Senin, Desember 6, 2021

Jaga netiket dan jangan suka tabrak lari di dunia digital

Must read

Membludaknya penghuni dunia digital kita dewasa ini makin nyata tak terbendung. Data APJII, riset Hotsuite dan Kominfo menyebut data yang serupa. Ada 202 juta warga kita yang terakses dengan internet sampai 2020 ini, di mana 170-an juta di antaranya berkoneksi dengan media sosial yang – sejak bangun tidur sampai kembali tidur – bolak-balik diintip sampai 3,5 jam sehari. Beragam platform medsos yang mereka miliki dobel-dobel akunnya, mulai dari Facebook, Instagram sampe WhatsApp dan Twitter.

Evelyn Heny L, dosen Universitas Sahid, mengatakan, kecakapan digital keluarga besar netizen Indonesia cukup memadai kalau sekadar mengoperasikan dan mengakses perangkat digitalnya. Cuma, kecakapan digital bukan semata keterampilan akses maupun dalam memperoleh dan mendistribusikan info yang didapat. Yang penting juga mesti dijaga tatakrama di internetnya. Karena, yang diajak interaksi di medsos juga manusia yang sama dengan kita di dunia nyata.

”Artinya, kalau mereka sudah sepuh dan senior sebagai tetangga di medsos, mesti juga permisi dan kulonuwun kalau mau ajak bicara. Santun bahasanya juga sama. Jangan asal komen, apalagi kasar yang nyakitin hati. Itu semua terekam baik buruknya dalam jejak digital Anda, hati-hati,” pesan Evelyn saat berbicara dalam webinar literasi digital: Indonesia Makin Cakap Digital, yang digelar Kementerian Kominfo bersama Debindo untuk warga Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, 30 Juli 2021.

Yang susah diatur dan sering netizen kita kecolongan, seperti disebut Santi Indra Astuti dalam diktat Kecakapan Digital Japelidi, 2020, yang dikutip Evelyn, jangan merasa menguasai digital asal bisa akses dan menggunakan perangkat digital secara terampil. Yang lebih penting, bagaimana kita bisa terampil memanfaatkan, memilih literasi dan menggunakannya secara bertanggung jawab.

”Dunia maya yang berjuta pribadinya akan memiliki respons berbeda saat Anda membagi informasi dan konten di beragam akun medsos yang Anda kelola. Jangan asal sebar dan posting. Biasakan thinking before posting. Adakah manfaat atau malah bikin sakit hati orang,” papar Evelyn, mewanti-wanti 250-an peserta yang ikuti webinar dengan cara daring dari seantero Sleman.

Evelyn tampil tak sendiri mengupas topik diskusi ”Keterampilan Digital di Era Pandemi” yang dipandu oleh moderator Fikri Hadil dan menampilkan musisi band J Rock, Sony Ismail sebagai key opening leader. Hadir pula tiga pembicara lain, yakni Fransiska Desiana Setyaningsih, dosen Unika WidyaMandira, Kupang; Fachri Dinansyah, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Multi Media Nusantara dan co-Founder Localin, serta Sholihul Hadi, Ketua Karangtaruna Kota Yogyakarta.

Dalam hal bertanggung jawab secara digital, Fachry Dinansyah masih mencatat banyaknya modus tabrak lari digital yang diabaikan oleh para pelaku dunia digital kita. Ini masih berulang dan memprihatinkan. Dalam bernetiket, netizen kita masih setengah hati. Suka tabrak lari. Misalnya, saat bikin konten dan posting di akun Instagram atau Youtube, suka comot karya lagu atau ilustrasi gambar atau foto orang tanpa izin dan hargai hak ciptanya.

”Sebut dong sumber dan cantumkan karya siapa. Jangan setelah pemiliknya komplain, baru minta maaf, atau kadang malah nekat kabur tak bertanggung jawab. Hargai hak cipta. Jangan budayakan plagiarsi, menjiplak karya orang tanpa izin. Itu hanya akan membuat nama dan jejak digital Anda tak baik dan merusak citra digital Anda di masa datang. Ibarat manajer, jadilah manajer yang bijak dan bertanggung jawab atas akun medsos yang Anda miliki,” ujar Fachry, yang juga mengajar di Universitas Bunda Mulia Jakarta.

Di masa pandemi di mana semua mesti jalani kehidupan nyata dan digital dengan cara BDR, maka nikmati dengan santun. Belajar Dari Rumah, Belanja Dari rumah, Belanja dan Beribadah Dari Rumah. Tapi, dalam menjalani pola BDR, semua tetap menjaga tatakrama di dunia digital. Pertimbangkan penting-tidaknya atau manfaat-tidaknya konten atau koment sebelum kita ikut nimbrung di suatu diskusi digital dalam suatu komunitas digital.

”Yang perlu diperhatikan, upayakan posting yang penting-penting saja, dan jangan yang penting posting, pikir dulu belakangan. Kalau sudah terjadi Anda nekat yang penting posting dan konten postingan Anda  dikomplain orang, sesal kemudian pasti tidak berguna,” papar pamungkas Fransiska Desiana, dosen Unwira, Kupang dengan tegas.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article