Senin, Desember 6, 2021

Alasan kenapa literasi digital penting dipelajari di lingkungan pendidikan

Must read

Sejak pandemi Covid-19 sistem pembelajaran telah dialihkan melalui kelas-kelas virtual dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Pendidikan secara daring secara positif memberikan kemudahan, namun juga harus diimbangi dengan kemampuan literasi digital agar pembelajaran menjadi lebih baik. Hal ini dibahas dalam webinar literasi digital yang diselenggarakan Kementerian Kominfo RI untuk masyarakat Kabupaten Jepara dengan tema “Transformasi Digital untuk Pendidikan yang Lebih Bermutu”, Selasa (12/10/2021).

Diskusi virtual dipandu oleh presenter Yade Hanifa dengan menghadirkan empat narasumber: Hasniati (dosen Universtas Hassanudin Makassar), Cokorde Istri Dian Laksmi Dewi (dosen Universitas Ngurah Rai), Achmad Uzair (dosen UIN Sunan Kalijaga), Ahmad Ghozi (fasilitator ketangguhan keluarga). Serta news reporter Shafinaz Nachiar sebagai key opinion leader. Masing-masing narasumber menyampaikan membahas tema diskusi dari sudut pandang empat pilar literasi digital, yaitu digital ethics, digital culture, digital skills, dan digital safety.

Narasumber Cokorde Istri Dian Laksmi Dewi menjelaskan dalam diskusi bahwa peta percepatan transformasi digital pada tahun 2020 menunjukkan percepatan yang sangat tinggi sehingga perlu didukung dengan kemampuan literasi digital agar dapat memanfaatkan teknologi untuk berbagai aktivitas. Pemerintah Indonesia sendiri telah mengupayakan percepatan pembangunan infrastruktur digital untuk mendukung transformasi.

Di lingkungan pendidikan, sistem pembelajaran telah dilakukan dengan sistem daring. Artinya komponen pendidikan dari mulai pihak sekolah dan siswa mesti paham dengan literasi digital. Kelebihan digitalisasi sekolah mempermudah proses belajar karena dapat dilakukan secara virtual sehingga lebih fleksibel, akses bahan belajar juga dapat dikses kapan saja karena sudah tersedia di platform belajar daring. Begitu pun pertukaran informasi bisa lebih cepat, dan bisa melakukan kolaborasi secara lebih mudah.

“Tantangan sekolah daring tidak hanya dari kemampuan siswa dan guru dalam menggunakan teknologi, tetapi orang tua juga berperan untuk memastikan pemberlajaran dari rumah tetap efektif. Di antaranya dengan menyiapkan rutinitas anak secara seimbang, menjaga komunikasi dengan anak terkait pembelajaran, mengajak anak untuk melakukan interaksi dengan komunitas sehingga dapat berkolaborasi dan berdiskusi. Namun yang terpenting juga menjaga keamanan daring anak agar tidak terpapar konten negatif di ruang digital,” jelas Cokorde Istri Dian Laksmi Dewi kepada 200-an peserta webinar.

Ia juga mengingatkan bahwa menjaga kesehatan anak juga penting untuk menunjang pembelajaran daring. Rutinitas anak yang banyak bertatap layar dapat menyebabkan gangguan kesehatan, utamanya kesehatan mata.

“Terapkan batasan screen time anak, ajarkan untuk selalu memberikan jarak antara mata dan layar minimal 40 cm. Ajak anak untuk secara berkala melakukan relaksasi mata, serta mengurangi kecerahan layar agar tidak mengganggu kesehatan mata,” jelasnya.

Di sisi keamanan digital dalam proses pembelajaran daring, Hasniati menjelaskan bahwa konten-konten negatif menjadi ancaman keamanan bagi anak. Maka dari itu digital safety mesti dipahami oleh setiap warganet agar aktivitas digital bisa aman dan nyaman.

Ia menjelaskan, ancaman digital juga berkaitan dengan isu privasi. Warganet harus pandai mengamankan data pribadi dengan tidak mudah membagikan data-data yang bersifat privat ke ruang publik. Kemudian isu keamanan berkaitan dengan proteksi pada perangkat dan program-program dalam gawai. Juga isu-isu konten negatif yang berkemungkinan mengganggu keamanan anak.

“Cara aman bermedia digital bagi siswa adalah mengedukasi anak untuk tidak asal klik tautan, tidak mudah membagikan data pribadi, menggunakan e-mail dengan bijak. Selalu berhati-hati ketika akses informasi dengan melakukan kroscek kredibilitas sumber dan isi kontennya,” jelas Hasniati. Bagi pendidik juga memerlukan literasi untuk menjaga privasi dan mengelola data, menyaring informasi. Mampu membuat konten digital sebagai bahan ajar serta mengorganisir konten belajar yang dikemas secara menarik untuk memacu motivasi belajar anak didik.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article