Kamis, Februari 29, 2024

Jokowi dan fatamorgana mobil listrik

Must read

Oleh Farid Gaban – Ekspedisi Indonesia Baru

Pekan ini ada skandal. Mengutip pejabat pemerintah Indonesia yang tak disebut namanya, Bloomberg memberitakan bahwa Tesla sudah mendekati sepakat dengan Pamerintah Indonesia untuk membangun pabrik mobil listrik di sini. Berita itu segera dibantah oleh Elon Musk sendiri lewat Twiter. Cukup memalukan.

Pemerintahan Jokowi memang ngebet benar memikat investasi mobil listrik. Andalan Indonesia untuk mobil listrik adalah nikel (komponen baterai).

Begitu percaya diri punya cadangan nikel terbesar di dunia (meski cuma second-grade), Presiden Jokowi dan Menteri Luhut Panjaitan “sowan” ke Elon Musk dalam dua kesempatan berbeda, untuk membujuk Tesla bikin pabrik di Indonesia.

Tapi, Elon Musk sepertinya punya perhitungan sendiri.

Indonesia tidak memperhitungkan disrupsi (perubahan cepat) dalam teknologi mobil listrik sendiri, khususnya dalam komponen baterai. Indonesia masih berkutat pada baterai NMC (Nickel Mangaan Cobalt) yang akan segera usang.

Padahal, Jokowi sudah mempromosikan nikel sebagai andalan “nasionalisme ekonomi masa depan”. Dan sudah membuat sejumlah kebijakan berisiko untuk mewujudkannya.

Indonesia membuka besar-besaran investasi China (yang berkongsi dengan perusahaan beberapa jenderal Orde Baru) untuk membangun pengolahan nikel di Sulawesi dan Halmahera.

Nikel Indonesia adalah nikel kelas dua, yang baik tambang maupun pengolahannya lebih merusak alam dan lebih mahal.

Kita bisa melihat dampak lingkungan dan potensi konflik sosial akibat industri nikel di Morowali dan Weda Bay (Halmahera).

Untuk memperluas investasi asing, Pemerintahan Jokowi juga menerbitkan UU Omnibus Law yang kontroversial sampai titik mengambil risiko untuk inkonstitusional dan mencederai demokrasi.

- Advertisement -

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

Latest article