Kamis, Januari 20, 2022

Grab amblas di Nasdaq

Must read

Oleh Eddy Herwanto

Grab terhitung nekad  menjual saham melalui Bursa Nasdaq 2 Desember 2021 saat ekonomi dunia  terancam Omicron virus korona jenis baru. Dibuka dengan harga perdana US$ 13,06 per lembar, harga saham Grab langsung amblas 33% hingga ditutup pada harga US$ 8,75 pada hari pertama go public. 

Investor mungkin masih meragukan, Grab yang masih rugi tiga tahun terakhir selama 9 tahun berdiri bisa membuat bottom line berubah jadi biru. Ambruknya saham Grab seperti mengulang listing Uber (Amerika), pelopor ride hailing, yang masuk Nasdaq Mei 2019 pada harga perdana US$ 40 yang amblas hingga beberapa bulan kemudian.

Didirikan 2012 oleh Tan Hoo Ling dan Anthony Tan (teman sekelas Nadiem Makarim, pendiri Gojek, di Harvard), Grab platform super aplikasi itu menyediakan layanan ride hailing (transportasi), jasa pemesanan makanan, hingga sistem pembayaran. Pelayanannya sudah menjangkau 8 negara Asia Tenggara.

Seteru head to head Grab adalah Gojek yang – setelah merjer dengan e-commerce Tokopedia, kemudian disebut GoTo – menjadi superapp yang memiliki ekosistem lebih lengkap. Rontoknya Grab di Nasdaq tampaknya akan membuat pemegang saham GoTo berpikir ulang untuk juga masuk Nasdaq 

Sebelum masuk Nasdaq (Amerika), Grab bergabung Altimeter Growh Group, sebuah perusahaan yang mengkhususkan aktivitas akuisisi atau Special Purpose Acquisition Company (SPAC) dengan nilai US$ 40 miliar yang sudah lebih dulu listing di Nasdaq. Grab kemudian masuk Nasdaq dan disebut sukses menggalang dana US$ 4,5 miliar – dengan US$ 4 miliar di antaranya merupakan private investment

Sehari sebelum Grab listing, saham Uber Technoligies dan Lyft, keduanya anjlok 11% di Nasdaq – juga saat pasar sedang bearish karena ancaman Omicron – Grab justru nekad masuk dan ambruk.

Fundamental Grab sendiri kurang keren. Pada kuartal kedua 2020 dengan pendapatan sekitar US$ 100 juta, Grab rugi US$ 700 juta kemudian pada kuartal ketiga 2021 dengan pendapatan kurang dari US$ 200 juta kerugiannya mencapai US$ 988 juta. Grab bisa tetap survive berkat injeksi modal para raksasa pemegang sahamnya seperti SoftBank, Ali Baba, Toyota Motor, Microsoft, dan Temasek yang beririsan dengan pemegang saham GoTo 

Grab menyatakan memiliki 22,1 juta pengguna aktif setiap bulannya hingga kuartal ketiga 2021. Mitra Grab (pengemudi kendaraan roda empat dan dua) berjumlah 5 juta orang dan 2 juta pedagang yang terdaftar memanfaatkan platformnya. Pengelolaan Grab dilakukan oleh lebih dari 8.300 di seluruh kawasan Asia Tenggara per 30 September, dengan kantor pusatnya di Singapura. Saat disambar Covid-19, Grab sempat memecat 5% stafnya di 2020.

Diakui kehadiran Grab di sejumlah negara ASEAN seperti juga Gojek telah menciptakan banyak lapangan kerja sebagai mitra pengemudi mobil atau motor, juga memberi kekuatan pada pengusaha kecil menjajakan produk dan jasa mereka pada kedua platform superapp itu serta mempromosikan inklusi keuangan bagi UMKM yang tak memiliki rekening bank. Menurut suatu survai Juni lalu sekitar 46% mitra ride hailing Grab belum pernah bekerja sebagai pengemudi sebelumnya (asia.nikkei.com 2 Desember 2021).            

Keberhasilan Grab memperoleh dana murah US$ 4,5 miliar itu membuat struktur modalnya lebih sehat, sehingga bisa menjamin keberlanjutan usahanya. S&P Global Rating kemudian menyematkan peringkat Grab B –  S&P percaya dengan membaiknya perekonomian pasca Pandemi Covid-19, arus kas operasional Grab akan surplus pada 2023, sehingga menghindarkannya dari aktivitas membakar uang (businesstimes.com.sg 2 Des.2021)

Toh pukulan pandemi Covid-19 tetap terasa dalam hingga pada akhir kuartal ketiga September pendapatan Grab anjlok 9% menjadi US$ 157 juta. Di Vietnam dan Filipina yang sedang berusaha menanggulangi Covid-19 dengan pembatasan pergerakan warga, pendapatan Grab turun jauh di sana. Padahal saat mengambilalih Uber tahun 2018, Grab berharap bisa berlari lebih kencang, tapi siapa sangka langkahnya dihadang wabah korona. 

Karenanya pengamat pesimistis Grab bisa meraih laba pada 2023 – sekalipun seperti Uber, Grab berusaha memperluas pelayanan globalnya. Sampai saat ini, Grab sudah hadir di 8 negara atau 465 kota di Asia Tenggara. Kandasnya Grab di hari pertama itu mengingatkan pengalaman pahit Uber. GoTo rasanya bisa belajar dari amblasnya saham Grab di Nasdaq.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article