Senin, Juli 22, 2024

Muhammad TWH, wartawan pejuang yang jadi “pustakawan”

Must read

Usai kemerdekaan, pada tahun 1950, TWH pindah ke Medan. Di kota ini dia melanjutkan pendidikannya yang tercecer karena perjuangan kemerdekaan. Ia tamatkan sekolah menengahnya dan melanjutkan studi hingga meraih gelar di Akademi Pers Indonesia (API) Medan, dan Fakultas Sosial Politik Universitas Islam Sumatera Utara, jurusan Ilmu Komunikasi.

Berbekal ilmu itu, pada tahun 1954 TWH bergabung ke surat kabar Mimbar Umum. Sepak terjang jurnalismenya dalam peliputan dan penulisan terekam jelas. Dia lama malang melintang sebagai wartawan olahraga. Dan tercatat pernah menjadi Ketua SIWO Sumut.

Rajin menulis, TWH mengaku sudah menulis 27 buku. Tentang macam- macam hal, terutama yang berkaitan dengan sejarah termasuk ihwal perang kemerdekaan.

Keluarganya sangat bangga ketika menerima undangan TWH akan menerima penghargaan HPN yang akan diserahkan di hadapan Presiden Jokowi.

Sayang sekali, di tengah kemeriahan suasana di acara puncak HPN, 9 Februari lalu, ada insiden kecil. Wartawan sepuh yang kini menggunakan kursi roda itu, gagal naik ke panggung untuk menerima sertifikat penghargaan. Itu gara-gara kursi rodanya patah tatkala didorong turun dari mobil pengantar menuju arena upacara di Gedung Serba Guna Pemrovsu.

Namun begitu, ayah lima orang anak dan kakek sebelas orang cucu itu, tetap merasa bersyukur atas penghargaan kepeloporan tingkat nasional yang diterimanya.

“Alhamdulillah, saya masih diingat PWI sebagai wartawan,” ujarnya kepada penulis yang menemui dia di rumahnya.

Ditemani wartawan senior Ronny Simon, penulis memang menemui wartawan pejuang yang sejak tiga tahun lalu mulai aktif sebagai “pustakawan” di rumahnya di Jalan di Jalan Darusalam/Jalan Sei Alas no 6 Sei Sikambing D, Kecamatan Medan Petisah.

Baca juga: Rekomendasi MUI atas beragam persoalan umat Islam di dunia

Rumah sederhana berukuran kira-kira 8 x 12 meter itu, sejak November 2019 memang telah difungsikannya sebagai perpustakaan umum. Diberi nama: “Museum Pers Sumut “. Museum itu buka setiap hari Senin-Minggu. Mulai pkl 10.00-17.00 wib. Pengunjung tidak dikenakan bayaran. “Gratis. Saya jadikan museum ini sebagai ladang amal untuk mereka yang mencari ilmu,” ujarnya.

Rumah yang jadi perpustakaan itu berdiri di areal tanah bekas sawah. “Saya beli dengan harga murah sekitar tahun 1997. Saya bangun pelan- pelan. Dari satu bata ke bata yang lain, sampai akhirnya dua tahun kemudian jadi rumah,” tuturnya, mengenang.

Ada dua petak rumah disiapkan. Di rumah induk berkamar tiga, TWH mukim bersama isterinya Hj. Hartini. Sedangkan di belakangnya ada sepetak rumah lain. Di situ tinggal anak perempuannya bersama cucu-cucu.

- Advertisement -

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

Latest article