Sabtu, Juni 22, 2024

PP Muhammadiyah luncurkan program bina damai untuk pemuda Palestina

Must read

Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasional (LHKI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah didukung oleh Lembaga Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazis) Muhammadiyah meluncurkan program bina damai atau peacebuilding lab untuk 200 pemuda di Palestina.

Program inovatif ini akan dimulai Juni 2024, berupa pembinaan perdamaian bertajuk ”Multicultural Dialogue and Capacity Building for Palestine: Peace Building Lab, Being a Change Agent” atau disingkat ”Palestine Peacebuilding Lab.”

”Inisiatif programnya datang dari LHKI, dalam bentuk pelatihan-pelatihan. Nanti, kaum muda ini akan mengkampanyekan proses bina damai tanpa kekerasan ke berbagai macam asosiasi dan organisasi kepemudaan di berbagai kota asal mereka masing-masing,” kata Pemimpin Program sekaligus Sekretaris LHKI PP Muhammadiyah, Yayah Khisbiyah, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (27/5).

Yayah menjelaskan, program tersebut berfokus pada pemberdayaan komunitas-komunitas di Palestina yang digandeng oleh PP Muhammadiyah, bekerja sama dengan beberapa organisasi nirlaba lokal di Palestina selaku mitra utama LHKI Muhammadiyah, yakni Witness-Shahid Center dan The Holy Land Trust.

Community development juga harus digarisbawahi di sini, karena ini penting. Kami berharap, Lazismu bisa mengkoordinasikan, mengelola bantuan yang holistik dalam berbagai macam program yang saling mengisi,” ujarnya.

Program Binadamai Palestina ini, lanjut Yayah Khisbiyah, akan melengkapi berbagai bentuk bantuan nyata yang selama ini dilakukan Muhammadiyah untuk Palestina, utamanya oleh LazizMu, Majelis Diktilitbang, MDMC-LRB, dan MuhAid-LHKI.

”Bantuan nyata tersebut di antaranya humanitarian relief, Emergency Medical Team, beasiswa bagi mahasiswa/i Palestina di perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA), serta program Community Development. Kesemua program merupakan dukungan komprehensif Muhammadiyah bagi upaya kemerdekaan dan perdamaian Palestina,” urai Yayah.

Program Binadamai Muhammadiyah untuk Palestina ini memfasilitasi kampanye/advokasi melalui storytelling, peningkatan kapasitas kaum muda dan perempuan Palestina dalam bidang dialog multikultural nir-kekerasan dan diplomasi binadamai, dukungan psikososial untuk pemulihan trauma perang, serta pertukaran kunjungan untuk internasionalisasi dakwah Muhammadiyah di Palestina serta memperkuat dukungan publik bagi kemerdekaan dan perdamaian positif bagi Palestina.

LHKI Muhammadiyah bekerja sama dengan beberapa NGO lokal non-profit berdomisili di Palestina, dengan mitra utama Witness-Shahid Center yang berfokus pada hak asasi warga, kesetaraan gender, dan keadilan sosial-ekonomi, serta The 2 Holy Land Trust yang bergerak di bidang nir-kekerasan, penciptaan perdamaian, dan peningkatan kesadaran sosial-politik di Palestina, serta beberapa organisasi akar-rumput yang akan dikoordinir oleh Witness Center.

Yayah Khisbiyah (tengah), Pimpinan Program Palestine Peacebuilding Lab (Foto: Antara)

Strategi Kebudayaan

Yayah Khisbiyah menambahkan, program Palestina Peacebuiding Lab merupakan strategi kebudayaan untuk melengkapi strategi advokasi, kampanye global, pembangunan masyarakat, dan diplomasi track-1 bagi penyelesaian perang Israel-Palestina.

”Tujuan utama program ini adalah memperjuangkan pemberdayaan dan inklusi kaum muda sebagai katalis transformasi konflik, dan memperkuat keamanan manusia (human security) bagi pengungsi dan korban perang khususnya dari Gaza,” urainya.

Program ini diharapkan dapat berkontribusi dalam proses binadamai yang dilakukan oleh berbagai mitra dan stakeholders untuk masa depan Palestina merdeka yang berkeadilan dan berkemakmuran.

Menurut Yayah, inisiatif program ini mencakup berbagai kegiatan. Di antaranya, pertama, mengembangkan kapasitas kaum muda dan perempuan dalam dialog multikultural berpendekatan nir-kekerasan, kemampuan diplomasi untuk penyelesaian konflik.

Kedua, peningkatan kesadaran melalui media untuk memerangi ujaran kebencian, misinformasi, stereotip dan diskriminasi. Ketiga, menguatkan resiliensi psikososial melalui konseling psikoedukasi pemulihan trauma perang.

Keempat, advokasi kebijakan melalui kampanye global untuk Gaza/Palestina, dan kelima, kunjungan timbal-balik antara Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan delegasi mitra multi stakeholders Palestina ke Jakarta-Yogyakarta (Indonesia), dan ke Tepi Barat-Ramallah (Palestina)

”Penerima manfaat antara lain mencakup korban perang dan genosida Israel di Gaza, pengungsi Gaza, kaum muda dan perempuan sebagai aktivis perubahan maupun sebagai korban yang terkena dampak konflik, serta penyandang disabilitas di Tepi Barat bagian utara,” pungkas Yayah Khisbiyah.  

- Advertisement -

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

Latest article