Kamis, Februari 22, 2024

Njawani: Urun uyah best practise di hotel

Must read

Sekadar ide: Coba bayangkan apabila Anda dalam situasi makan masakan yang kurang asin. Kemudian Anda mencari ke sana-kemari tidak juga mendapatkan si garam. Lalu ada seseorang menyodorkan garam meja satu sachet kecil. Uyah dikit, tapi pelengkap. Katanya “embuh le ngejawantah, yang penting saya sudah ikut urun uyah.”

Maksudnya?

Sejak 31 Desember 2022, kita masuk pada masa transisi menuju endemi berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomer 53 tahun 2022. Walau kita seperti kembali hidup normal, akan tetapi di dalam surat edaran, kita masih harus mematuhi peraturan ketat penanganan COVID-19 terutama di moda transportasi publik – salah satunya KAI. Pandemi berkepanjangan sejak ditetapkan di Indonesia pada Maret 2020 yang saat ini hampir mencapai hitungan tiga tahun.

Mulai semester pertama pandemi, kita mendapat panduan standar operasional (basic requirement) Panduan Pelaksanaan Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability (CHSE) atau yang selanjutnya disebut Panduan Pelaksanaan Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan di Hotel atau Hospitality Industry pada umumnya.

Pertanyaan saya adalah “what we can do more?” untuk meningkatkan kenyamanan tamu yang pola kebiasaan mereka selama berada di lingkungan hotel perlu kita kondisikan. Bisa kita katakan, kita ubah sesuai prosedur baru yang harus diberlakukan.   

Meninjau dari beberapa sudut pandang, salah satunya kita harus menetapkan  perlu tetap kompetitif dalam masa permintaaan sangat rendah. Maka kita perlu men-skenariokan beberapa best practise, temuan-temuan layanan di atas rata-rata untuk kenyamanan tamu. 

Ya, sepertinya menjadi kontradiktif. Kita perlu meningkatkan layanan disaat permintaan rendah dan kondisi pemasukan hotel terdampak. Di posisi ini rata-rata hotel melakukan efisiensi. Jadi jawabannya adalah bagaimana menciptakan best practises – memberikan pengalaman terbaik kepada tamu secara efisien.

Pixabay

Suatu management hotel pasti sudah menetapkan harga sewa kamar per malam. Berapa room cost pada saat kamar kosong dan kamar occupied? Berapa incremental/ variable cost kita? Berapa burdened/ fixed cost kita?

Apabila kita menjual dengan harga terlalu rendah, bisa-bisa kita malah mendapat sentimen negatif seperti merencanakan bisnis untuk gulung tikar. Solusinya adalah kita harus memperhitungkan tarif pada ceruk strategi yang efektif untuk memenangkan pangsa pasar di mana kita bersaing. Menganalisa market price.

- Advertisement -

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

Latest article