Senin, Desember 6, 2021

Perangkat utama digital harus diproteksi

Must read

Perangkat digital seperti gawai atau peranti komputer adalah alat utama untuk mengakses internet dan berselancar di dunia maya. Perangkat digital selalu terdiri dari dua kelompok komponen utama yaitu perangkat keras dan perangkat lunak.

“Di dalam perangkat digital kita tersimpan beragam informasi penting, mulai dari galeri foto dan video pribadi, daftar kontak, sampai data-data keuangan yang diperlukan bertransaksi termasuk uang digital,” ungkap Cahyono, Pendidik Madrasah MA Nur Iman Yogyakarta.

Saat menjadi narasumber webinar literasi digital yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk masyarakat Kabupaten Bantul, DIY, Selasa (12/10/2021), dia menyatakan perlindungan identitas digital dan data pribadi pada platform digital dimaksudkan supaya terhindar dari tindak kejahatan dunia maya.

Adapun cara mengamankan identitas digital yaitu bisa menggunakan identitas asli atau samaran namun wajib bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Pastikan juga hanya menampilkan identitas digital yang “aman”.

“Keamanan surat elektronik kita sebagai identitas digital utama yang kita gunakan untuk mengakses berbagai platform digital juga harus dilindungi,” kata dia.

Menurut dia, literasi digital yang menekankan pada kecakapan pengguna media digital tidak hanya mampu mengoperasikan alat, melainkan juga mampu bermedia digital dengan penuh tanggung jawab.

“Literasi digital akan membentuk manusia yang siap menjadi pengguna digital yang kompetitif dan dinamis. Dunia digital memiliki sisi berbahaya, sehingga harus sadar dengan keamanan. Kita sendiri yang berperan penting dalam menjaga keamanan di dunia digital,” tegasnya.

Narasumber lainnya, Muhammad Ihsan Fajari selaku entrepreneur dan pendidik, mengakui rendahnya budaya melek teknologi masyarakat Indonesia sangat tampak ditandai dengan rendahnya tradisi literasi dalam kehidupan sehari-hari.

Sebut saja misalnya rendahnya minat membaca dan menulis di kalangan masyarakat. “Rendahnya budaya literasi dapat menyebabkan kegagapan dalam menghadapi teknologi komunikasi dan informasi yang berkembang luar biasa pada saat ini,” ujarnya.

Di kalangan pelajar, lanjut dia, sebagian lebih cenderung menginternalisasi pesan-pesan media dan mengintegrasikannya dalam pembentukan diri, sehingga dapat menumbuhkan sifat individualisme, radikalisme dalam berpikir dan lebih eksis di dunia maya daripada di dunia nyata.

Banyak pelajar menganggap citra yang muncul di televisi adalah sesuatu hal yang nyata, sehingga mereka mencitrakan diri sebagai tokoh-tokoh sinetron dan penyanyi, mulai dari gaya berpakaian, potongan rambut hingga perilaku sehari-hari. Dipandu moderator Zacky Ahmad, webinar bertema ”Pentingnya Literasi Digital bagi Siswa dan Guru di Era Digital” ini juga menghadirkan narasumber Muhammat Taufik Saputra (Fasilitator Nasional), Athif Titah Amithuhu (Media Online ceritasantri.id), Joko B Purnomo (Wakil Bupati Kabupaten Bantul) sebagai Keynote Speech dan Nindy Gita (Professional Public Speaker) sebagai Key Opinion Leader.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article