Senin, Desember 6, 2021

Raih suksesmu dengan pola pikir digital

Must read

Carol S. Dwerk, seorang profesor psikologi dari Stanford University, seperti dikutip Jota Eko Hapsoro, founder Jogjania, mengatakan, ’Kesuksesan seseorang tidak semata ditentukan oleh kemampuan dan bakatnya, tapi juga oleh pola pikir’. ”Di era serba digital ini, keterampilan menangkap peluang dan kemampuan diri untuk bisa diolah dengan pola pikir digital sangat menjadi penentu sukses dirinya di masa datang,” kata Jota saat berbicara dalam webinar literasi digital gelaran Kementerian Kominfo untuk warga Kabupaten Banjarnegara, 29 September 2021.

”Sekarang, ubah pola pikir kemampuan konvensionalmu menjadi konten digital yang bisa dijual secara digital. Kalau Anda jago setir mobil, ya buat konten tips dan trik cara cepat menyetir mobil sukses dan lancar dalam seminggu. Kalau Anda jago menari, jual cara cepat menari tradisi lancar dalam sebulan. Atau, kalau pintar bertani, buat sukses bertanam mangga atau pepaya unggul, siap panen dalam tujuh bulan. Pandu dengan cara praktis dan visual video yang menarik. Tentu akan menarik dan mengundang banyak subscriber,” saran Jota dalam diskusi virtual yang mengusung topic menarik ”Menjadi Masyarakat yang Terampil dan Cakap Digital”, yang diikuti oleh ratusan peserta lintas profesi dan generasi.

Selain Jota Eko Hapsoro, webinar yang dipandu oleh moderator Fikri Hadil dan key opinion leader Astari Vern ini, juga menghadirkan tiga pembicara lain: Aziz Purwanto, Wahyuni Herawati, pengajar MA Nur Iman Sleman, dan Ragil Trihatmojo , seorang digital specialiast content creator.

Jota mencontohkan, ada youtuber korea Hize Bae, yang sudah membuat konten Youtube know how yang menarik dengan mengupas hal sekitar kita. ”Dia buat tips: bagaimana 30 hari bisa jago main tenis dan main drum, mulai dari nol sampai benar-benar jago main, bahkan bisa berprestasi. Tahapannya dimulai dari beli raket tenis atau beli drum dan dimainkan dari nol dan terus berlatih sampai sebulan, sampai lincah dan mahir. Hal itu rupanya cukup disukai subscriber dan melambungkan namanya sebagai Youtuber,” urai Jota.

Orang Indonesia mestinya lebih banyak yang jago mengupas dan bikin konten Youtube yang menarik atau diposting di Instagram. Yang jago masak atau menjahit dan bisa membuat batik, buat saja konten dan videokan dengan menarik pesona dan seni membatik. Uraikan detik tahapan membuat batik dan tren menarik batik yang eksotis, sehingga lintas usia penontonnya akan tertarik untuk meniru.

”Selain menjual konten, boleh juga disisipkan produk menarik yang bisa dijual. Jadi, jual konten dan sekaligus promosi batik Anda di pasar dunia lebih luas. Cantumkan kontak bisnis. Akan banyak peluang bisa direbut dengan sarana digital. Kuncinya jeli dan segera beraksi, jangan terus berdiam dengan ide semata,” pesan Jota, serius.

Yang jelas, semakin banyak anak muda mengembangkan potensi diri  dengan sarana digital membangun beragam produk tradisional, sebagai bentuk nyata cinta tanah air dengan memproduksi barang dan karya seni buatan dalam negeri, maka semakin tinggi pula peran digital dalam melestarikan seni budaya dan memperkokoh wawasan kebangsaan.

”Digital itu sarana mengembangkan budaya untuk meraih rezeki secara sehat dan positif. Tangkap peluangnya dan hentikan kebiasaan negatif yang mubazir. Bukan hanya membuat keonaran masyarakat dan memperburuk citra bangsa di mata dunia, karena memang teknologi digital dibuat untuk kebaikan dan kemajuan umat manusia, bukan sebaliknya,” pungkas Wahyuni Herawati.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article