Jumat, Januari 27, 2023

How low can you go?

Must read

Catatan Eddy P Kasdiono

Dalam 10 tahun terakhir ini, Amerika Serikat menjadikan China bagian supply chain bagi industrinya. Banyak barang bermerek AS diproduksi di China, sebelum dijual ke negara lain dan diimpor balik ke AS.

Situasi berubah di tangan Donald Trump, naiknya tarif barang dari China masuk ke AS, mendorong relokasi pabrik-pabrik ke luar China. 

Lokasi paling banyak dipilih adalah Vietnam, beberapa ke Thailand, Filipina dan no one to Indonesia.

Hal ini membuat Presiden RI Joko Widodo desperate, dan melonggarkan berbagai aturan, termasuk menyodorkan omnibus law yang kontroversial itu.

Apakah kemudahan peraturan investasi pendorong utama relokasi industri (foreign direct investment) dari China ke Vietnam? Sehingga kita perlu menirunya?

Mengapa pemilik pabrikan, mereka ini taipan-taipan China (yang memproduksi barang-barang bermerek AS) di China memilih Vietnam?

China is the best choice bagi pemilik merek (AS) untuk buka pabrik, sebab infrastrukturnya sudah jadi dan paling siap.

Gampangannya kalau kita search Baidu (Google dilarang di China) “pabrik mesin”, maka hasilnya bisa ratusan sampai ribuan, yang bisa dipilih untuk made to order barang.

Vietnam? Lha, jumlah penduduknya 1/16 penduduk China. Sebentar lagi mereka juga bakal kehabisan tenaga kerja.

So, can we do that?

Salah satu alasan pilih Vietnam adalah rendahnya upah buruh.

Vietnam’s monthly minimum wages in 2019 vary by region from $125 to $180, with the highest rates in urban areas like Ho Chi Minh City and Hanoi. These wages are sometimes half of China’s which vary by province from about $140 to $346.

Upah buruh China (4.844 K) berdekatan dengan upah buruh Bekasi (4.499 K) pada kurs USD  Rp 14.000.

Can we do that? Or how low can you go?

Jakarta, 11.2.2020

Artikel sebelumnya
Artikel berikutnya
- Advertisement -

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

Latest article