Rabu, Februari 28, 2024

Presiden sukses tapi kalap, lantas mungkar?

Must read

#SeninCoaching:

#Lead for Good: Success delusion

Mohamad Cholid, Certified Executive and Leadership Coach

Goenawan Mohamad dalam satu wawancara di televisi menceritakan, Erry Riana Hardjapamekas menemui Presiden Jokowi di Istana sebelum Mahkamah Konstitusi memutuskan aturan batas usia calon presiden dan wakilnya.

Erry, Wakil Ketua KPK 2003 – 2007, menyampaikan keprihatinan kalangan intelektual, budayawan dan golongan yang menjunjung tinggi keadaban berbangsa atas stabilitas politik dalam negeri. Mereka berharap Jokowi tidak salah langkah.

“Saya catat”, kata Jokowi merespon aspirasi yang disampaikan Erry – sebagaimana dituturkan Goenawan kepada Rosiana Silalahi, pewawancaranya di Kompas TV.

Mungkin benar aspirasi Erry dkk dicatat, tapi kelanjutannya beda. Jokowi bertindak sesuai skenario keluarganya yang didukung kroni dan klik istana, memanfaatkan Ketua Mahkamah Konstitusi, iparnya, untuk menegaskan niat membangun dinasti politik, menyambung kekuasaan. Hasilnya telah menimbulkan ketidakstabilan sosial dan politik hari-hari ini.

Jokowi oleh sejumlah pihak dianggap sukses sebagai Presiden atau CEO Indonesia. Sebagaimana orang-orang sukses di lingkungan bisnis dan apalagi di politik, Jokowi ternyata tidak kebal dari sindrom yang mewabah menjangkiti orang sukses di level mana pun di pelbagai negara.

Hasil studi Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching selama lebih dari dua dasawarsa terhadap puluhan ribu eksekutif dan leaders yang dinilai berprestasi mendapati fakta, orang sukses cenderung mendekap erat tiga paradigma: I am successful; I choose to succeed; I will succeed. Ada plus dan minusnya.

Ringkasnya begini: Hal positif pada I am successful antara lain memiliki keberanian menerapkan kemampuan dan kekuatan-kekuatannya untuk bertindak menempuh jalan baru. Segi negatifnya, sangat sulit menerima masukan valid yang tidak sesuai dengan citra dirinya. Pada I choose to succeed, punya kebutuhan besar pada self- determination. Sisi negatifnya mudah terjebak “takhyul” atas pilihan-pilihan tindakannya.

Makin tinggi jabatan seseorang, bertambah pula peluangnya terpeleset pada “keyakinan semu” tentang langkah-langkahnya. Dalam konteks politik penyelenggaraan negara, sepak terjangnya itu memperoleh dorongan positif dari (utamanya) para kroni dan klik istana.

Di linkungan organisasi bisnis, kita dapat melihat CEO yang dikelilingi orang-orang yang bisa memberikan pendapat sesuai dengan yang ingin didengar bos; bukan yang seharusnya disimak bersama demi kinerja lebih baik.

Taklid pada I will succeed bisa positif, karena memiliki optimisme yang tidak tergoyahkan, bahkan cenderung tidak percaya ada faktor luar yang menentukan takdirnya.

Tapi keyakinan ini bisa sangat berbahaya, memicu selalu ingin menang at all costs – dalam penyelenggaraan negara sudah kita lihat faktanya, antara lain menyebabkan sistem hukum tata negara cidera, pelanggaran etika, dan contoh perilaku berbangsa tanpa adab.

Di ekonomi dan bisnis, optimisme kelewat batas pada I will succeed bisa kita lihat potretnya pada proyek-proyek besar yang diragukan benefitnya bagi stakeholders, bahkan mangkrak, merugikan keuangan.

Orang sukses memang bisa kalap. Utamanya saat ngotot berdasarkan takhyulnya (delusional optimism) ingin meraih keberhasilan berikutnya tanpa etika dan moral.

Mereka cenderung meremehkan pertimbangan dan keprihatinan (saran) dari orang-orang lain yang suksesnya – dan hartanya — tidak selevel dengan diri mereka. Kalau bisa bahasa Prancis, si presiden atau bos, yang merasa selalu benar, akan bilang “L’enfer, c’est les autres, ” “Hell is others” – ini kata filsuf Jean-Paul Sartre.   

