Kamis, Januari 20, 2022

Pentingnya kemampuan digital safety agar menjadi masyarakat digital pintar

Must read

Pemuda merupakan pemimpin perubahan di era digital. Pemuda mestinya tidak dibatasi usia, karena semua harus tetap muda dan harus terus dibekali dengan yang terkini, serta terbaru.

Founder & CEO Jogjania.com, Jota Eko Hapsoro mengatakan, kondisi saat ini telah terjadi tsunami informasi di media digital. Ia menyebut, dalam satu menit diperkirakan ada 70 juta pesan instan dikirim melalui WhatsApp atau Facebook Messenger.

”Ada sebanyak 695.000 postingan Instagram Stories dan 200.000 tweet dalam satu menit,” katanya dalam webinar literasi digital dengan tema ”Menjadi Masyarakat Digital yang Pintar” yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk warga Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Selasa (30/11/2021).

Menurut Eko, dengan terjadinya tsunami informasi di media digital ini bisa memunculkan persaingan dalam memproduksi dan menyebarkan sebuah konten yang viral yang negatif dan unfaedah.

Eko mengatakan, dalam menjaga ruang digital dari hal negatif ini perlu adanya kemampuan digital safety. Ia menyebut digital safety merupakan kemampuan individu dalam mengenali, mempolakan, menerapkan, menganalisis dan meningkatkan kesadaran keamanan digital dalam kehidupan sehari-hari.

Setiap hari, lanjut Eko, ada jenis modus baru kejahatan digital dan semakin berkembang seiring dengan berkembangnya teknologi. Selain itu, ancaman lain berupa penggunaan akun palsu atau curian yang bisa merugikan pengguna lainnya.

”Akun palsu ini biasanya berpura-pura sebagai keluarga atau orang yang dikenal. Lalu, tidak meminta uang tapi meminta data rahasia seperti foto identitas atau mengarah ke situs phising ketika bertujuan untuk mencari keuntungan atau membuat reputasi korban menjadi buruk,” ujarnya.

Narasumber lainnya, CEO Jaring Pasar Nusantara, Muhamad Achadi mengatakan, transformasi digital bukan tentang teknologi semata, melainkan lebih banyak tentang faktor manusia menjadi pintar di era digital.

Masyarakat yang dimaksud yakni yang mereka siap beradaptasi dengan memanfaatkan teknologi dan informasi digital secara bijak, bertanggung jawab dan bermanfaat untuk kepentingan bersama.

Bagi Achadi, teknologi selalu berorientasi pada cara yang paling efisien tetapi menghasilkan sesuatu yang sebesar-besarnya. Ia menyebut era disrupsi teknologi umumnya mengarah pada otomatisasi dan penghapusan pekerjaan lama dan munculnya pekerjaan baru. ”Teknologi dengan cepat mengambil alih fungsi manusia, dan kewajiban kita selalu berinovasi,” katanya.

Achadi menambahkan, manusia selalu menjadi faktor utama dalam beradaptasi dan berinovasi. Namun inovasi yang paling brilian tidak akan relevan jika tidak cukup terampil untuk menggunakannya.

“Warga digital yang pintar adalah yang menggabungkan potensi soft skill dan hard skill untuk pekerjaan yang relevan dan mampu bertumbuh dalam lingkungan yang digital,” ujarnya.

Achadi menekankan dalam penggunaan teknologi agar memiliki kemampuan budaya digital. Yakni, kemampuan individu dalam membaca, menguraikan, membiasakan, memeriksa dan membangun wawasan kebangsaan, nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari.

”Disrupsi informasi dan teknologi menuntut kita untuk lebih cepat berubah dan beradaptasi. Teknologi akan cepat lahir, kemudian mati dan lahir kembali. Inovasi dan adaptasi menjadi kunci kita melewati suatu perubahan,” ucapnya. Dipandu moderator Anneke Liu, webinar kali ini juga menghadirkan narasumber lain yakni Jeffry Yohanes Fransisco (CEO JF Autowear), Widiasmorojati (Entrepreneur), dan The Voice Indonesia 2016, Vocalis LYLA Band, Ario LYLA, selaku key opinion leader.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article