Kamis, Januari 20, 2022

Mengapa kemampuan literasi digital wajib dimiliki kalangan milenial

Must read

Milenial sebagai penggerak literasi digital. Sementara, keamanan digital adalah konsep penggunaan internet untuk melindungi diri sendiri atau orang lain dari kemungkinan bahaya maupun risiko di dunia online.

Hal itu dikatakan oleh Founder Istar Marketing Center, Isharsono dalam webinar literasi digital dengan tema “Milenial Sebagai Penggerak Literasi Digital” yang digelar Kementerian Kominfo dan Debindo bagi warga Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, pada Jumat (3/12/2021).

Isharsono mengungkapkan internet safety juga bisa diartikan sebagai konsep penggunaan internet secara bijak dan sesuai dengan etika atau norma yang berlaku, tanpa membahayakan keamanan diri sendiri atau orang lain.

Adapun aspek dari keamanan digital ini di antaranya aman secara konten isi dan narasi. Lalu, aman secara perangkat hardware dan software.

Menurut Isharsono, keberadaan teknologi internet atau dunia maya tidak bisa dihindari dan sudah menjadi sebuah keniscayaan masa kini. Karakteristik dunia maya ini berupa beroperasi di ruang digital atau virtual.

Lalu, dunia tanpa batas, selalu berubah dengan cepat, dapat melaksanakan aktivitasnya tanpa menunjukkan identitasnya, dan informasi bersifat publik, juga privat.

Isharsono mengimbau agar pengguna selalu menjaga perilaku, dan berhati-hati di media sosial. Sebab adanya jejak digital, serta posting-posting konten selalu ada konsekuensinya.

Isharsono membeberkan cara aman melindungi akun platform digital yakni menggunakan password yang sulit ditebak, misal unik, aneh, keren dan tidak umum.

Kesimpulan literasi digital intinya, kata Isharsono adalah kemampuan untuk bisa mencari, menemukan, menggunakan, menyebarluaskan kembali informasi yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan dalam menggunakan media digital.

“Literasi digital merupakan salah satu keterampilan yang harus dikuasai oleh pengguna internet dan generasi milenial harus punya kemampuan itu,” katanya.

Narasumber lain, Pengurus Universitas Terbuka Kabupaten Cirebon, Warsidi mengatakan ada banyak peluang dan tantangan pembelajaran di era digital. Pertama berupa berpikir kritis dan pemecahan masalah, lalu kreatif dan inovatif. “Kemudian juga kolaboratif dan komunikatif,” ujarnya.

Warsidi mengatakan budaya digital itu penting karena penetrasi internet yang tinggi dalam kehidupan masyarakat. Selain itu perubahan perilaku masyarakat dari media konvensional ke digital seperti belajar, bekerja, bertransaksi, berjejaring sosial, dan kemudian juga situasi pandemi memicu percepatan interaksi digital.

“Perlu adanya penguatan karakter dalam dunia digital, yaitu kesadaran diri, tanggung jawab, dan integritas kelima nilai-nilai kebijakan,” kata Warsidi.

Budaya digital atau digital culture sudah menjadi tatanan kehidupan baru masyarakat. Hal ini juga memengaruhi gaya interaksi masyarakat sehingga menimbulkan kebiasaan baru, seperti menggunakan media sosial, berbelanja online, melakukan pembayaran digital, pendidikan online, dan work from home (WFH).

Budaya digital sejatinya merupakan hasil olah pikir, kreasi, dan cipta karya manusia berbasis teknologi internet. Perkembangan budaya digital sangat ditentukan oleh penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Karenanya, penting bagi masyarakat untuk mendapatkan literasi soal ini.

Dipandu moderator Subki Abdul, webinar kali ini juga menghadirkan narasumber lain yakni Dewi Bunga (Dosen UHN IGB Sugiwa Denpasar), Rizqika Alya Anwar (Head of Operation PT Cipta Manusia Indonesia), dan Profesional Public Speaker, Nandy Gita, selaku key opinion leader.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article