Kamis, Februari 22, 2024

Menyoal Bapak Pers Indonesia di HPN 2023

Must read

Catatan Marah Sakti Siregar

SIAPAKAH Bapak Pers Indonesia? Versi lama dan masih berlaku sampai sekarang: Tirto Adhi Soerjo. Dia, wartawan. Pemimpin Redaksi ‘Pemberita Betawi’ (1902), ‘ Soenda Berita’ (1903) dan pendiri koran ‘Medan Prijaji (1907). Tirto, nama singkatannya T.A.S., dinobatkan sebagai Bapak Pers Indonesia dengan Surat Keputusan Dewan Pers tahun 1973.

Versi lama ini, minggu lalu, mulai digugat dan dipersoalkan. Dalam ‘Seminar Seruan Pers dari Sumatera Utara: Pers Bebas, Demokrasi Bermartabat’ yang diadakan Panitia Konvensi Nasional Media Massa Hari Pers Nasional (HPN) 2023 pada 8 Februari 2023 di Hotel Grand Mercure, Medan, salah satu pembicara di seminar itu, DR Phil. Ichwan Azhari, MS, mantan wartawan, yang kini jadi dosen Pendidikan Sejarah di Universitas Negeri Medan (Unimed), menyatakan selain T.A.S. sebenarnya ada tokoh wartawan pejuang dari Sumatera Utara, namanya, Dja Endar Moeda Harahap, yang juga pantas menyandang gelar Bapak Pers Indonesia.

DR Ichwan Azhari sedang menjelaskan kiprah Dja Endar Moeda di Pameran Pers HPN 2023 di Medan.

DR Ichwan Azhari kemudian memaparkan data dan fakta hasil penelitiannya terkait kedua tokoh pers itu. Dja Endar Moeda, lahir di Padang Sidempuan, Sumatera Utara, tahun 1861, dengan nama lain setelah menunaikan ibadah haji: H. Mohammad Saleh. Sedangkan T.A.S., lahir di Blora, Jawa Tengah, 1880, dengan nama asli: Raden Mas Djokomono.

Rekam jejak kewartawanan kedua tokoh itu, kata Dr Achwan Azhari, hampir mirip. Tapi, berselisih tahun, Dja Endar Moeda, (disingkat DjEM) lebih senior. DjEM tercatat sudah menjadi editor dan koresponden majalah bulanan pendidikan ‘Soeloeh Pengadjar’ yang terbit di Probolinggo, Jawa Timur, pada tahun 1887. Sedangkan T.A.S. menjadi redaktur kepala (1901) dan pemimpin redaksi ‘Pemberita Betawi’ (1902).

Pada 1893, DjEM, wartawan yang juga seorang guru, diangkat menjadi redaktur di koran ‘Pertja Barat’ yang didirikan Lie Bian Goan di Padang. Empat tahun kemudian, pada tahun 1987, DjEM mengambil alih kepemilikan koran itu dan menjadi pemimpin redaksinya.

Sementara itu, T.A.S. setelah memimpin ‘Pemberita Betawi’ dan ‘Soenda Berita’, pada 1907 menerbitkan dan sekaligus menjadi pemimpin redaksi surat kabar ’Medan Prijaji ‘ di Bandung. Koran ini disebut-sebut sebagai mingguan berbahasa melayu pertama di Indonesia. Selain berbahasa melayu, mingguan ini sepenuhnya dikelola oleh awak dan staf pribumi.

Misi surat kabar ‘Medan Prijaji’, menurut T.A.S. adalah untuk mengubah cara pandang masyarakat bumiputera terhadap peristiwa yang terjadi di Hindia Belanda. ‘Medan Prijaji’ memiliki tujuan sebagai sarana bagi masyarakat bumiputera untuk mendapatkan informasi sekaligus sebagai surat kabar pembela rakyat.

Setelah mengibarkan misi korannya dalam melakukan edukasi publik dan kontrol sosial melalui berbagai tulisan kritis terhadap pihak yang berkuasa, T.A.S. bergerak maju dan tercatat mendirikan perusahaan penerbitan pertama milik pribumi bersama dua rekannya: Haji Mohamad Arsjad dan Pangeran Oesman.

- Advertisement -

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

Latest article