Kamis, Januari 20, 2022

Mengajak milenial menjadi penggerak literasi digital

Must read

Masyarakat Indonesia semakin akrab dengan internet dan teknologi informasi dan komunikasi dari tahun ke tahun. Perubahan drastis terjadi dalam dua tahun terakhir saat pandemi memaksa semua masyarakat untuk mau tidak mau menggunakan teknologi untuk berbagai aktivitas. Lalu milenial yang sudah sejak awal akrab dengan teknologi menjadi pihak yang mudah untuk melakukan adaptasi, mereka juga mengemban tugas untuk mau menjadi penggerak literasi digital untuk mewujudkan ruang digital yang aman dan etis. Hal ini dibahas dalam webinar literasi digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Kominfo untuk masyarakat Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, dengan tema “Milenial sebagai Penggerak Literasi Digital”, Senin (29/11/2021)

Dipandu oleh presenter Subki Abdul, webinar diisi oleh empat narasumber: Abas F. Basuni (Director of Joglo Property), Ragil Triatmojo (Blogger), Rizqika Alya Anwar (Head of Operation PT Cipta Manusia Indonesia), dan Anis Farizi (Digital Business Betanews. Id). Turut bergabung Gina Sinaga (Public Speaker) sebagai key opinion leader. Masing-masing narasumber membedah tema diskusi dari sudut pandang empat pilar literasi digital, yaitu digital ethics, digital culture, digital skill, dan digital safety.

Anis Farizi mengatakan, kehadiran media digital dan berbagai fasilitas teknologi informasi dan komunikasi sangat membantu dan mempermudah berbagai aktivitas. Dari bidang pendidikan, pembelajaran kini dapat dilakukan dengan lebih fleksibel dan sumber bacaan yang melimpah, media digital juga memudahkan dan memotong biaya pemasaran, dan hiburan juga didapatkan dari pertunjukan virtual atau konten-konten di berbagai platform.

Dari berbagai kemudahan tersebut, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan. Pengguna media digital mesti mengasah kecakapan digital agar dapat memanfaatkan TIK dengan lebih optimal, sadar dengan potensi ancaman keamanan, mampu menerapkan etika untuk menciptakan ruang digital yang nyaman dan aman dari konten-konten negatif, serta memperkuat nilai budaya agar tidak tergerus globalisasi.

“Perkembangan dunia digital memberikan dampak positif dan dampak negatif, oleh sebab itu pengguna selain mampu mengakses informasi juga harus mampu memilih dan memilahnya untuk dipahami. Kemudian menganalisis, memverifikasi, dan mengevaluasi informasi untuk diolah atau sebelum dibagikan ke khalayak,” ujar Anis Farizi tentang kompetensi literasi digital.

Lalu kaitannya dengan budaya digital, pengguna media digital atau generasi milenial secara khusus harus perlu menguatkan karakter dalam berbangsa dengan menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dalam bermedia. Menjunjung budaya ketimuran yang mengedepankan nilai sopan santun, toleransi, dan gotong royong.

“Untuk menjadi penggerak literasi digital, milenial berperan untuk memproduki konten-konten positif yang memiliki nilai Pancasila di dalamnya serta mendistribusikan konten untuk mencapai jangkauan yang lebih luas, serta proaktif berpartisipasi dan berklaborasi menumbuhkembangkan karakter budaya bangsa di ruang digital,” lanjutnya.

Abas F. Basuni menambahkan, generasi milenial memiliki karakter yang unik dengan orientasi sukses dan menjadi pribadi yang bermanfaat, memiliki rasa toleransi, kompetitif, kreatif, dan inovatif serta haus perhatian. Oleh sebab itu kehadiran media digital menjadi ruang yang tepat bagi milenial untuk berekspresi. Hanya saja catatan bagi generasi digital native ini adalah untuk mengasah keterampilan dan pemahaman literasi digital, agar media digital tidak hanya dimanfaatkan untuk hal-hal konsumtif.

Selain itu, kebiasaan milenial yang suka dan bebas berekspresi perlu dibekali dengan pemahaman tentang keamanan digital. Sebab sangat memungkinkan ekspresi yang berlebihan justru mengantarkan pada ancaman keamanan berupa pencurian data, atau kejahatan siber lainnya.

”Data pribadi dewasa ini menjadi komoditi baru, karena itu penting untuk melindungi data dan memproteksi perangkat digital. Gunakan password yang sulit dan berbeda pada setiap akun, serta jangan membagikan informasi khususnya data pribadi terlalu banyak di media sosial. Menghargai privasi orang lain dengan tidak membagikan data pribadi tanpa izin dari yang bersangkutan,” jelas Abas.

Ketika berselancar di internet, imbuh Abas, pastikan untuk memperhatikan URL dari situs agar jangan sampai terjebak dengan situs palsu yang bermaksud mencuri data. Serta berhati-hati menggunakan wifi publik gratis karena rentan disusupi peretas. Oleh sebab itu sebaiknya tidak melakukan transaksi daring atau aktivitas yang membutuhkan pengisian data.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article