Di lingkungan politik atau bisnis, setiap orang yang berhasil naik ke puncak kekuasaan atau tangga karir sangat rentan tergelincir, bisa menjadi seperti manusia yang kehilangan daya pikir. Mereka bisa terkena leadership blind spot.

Perilaku para pemegang kekuasaan (politik dan bisnis) yang tersambar leadership blind spot dan mengalami success delusions, mudah sekali terjerumus jadi bersikap otoriter. Delusi adalah keyakinan kuat seseorang (atas suatu hal) yang sesungguhnya bertentangan dengan realitas.

Keberhasilan seseorang di bidang tertentu memang tidak dapat dijadikan landasan penentuan kebenaran, apalagi untuk mengubah undang-undang.

Dalam penyelenggaraan negara itu bisa menimbulkan malapetaka. Seseorang bisa bersikap “L’Etat, c’est moi”, “Negara itu ya saya”, seperti di Prancis Abad XVI saat dibawah kekuasaan monarki absolut Louis XIV.

Pemusatan kekuasaan pada diri kepala pemerintahan cenderung melahirkan para diktator. Pada tahun-tahun awalnya bisa saja mereka dianggap masuk golongan manusia sukses. Misalnya berhasil mengubah lanskap sosial, politik, dan ekonomi seolah-olah sesuai dengan aspirasi publik.

Perkembangannya kemudian, saat kekuasaan sudah berlangsung lama, pujian bertaburan, dan banyak orang di sekelilingnya perlu cantolan hidup, terjadi kultus individu.

Frank Dikotter, teman saya waktu di Taiwan sebagai sesama mahasiswa asing yang belakangan jadi Chair Professor of Humanities di University of Hong Kong, punya gambarannya.

Frank antara lain menyebutkan, para diktator yang dikelilingi pemujaan diri hanyut memasuki dunia mereka sendiri dan delusi itu mendapatkan pengesahan dari barisan pengikut mereka. Keputusan-keputusan besar mereka kendalikan.

Ketika kecongkakan dan paranoia menyatu, mereka makin butuh kekuasaan tambahan untuk melindungi kekuasaan yang sudah mereka pegang. Sedikit saja terjadi salah perhitungan, konsekuensinya devastating. “In the end, the biggest threat to dictators comes not just from the people, but from themselves,” katanya dalam How to Be a Dictator, 2019, hasil penelitian mendalam tentang Mussolini, Hitler, Stalin, Kim Il Sung, Duvalier, Ceausescu, Mengistu.

Dalam The New Realities (2003) Peter F. Drucker, guru manajemen modern yang pengaruhnya signifikan bagi sejumlah perusahaan besar dunia sampai hari ini, sekian tahun silam sudah wanti-wanti, “Beware charisma.” Abad 20 memunculkan sejumlah tokoh yang dianggap sukses membangun masyarakat baru dan menjadi sangat karismatik tapi ternyata sekaligus juga menimbulkan kesengsaraan puluhan juta umat manusia. Mereka adalah Stalin, Mussolini, Hitler, dan Mao.

Saran Peter Drucker, pilihlah orang yang paling kompeten untuk mengelola organisasi, kendati tidak karismatik, tidak punya pesona.

Di lingkungan organisasi bisnis, nonprofit, dan institusi pemerintahan, dewan pimpinan cenderung terperdaya oleh orang-orang yang lihai tebar pesona tapi kerjanya payah, ketimbang sosok yang kompeten dan bekerja sangat efektif tapi tampil biasa saja. Terjadi hal seperti itu di kantor Anda?

Karisma dan pencitraan dengan segala bentuknya – seperti kelihatan merakyat, pengerahan opini media sedemikian massif untuk menggambarkan keistimewaan seseorang yang tengah di kursi pimpinan atau kekuasaan – semua itu bisa mengecoh. Bukan berarti orang tersebut tidak baik, tapi itu menyebabkan kecanduan, sisi lemahnya sebagai manusia tidak sempat diperbaiki.

Ini bisa jadi musibah bagi seorang leader di organisasi. Bagi pejabat publik menimbulkan kemungkaran besar.

 

Mohamad Cholid adalah Member of Global Coach Group (www.globalcoachgroup.com)

  • Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching
  • Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment (GLA 360)

Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

(http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

(https://sccoaching.com/coach/mcholid1)

Books: https://play.google.com/store/search?q=senincoaching&c=books

Please contact Ibu Nella + 62 85280538449 for meeting schedule

- Advertisement -

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

Latest article