Kamis, Januari 20, 2022

Adaptasi digital, keharusan untuk kemajuan pendidikan

Must read

Kemajuan teknologi merupakan pilihan mutlak untuk kemajuan pemerintah dan daerah. Kota Semarang juga mengalami fase perubahan yang cepat dengan memanfaatkan kemajuan dan perkembangan teknologi, salah satunya dalam pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan secara daring.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyampaikan, siap tidak siap adaptasi ke digital adalah hal mutlak. Meskipun secara umum adaptasi pembelajaran secara daring belum siap secara sarana dan kecakapan, namun keterampilan selalu dapat ditingkatkan dengan belajar dan keinginan untuk mau belajar.

“Mari pengalaman yang sudah berjalan hampir dua tahun ini kita evaluasi dengan melakukan perbaikan kualitas pendidikan. Mari kita, para guru dan masyarakat unuk meningkatkan kualitas literasi digital untuk Indonesia yang lebih maju, Jateng yang gayeng, dan Semarang yang hebat,” ujar Hendrar Prihadi saat menyampaikan kata sambutan dalam webinar literasi digital bertema “Pentingnya Pemahaman Peran Guru dalam Paradigma Pendidikan di Era Digital”, Jumat (3/12/2021).

Menyambung diskusi, Koordinator Pusat Layanan Data dan Informasi LPTIK Universitas Jambi Pradita Eko Setyo Utomo menyampaikan bahwa ada atau tidak adanya pandemi Covid-19 pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran sudah menjadi keniscayaan. Pandemi menjadi katalisator yang mempercepat adaptasi ke digital.

Era digital saat ini tidak memililki keterbatasan waktu dan ruang untuk memperoleh informasi. Peserta didik bisa jadi mendapatkan informasi lebih cepat dari gurunya. Era digital membuat informasi apapun bisa masuk, baik itu hal buruk atau hal positif. Oleh sebab itu, harus ada filter atau penyaringan informasi, di dunia pendidikan guru berperan menjadi filter untuk meluruskan agar tidak terjadi degradasi moral.

Masyarakat digital Indonesia sangat loyal dalam penggunaan internet, terlihat dari lama waktu yang dihabiskan yaitu hampir sembilan jam penggunaan rata-rata per harinya. Sehingga diperlukan pemahaman literasi digital agar akses internet yang digunakan bisa sebanding dengan pengetahuan yang didapatkannya.

“Literasi digital tidak sebatas membicarakan teknologi itu sendiri, tetapi juga lebih pada cara berliterasi secara benar. Kewargaan digital menjadi hal dasar yang perlu ditanamkan bagi peserta didik untuk memasuki dunia digital yang semakin berkembang. Salah satunya adalah pengelolaan keamanan siber,” kata Eko kepada 300-an peserta webinar.

Aman bermedia digital, pertama guru dan orang tua perlu memahami keselamatan anak di media digital dengan mengedukasi ancaman keamanan digital, berdiskusi apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, mengedukasi pentingnya mengamankan data diri. Data pribadi merupakan kunci keamanan sehingga harus dijaga. Karena penipuan digital juga memanfaatkan kelemahan penggunan agar mau memberikan data tanpa disadari.

“Mengelola keamanan privasi dan identitas digital dengan fitur pengamanan ganda, tidak mudah menyebarkan data pribadi, serta memahami rekam jejak digital. pastikan saat mengakses media dan melakukan registrasi untuk memperhatikan kredibilitas situsnya, memhamami isi konten dan melakukan filter informasi,” jelasnya.

Di sisi lain Trainer Matematika Nasional Yogo Dwi Prasetyo menambahkan bahwa literasi digital dalam pendidikan itu mencakup kecakapan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk mencari informasi dan mengevaluasinya, serta membuat dan mengkomunikasikan informasi tersebut dalam bentuk konten digital.

“Cakap bermedia digital dalam pembelajaran adalah bagaimana pendidik dapat memanfaatkan platform-platform kelas virtual sesuai kebutuhan dan kondisi peserta didik. Menggunakan media digital untuk mengunggah materi belajar yang dapat diunduh dan diakses peserta didik. Memberikan tugas yang tidak berlebihan, serta sesegera mungkin memberikan feedback dan evaluasi terhadap tugas yang sudah dikumpulkan,” ujar Yogo.

Guru dapat leluasa memanfaatkan berbagai platform digital untuk membuat konten belajar yang menarik, memadukan metode synchronus dan asynchronus. Serta mengajak peserta didik untuk dapat melakukan active learning, misalnya melalui virtual lab untuk pembelajaran.

Webinar yang dipandu oleh Anneke Liu (Praktisi Komunikasi) juga dihadiri oleh Anggota Komisi IX DPR RI sebagai keynote speaker, serta narasumber lain: Kak Aji Syafa (Trainer Smart Teaching dan Founder Syafa Management), Hilda Rachmawati (Manager Departemen Program XinWen Metro TV), juga Shafinaz Nachiar (News Presenter RCTI) sebagai key opinion leader.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article