Senin, Desember 6, 2021

Tabayyun dan dibimbing guru, cara bijak tanamkan nilai keagamaan di jagat online

Must read

Berita online bernuansa intoleransi agama di beragam media digital makin membanjir, tak terbendung. Banyak judul berita butuh pendampingan guru atau orangtua agar anak bijak dan cerdas mencerna dan tak gampang salah tafsir. Judul seperti ”Wali Kelas Disangsi Sekolah, Karena Larang Siswa Memilih Ketua OSIS Non Muslim”, atau ”Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta Ditolak karena Agama, Anair Beri Penjelasan”, bahkan ”Sedekah Laut di Bantul Dirusak Masa Bercadar, Massa Sebut itu Musrik”. Haruskah berita semacam itu diblokir?

Tidak mungkin, sahut Ustadz Abdulatief Lc dari Kanwil Kementerian Agama Jawa Tengah. Sebab, hal itu merupakan ekspresi kebebasan menyampaikan pendapat dan aspirasi beragama yang dilindungi undang- undang. Dan, kalau ada larangan pada sikap-sikap aspirasi sekelompok agama, juga berpotensi mengganggu kesatuan dan persatuan beragama, karena bangsa kita sejak didirikan menjunjung tinggi keberagaman dan toleransi.

”Itu sebabnya, moderasi beragama menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi beragam problem intoleransi beragama di masa datang. Apalagi era digital melahirkan kondisi banjirnya informasi yang beragam, termasuk yang bernuansa agama,” tutur Ustadz Abdulatief, saat menyampaikan paparan dalam webinar literasi digital yang digelar Kementerian Kominfo untuk warga Kabupaten Kendal, Jateng, 26 Juli 2021.

Dipandu oleh moderator Ayu Perwari dan Gizkha Adinda sebagai key opinion leader, tampil pula tiga pembicara lain: Andie Wibawanto, Muhamad Siswanto, serta Dr. Amhal Kaefahmi, Pengawas Madrasah Kanwil Kementerian Agama Jawa Tengah. Webinar bertopik seru ”Moderasi dan Penanaman Nilai Keagamaan di Media Digital” diikuti ratusan peserta dari beragam sekolah dan madrasah, juga profesi lain seantero Kabupaten Kendal.

Kini, dalam mengakses informasi digital dalam proses pengajaran di sekolah, madrasah dan pesantren, posisi guru dan siswa sama. Keduanya sama-sama sebagai user. Siswa sekarang belajar secara mandiri, mencari informasi sendiri. ”Tentu, dalam mendapatkan akses dan memilih literasi belajar keagamaan, guru tetap perlu membimbing dan menjadi saluran tabayyun. Menemukan jawaban yang sejuk dan menenangkan kalau siswa menemukan materi informasi belajar keagamaan yang masih dirasa membingungkan. Guru memang juga dituntut terus meningkatkan kecakapan literasi digitalnya di banyak situs atau portal agama,” pesan Amhal Kaefahmi.

Di dunia digital, diakui Amhal, literasi memang semakin lengkap dan cepat diakses. Ada banyak artikel lebih komprehensif dalam hal tafsir hadis, juga pandangan ulama dan ilmuwan dari banyak perguruan tinggi Islam. ”Itu semua memperkaya wawasan ilmu yang mestinya terus berkembang. Hal itu akan mempengaruhi pandangan guru dan siswa, baik di sekolah maupun madrasah secara up to date,” urai Amhal lebih jauh.

Memang, lanjut Amhal, moderasi kita lewat era digital dalam memburu ilmu agama akan memberi peluang dengan bertemunya paham-paham radikal yang mengganggu pola pikir kita dalam beragama, yang selama ini dikenal rahmatan lil alamin, lanjut Amhal. Tapi, secara positif, kita mesti melihatnya juga sebagai sarana bijak dan egaliter dalam mempelajari Islam dengan kegairahan dan semangat modernitas yang elegan.

”Kemajuan ini mesti disambut dengan positif dan dijadikan sarana menciptakan karya-karya kolaboratif yang bermanfaat buat siswa belajar dan mengembangkan pesan agama yang menyejukkan buat semua umat,” ujar Pengawas Madrasah Kanwil Kemenag Jateng itu serius.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article