Jumat, Januari 27, 2023

Beban sosial film

Must read

Oleh: Redemptus Kristiawan

Film pendek “Tilik” viral dalam sesaat. Film produksi tahun 2018 dengan anggaran Danais DIY itu meraih views jutaan hanya dalam beberapa hari. Banyak juga pro dan kontra, kritik dan pujian. Tentu ini wajar-wajar saja dalam masyarakat yang kian terbuka.

Kritik atas teks film biasanya muncul dalam dua konteks yaitu konteks teknis dan konteks sosial. Konteks teknis berfokus pada aspek-aspek teknis analisis film misalnya tata kamera, angle gambar, pilihan urutan gambar dan suara, serta pencahayaan.

Sementara konteks sosial berfokus pada sejauh mana teks film berhubungan dengan realitas sosial, termasuk efek lanjutnya berupa dugaan atas dampak teks film pada masyarakat. Keduanya bersumber pada dua objek analisis kode dalam teknik analisis audiovisual yang berbeda yaitu technical code dan social code. Biasanya yang banyak digunjingkan oleh publik adalah social code karena lebih kasat bagi nalar awam.

Heboh tentang technical code pernah terjadi di film “Serambi” (2005) karya Garin Nugroho karena eksekusi kode teknisnya dianggap tak lazim. Film itu lalu mendapat penghargaan di Cannes.

Social code adalah kode-kode dalam teks visual yang memiliki relevansi pada realitas sosial, misalnya kostum, setting lokasi, dialog, dan casting. Nah kode-kode sosial itu dalam kritik film biasanya berbalut dengan harapan sosial. Perspektifnya bisa bermacam-macam (tergantung buku apa yg dibaca hihihihi), mulai dari soal bias gender, bias kelas, dominasi etnik, representasi identitas, dan tak terbatas seluas semesta imajinasi intelektual para pengritiknya. Sekian ribu purnama lalu, saya berada di titik kesadaran seperti itu.

Saya melihat bagaimana sinetron Indonesia waktu itu sangat bias kelas dan bias gender dalam eksekusi audiovisualnya. Analisisnya menggunakan semiotika audiovisual.

Dalam “Tilik”, soal kostum ibu-ibu di bak truk yang semuanya berjilbab bisa berbuntut panjang dalam masyarakat yang mudah panik pada soal sembah-menyembah apa karena dinilai tidak mencerminkan pluralitas. Makin rumit lagi jika ditambah kritik mengapa Dian yang dituduh sebagai perempuan nakal tidak mengenakan jilbab.

Toh terbukti sampai saat ini tidak muncul reaksi berlebihan atas kode-kode itu. Belum lagi jika plot dialog dikaitkan dengan agenda literasi digital, maka akan makin berat beban sosial sebuah film.

Harapan sosial atas teks media massa berhubungan dengan kekhawatiran atas dampak isi media terhadap masyarakat. Sebenarnya di sini titik kesumirannya, karena dampak media pun dibahas dalam spekturm teoritik yang beragam. Bisa saja publik dianggap langsung kejang-kejang sekarat setelah ditembak pesan yang dianggap merusak. Bisa jadi juga publik tetap teges waras-wiris setelah menonton tayangan media yang sama.

Lha, ada paling tidak sembilan teori tentang dampak media. Mau pakai teori yang menganggap publik sangat dipengaruhi isi media ada. Mau pakai teori yang menganggap publik bisa memilah isi media juga ada. Maka tergantung teori mana yang kita percaya.

Jadi, sampai di sini kekhawatiran itu menjadi berpendar ke sembilan arah mata angin teori dengan arah yang berbeda-beda. Kritik pun menjadi relatif. Yang paling realistis kemudian, kritik itu menjadi harapan personal pengritiknya. Tentu saja ini sah sebagai kegiatan intelektual.

Tantangan kemudian adalah bagaimana menyikapi teks film secara realistis. Sepertinya akan lebih asyik menikmati film dengan melihat bagaimana para pembuat film memainkan imajinasi audiovisual yang tidak terbatas dan mengolahnya dalam permainan yang melibatkan konteks sosial, harapan publik, keragaman budaya, dan lain sebagainya.

Di situ “Tilik” menjadi asyik karena menampilkan kode-kode audiovisual pinggiran yang jarang bisa dinikmati di media Indonesia.

Sebaliknya, betapa membosankannya jika dalam “Tilik” pak polisi akhirnya menilang supir truk karena harus sesuai aturan hukum, atau ibu-ibu di truk harus memakai kostum aneka ragam budaya Indonesia supaya sesuai dengan budaya Indonesia.

Teks media bukanlah melulu merupakan petunjuk arah menuju pintu surga, tapi haribaan di mana teks itu berpadu dengan konteks imajinasi khalayak tentang realitas sosial. Kecerdikan pembuat film terletak pada memainkan imajinasi-imajinasi itu lewat pilihan audiovisualnya. Di situlah seninya.

- Advertisement -

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

Latest article