Rektor Universitas AMIKOM Purwokerto Berlilana menuturkan, gaya pesan dan bahasa hoaks itu bisa ditandai dengan beberapa ciri. ”Yang mencolok, salah satunya intensitas sebaran pesannya sangat tinggi dan narasinya provokatif,” kata Berlilana saat menjadi pembicara dalam webinar literasi digital bertema “Pilah Pilih Informasi di Ruang Digital” yang digelar Kementerian Kominfo untuk masyarakat Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Senin (8/11/2021).
Dalam webinar yang diikuti ratusan peserta itu, Berlilana juga menyebut, pesan hoaks biasanya juga memiliki pungtuasi yang berlebihan. Misalnya dilengkapi embel embel kalimat ”Fakta Terbaru”. ”Gaya bahasa hoaks ini nirbaku, alias seenaknya, tak sesuai ejaan yang disempurnakan, dan berusaha mendekatkan dengan audiens,” ujarnya.
Selain itu, gaya bahasa hoaks juga biasanya menyisipkan kata kerja imperatif. ”Misalnya, akan selalu disisipkan kata ’Sebarkan! Viralkan!’” kata Berlilana. Namun, yang juga sering ditandai dari gaya bahasa hoaks adalah sarkasmenya. Yang menggunakan kata-kata pedas untuk menyakiti orang lain. Bisa berupa cemooh atau ejekan kasar.
”Untuk menangkal itu. kita perlu literasi media, sebagai modal kemampuan dalam memilih, memahami, mempertanyakan, mengevaluasi, membuat dan atau memproduksi dan menanggapi dengan cermat media yang kita konsumsi,” kata dia.
Berlilana menilai literasi penting demi memberi kemampuan warga untuk mengakses, menganalisis, dan mengevaluasi informasi tertentu yang disampaikan melalui media massa. “Sebab siapa pun rawan menjadi korban hoaks, mulai generasi baby boomers sampai generasi Alfa semua rentan terpapar,” tambahnya.
Hanya saja untuk generasi baby boomers yang lahir 1946 -1964 rawan karena generasi ini sudah tidak terlalu tertarik pada problematika teknologi dan sejenisnya. Begitu pun generasi X yang lahir pada 1965 -1981 yang merupakan digital immigrant dan yang cenderung paling rawan menjadi korban hoaks.
“Karena generasi X ini tumbuh dewasa tanpa menggeluti perangkat teknologi namun sudah menggunakan perangkat teknologi,” tuturnya.
Narasumber lain, Dosen ITT Purwokerto Alfin Hikmaturokhman menuturkan meningkatkan kemampuan literasi digital dapat dilakukan dengan berbagai jalan.
“Bisa dengan membenahi infrastruktur fasilitas publik untuk mendukung pemerataan literasi digital, juga dengan pelatihan dan kegiatan intens literasi digital di masyarakat berbagai kalangan,” kata Alfin.
Selain itu, peningkatan literasi bisa juga dengan sosialisasi penggunaan internet yang benar dan keberadaan UU ITE. Webinar yang dimoderatori Nabila Nadjib itu juga menghadirkan narasumber dosen UTY Ade Irma Sukmawati, dosen UNY Gilang Jiwana Adikara, serta Tya Yuwono sebagai key opinion leader.