Senin, Desember 6, 2021

Perkuat etika digital untuk lawan kejahatan digital

Must read

Wakil Bupati Sragen Dedy Endriyatno menuturkan setiap penguna digital perlu memahami, mempelajari dan menerapkan etika digital agar dalam berselancar di ruang digital dapat mengoptimalkan potensi yang ada dan menghindari berbagai kejahatan digital.

“Etika digital memiliki tujuan agar pengguna digital bisa memahami konsep yang sama dalam melakukan penelaahan, baik buruk, patut dan tidaknya, dalam ukuran yang relatif sama bagi semua orang dalam ruang dan waktu tertentu,” kata Dedy saat menjadi pembicara webinar literasi digital bertema “Upaya Mencegah, Menghadapi, dan Melawan Perundungan Digital (Cyberbullying)” yang digelar Kementerian Kominfo untuk masyarakat Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Senin (11/10/2021).

Dalam webinar yang diikuti hampir 400 peserta itu, Deddy menjelaskan urgensi etika digital itu untuk melawan kejahatan digital. Mulai dari cyber bullying, provokatif, konten hatespeech, penipuan online, konten pornografi, hoaks hingga prostitusi online.

“Hadirnya internet dan semakin mudahnya akses dalam dunia digital membuat dunia digital memiliki begitu banyak informasi sehingga banyak informasi dan konten-konten bebas yang mengandung unsur bullying,” kata dia. Maka menjadi sangat penting kemudian untuk bersama-sama belajar memahami lebih jauh literasi digital media yang berkaitan dengan cyber bullying.

Deddy mengatakan dalam cyberbullying secara umum korban mengalami penderitaan yang sama dengan korban bullying di dunia nyata. Yakni mengalami depresi, harga diri yang rendah, gelisah, konsentrasi berkurang, melukai diri sendiri, memiliki ide untuk bunuh diri sampai pada kompetensi bunuh diri itu sendiri.

“Pelaku cyberbullying ada niatan untuk menyakiti pihak lain, baik fisik maupun tulisan, kondisi mental pelaku yang mengalami stres, tidak bahagia sehingga kemudian menumpahkan ke pihak lain yang potensi menjadi korbannya,” kata Dedy.

Dedy mengatakan cyberbulliying bisa karena dorongan sekedar iseng, bersenang-senang, dengan cara membully pihak lain yang dianggap lebih lemah.

“Ini juga dipicu situasi anonimitas sehingga membuat seseorang sedemikian bebas menyatakan apa saja kepada pihak lain karena tidak langsung berhadapan, tidak memahami konsekuensi dari tindakannya yang bisa menyakiti perasaan orang lain,” kata dia.

Dedy menyarankan agar berhati-hati soal penggunaan bahasa di ruang digital. Perilaku pengguna seharusnya mampu menunjukkan nilai diri sebagai manusia yang bermartabat akan tetapi pelaku netizen seringkali tidak menunjukkan etika dan martabatnya sebagai manusia antara lain dengan memakai mengucapkan kata kotor dan merendahkan lawan.
“Jarimu harimaumu, hati-hati dan bijaklah bermedia sosial,” kata dia.

Disinilah perlunya karakter yang beretika artinya memiliki pendirian yang kuat dalam pergolakan moral yang kita hadapi. “Karena etika membentuk karakter dengan prinsip yang kuat dan orientasi yang jelas, sikap kritis dan objektif dalam akulturasi budaya dan transformasi multikultur baik sisi ideologi, budaya, sosial, ekonomi politik dan intelektual yang melanda dunia tanpa sekat,” kata Dedy.

Dedy menjelaskan makna etika untuk menunjukkan nilai diri yang tercermin pada sikap dan perilaku. Sedangkan digital berkaitan dengan teknologi elektronika berbasis sistem informasi dan komunikasi dengan semua perangkat.

“Jadi etika digital dapat dimaknai seperangkat nilai yang tercermin dalam sikap kesantunan dan perilaku tata krama dalam memanfaatkan sistem teknologi komunikasi dan informasi digital untuk berbagai keperluan dan kepentingan,” kata dia.

Narasumber lain Eko Sugiono selaku digital marketer dan expert dari G Coach mengatakan selain cyberbulliying kejahatan digital yang paling diwaspadai juga phising dan scam.

“Phising sebagai upaya untuk mendapatkan informasi dari seseorang dengan teknik pengelabuan yang menjadi sasaran penting adalah data pribadi, baik nama, usia, alamat, data akun, username, password dan data finansial seperti informasi kartu kredit dan rekening,” kata Eko.

Selain itu scam merupakan segala bentuk tindakan yang sudah direncanakan yang bertujuan mendapatkan untung dengan cara menipu atau membohongi orang lain. “Scam biasanya terjadi kontak komunikasi balik melalui media sosial atau telepon,” kata dia.

Webinar ini juga menghadirkan narasumber peneliti dan antropolog Nur Arifin, Communication Specialist Khairul Anwar serta dimoderatori Bobby Aulia juga Reny Risty selaku key opinion leader.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article