Jumat, Januari 27, 2023

Pak Jokowi, Anda lulus dengan nilai A

Must read

Untuk subjek Applied Sociology of Conflict.

  • Transforming Conflict into Cooperation

Dengan bergabungnya Pak Prabowo ke dalam kabinet pemerintahan 2019-2024, maka tensi dan intensitas kegaduhan pertentangan antar pihak (yang selama ini tinggi), ingin segera diakhiri oleh Presiden Jokowi. Dengan menurunnya tensi kegaduhan, maka publik dapat segera bekerja kembali secara produktif dan dengan hati tenang. Bukankah salah satu parameter kesejahteraan sosial adalah: ketenangan dan kedamaian dalam kehidupan sosial? Artinya, pak Presiden telah menjalankan fungsi quality assurance di bidang jaminan ketenangan batin bagi warganya.

Rivalitas, persaingan, adu-nyinyir dan saling-sindir serta perasaan risau berkesinambungan selama pilpres 2019 (ditingkahi aksi anarkis) hingga menjelang pelantikan Presiden dan Wapres 2019-2024, hanya membuat stress dan membebani pikiran publik saja. Hal-hal itu menggelayuti pikiran dan menggerus relasi-relasi sosial yang semestinya terbentuk secara positif. Presiden Jokowi tak ingin aura negatif itu terus bersarang di pikiran dan hati warganya yang menguras energi.

Tampaknya hal itulah yang merisaukan pak Jokowi sampai beliau memutuskan menarik masuk pak Prabowo ke dalam pemerintahan. Pak Jokowi ingin mengurangi tensi tersebut agar bangsa Indonesia segera move on bergerak maju bersama-sama. Pak Prabowo menyambut tawaran tersebut. Terjadilah rekonsiliasi politik yang genuine tanpa disorong-sorong oleh parpol selama ini.

  • Localizing Source of Remaining-conflict

Kalaupun kini masih ada kelompok tertentu yang menyebarkan semangat negatif dan bersuara miring, maka kini publik menjadi tahu bahwa pasti mereka bukan dari “gerbong” pak Prabowo maupun bukan dari “gerbong” pak Jokowi. Mereka bisa dengan mudah diidentifikasi dari mana asalnya dan segera dilokalisir suaranya. Inilah, solusi-manajerial dari pak Jokowi dalam mengelola konflik. Dalam kehidupan, konflik tak bisa dihapuskan. Ia hanya bisa ditekan hingga derajat yang tolerable.

Dengan cara ini, Pak Presiden melakukan gebrakan awal masa pemerintahannya yang kedua dengan mengimplementasikan “manajemen konflik” yang konstruktif. Inilah makna “social engineering” yang sejatinya. Tanpa disadari pak Jokowi telah menerapkan applied sociology yang mungkin tak pernah beliau pelajari secara formal di kampus UGM dulu. Pak Presiden langsung belajar dari pengalaman empiris. Beliau telah menjadi social-engineer dan melakukan applied sociology of conflict secara baik tanpa perlu membaca buku Lewis A Coser atau buku Sociology of Conflict-nya Randall Collins, terlebih dahulu.

Anda lulus dengan nilai A dari saya, Pak!🙂👍

Salam pagi dari dosen Mata Kuliah Teori Sosiologi (Klasik dan Kontemporer) di Prodi Sosiologi Pedesaan IPB.

Arya Hadi Dharmawan

- Advertisement -

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

Latest article