Senin, Desember 6, 2021

Era digital ibarat rimba, makin rimbun makin liar godaannya

Must read

Teknologi merupakan sebuah instrumen untuk mencapai tujuan. Teknologi bahkan mempengaruhi pola pikir manusia itu sendiri, akibatnya secara tidak langsung teknologi juga sangat mempengaruhi cara bertindak seseorang maupun pola hidup manusia.

”Teknologi digital sesungguhnya sudah menunjukkan dampaknya pada semua sektor seperti pemerintahan, perdagangan, pekerjaan, kesehatan, pendidikan, agama, seni, ekspresi budaya, perencanaan kota, pengendalian bencana, dan banyak lainnya,” ujar Nurly Meilinda, Dosen Universitas Sriwijaya yang juga anggota IAPA, saat menjadi narasumber webinar literasi digital yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk masyarakat Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Kamis (7/10/2021).

Konsekuensinya, lanjut dia, transformasi digital menghadapi sejumlah kendala di antaranya miskomunikasi, misinformasi, disinformasi dan hoaks.

“Kemudahan berkomunikasi menyebabkan munculnya sikap spontanitas yang keluar begitu saja tanpa pikir panjang. Teknologi telah mengacaukan kebenaran karena viral dianggap lebih penting dari kualitas dan etika,” kata dia.

Indonesia, lanjut dia, banyak memiliki peluang digitalisasi sebab indonesia berada pada rangking lima negara yang memiliki pengguna internet terbesar.

Banyak platform media sosial yang makin diminati pada masa pandemi internet dapat digunakan untuk meningkatkan industri kreatif, demokrasi dan kebebasan dengan tidak mengesampingkan masalah yang mungkin timbul.

“Digitalisasi Indonesia tidak memiliki kekurangan modal kreativitas, hanya saja masih kurang dalam mengintegrasikannya, misalnya menghubungkan produk dengan dunia luar,” ungkapnya.

Nurly menyebutkan, dampak rendahnya literasi digital antara lain tidak mampu memahami batasan kebebasan berekspresi dengan perundungan siber, ujaran kebencian, pencemaran nama baik atau provokasi yang mengarah pada segregasi sosial (perpecahan dan polarisasi) di ruang digital.

Selain itu, juga tidak mampu membedakan keterbukaan informasi publik dengan pelanggaran privasi di ruang digital, tidak mampu membedakan misinformasi, disinformasi dan malinformasi.

Nurly sepakat ruang digital harus dibanjiri konten positif, sebagaimana disampaikan Presiden RI Joko Widodo, “Banjiri terus, isi terus dengan konten-konten positif. Kita harus tingkatkan kecakapan digital masyarakat agar mampu menciptakan lebih banyak konten-konten kreatif yang mendidik, yang menyejukkan, yang menyerukan perdamaian.”

Narasumber lainnya, Zahid Asmara selaku Filmmaker & Art Enthusiast mengibaratkan era digital sebagai hutan rimba. Banyak sekali konten yang berisi tipu daya. “Makin rimbun makin liar godaannya,” kata dia. Dipandu moderator Thommy Rumahorbo, webinar bertema ”Jaga Bersama Ruang Digital Kita” ini juga menghadirkan narasumber Eka Y Saputra (Programer & Konsultan Teknologi Informasi), Sholahuddin Nur Azmy (CEO pasardesa.id), Ganjar Pranowo (Gubernur Provinsi Jawa Tengah) sebagai Keynote Speech dan Gina Sinaga (Public Speaker & Founder @wellness_worthy) sebagai Key Opinion Leader

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article