bidang Penma Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah dan Nadia Intan (Writer, Brand & Business Manager) selaku key opinion leader.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article