Selasa, Februari 7, 2023

Bond

Must read

Oleh Idrus Shahab

Matahari sudah lama tenggelam. Malam itu, suatu hari di tahun 2002, di panggung Royal Albert Hall, London, empat perempuan muda, empat instrumen gesek elektrik, larut dalam musik yang dibawakannya.

Kita tahu mukadimah yang digambarkan “Overture 1812 Op. 49” itu: musik yang berkisah tentang pernyataan perang di sebuah gereja di Rusia abad ke-19. Tapi keempat wanita berparas cantik, berkostum seksi, dan bertubuh padat itu punya pemahaman sendiri akan buah karya komponis Rusia, Tchaikovsky, yang teramat dikenal itu.

Di atas partitur, perlahan Tchaikovsky membangun suasana melalui sepotong melodi: nada-nada awal yang rendah, berat, dimainkan berulang-ulang. Ada suspens, ada ketulusan berkorban. Perang tak dapat dihindari dan dua pasukan—satu menyerang, satu lagi mempertahankan diri—segera berbenturan. Ya, Tchaikovsky memperlakukan karyanya layaknya sebuah rekonstruksi sejarah epos besar, sebuah kemenangan pasukan Rusia atas gempuran serdadu Napoleon, di awal abad ke-19.

Overture 1812 adalah musik yang bergemuruh. Diawali dengan intro lambat, lalu perlahan-lahan berkembang jadi perubahan-perubahan dramatis, diakhiri dengan ledakan-ledakan kanon dan lagu kebangsaan Rusia. Sebuah visualisasi musikal fantastis!

Tapi malam itu, di hadapan ribuan penonton, empat serangkai anggota kuartet gesek Bond–Haylie Ecker, Gay-Yee Westeroff, Tania Davis, dan Eos Chater—seakan menyuruh kita muncul dengan satu kesimpulan besar: era Romantik itu berakhir sudah. Empat wanita, pada usia 20-an tahun, bagian dari generasi MTV, enggan menyentuh gumpalan emosi yang meluap-luap.

Mereka bermain dengan santai, enteng. Duet bas dan drum bergerak dalam beat disko mencolok, seakan memimpin di depan; biola, biolin, serta cello yang digesek datar beriringan di belakang. Permainan yang encer, tanpa salah, juga tanpa emosi. Kita tahu gejala seperti ini: bukankah dalam suasana pop terkadang melodi harus mengalah pada ritme?

Matahari sudah lama tenggelam, tapi inilah Bond, kuartet gesek dengan serangkaian sensasi, sekaligus ironi. “Pemberontakan kecil” Bond mendapat reaksi keras dari Chart Information Network (CIN), sebuah organisasi yang mengikuti penjualan rekaman-rekaman musik klasik di Britania Raya. Inilah sekelompok orang yang mencoba membubuhkan garis batas pemisah tegas antara musik klasik dan musik pop.

Bond populer dan menempati anak tangga kedua dalam persaingan di antara seniman klasik. Tapi mereka memutuskan mencoret Bond dari daftar. Dosa Bond satu: cara-cara kelompok ini memperlakukan irama lebih mendekati musik pop ketimbang klasik. Mereka kemudian menyalahkan beat disko yang dinilai tak berkepribadian klasik.

Dunia, termasuk dunia musik klasik, banyak berubah. Tapi nomor musik “Allegretto” dalam album “Shine” mengajak kita kembali ke Zaman Barok: musik sederhana, ritme yang tegas, garis melodi patah-patah. Ya, melodi yang juga menguatkan irama. Haylie Ecker, Gay-Yee Westeroff, Tania Davis, dan Eos Chater menggesek instrumen serempak, berhenti serempak.

Semua bergerak, naik-turun, mengikuti garis melodi yang irit nada, tapi cukup berlimpah irama. Allegretto nomor yang tidak istimewa, tapi mendapat sambutan meriah. Ia mudah tertangkap kuping-kuping yang biasa mendengarkan musik pop.

Bond tak begitu ambisius, tapi para personelnya mengibaratkan mereka sebuah jembatan penyeberangan. Keempat instrumentalis perempuan itu menyampaikan melodi yang mereka petik dari dunia musik klasik ke telinga-telinga yang lebih akrab dengan musik pop, meski terkadang mereka tak terang-terangan mengakui bahwa beberapa buah karya mereka sangat mirip dengan potongan-potongan komposisi komponis klasik.

“Oceania,” misalnya, menyerupai karya komponis Saint Saens, “Aquarium”, bagian dari Carnival of the Animals. Nomor “Victory”, yang populer di mana-mana, tidak berbeda jauh dengan lima nada pertama karya Rossini, “Barber of Seville.”

Bond lahir pada tahun 2000. Tapi di tahun-tahun berikutnya tiket konser-konser di Inggris dan negara-negara Eropa cepat terjual habis.” Viva” dan “Victory”, dua nomor musik mereka, dimainkan dalam Olimpiade Musim Dingin 2001. Setelah konsernya di Asia Tenggara, album-album Bond mendapat predikat platina di Hong Kong, Singapura, Korea, dan Indonesia. Di samping album Born (2001), Shine (2002), dan Remix (2003), keempat perempuan itu telah mengantongi sejumlah penghargaan.

Bond kreatif, fasih berbicara dalam bahasa “pop” (hip-hop, disko, R & B, atau rock) kepada khalayak penggemar. Kendati mereka berutang banyak kepada para komponis yang telah tiada. Bond seperti dangdut awal pada tahun 2000-an, primadona pasar rekaman yang dimanja para penggemar. Ada popularitas menjulang, tuntutan untuk terus kreatif di samping berbagai godaan untuk menempuh jalan pintas demi sukses pasar, dan ada goyang.

- Advertisement -

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

Latest article