Minggu, Oktober 2, 2022

Merdeka dari takhayul

Must read

#SeninCoaching:

#Lead for Good: Beware of superstitious trap

Mohamad Cholid, Practicing Certified Executive and Leadership Coach

Di tempat breakfast di hotel-hotel lazimnya kita akan ditanya oleh staf, “Bapak – Ibu, mau minum kopi atau teh”. Umumnya dua pilihan itu yang mereka tawarkan. Kecuali di beberapa hotel yang belakangan menyediakan juga jus buah, air putih, di samping kopi dan teh, di pojok hidangan sarapan prasmanan.

Kebiasaan hanya menyediakan dua pilihan dalam interaksi dengan pihak lain terjadi di mana-mana. Juga di luar dunia hospitality, seperti di lingkungan bisnis transportasi (termasuk bahkan di KAI yang pelayananannya sudah bagus tersebut, kendati menurut perspektif enam level services Ron Kaufman sekarang ini baru taraf expected, belum desired apalagi surprising – akibat complacency?); serta di sektor consumer goods, di bidang pelayanan publik, dan lainnya.

Sepertinya hidup kita dikepung oleh para pengambil keputusan yang menentukan kebijakan dilandaskan hanya pada dua pilihan sederhana.

Mungkin Anda sudah tahu pula, di birokrasi pemerintahan, di wilayah pertahanan dan keamanan, bahkan ada ungkapan bernada guyon tapi tampaknya serius dalam menghadapi kelompok (dan pribadi) yang tidak disukai penguasa, “kalau tidak bisa dibina (jadi kawan/penurut), ya dibinasakan.”

Rupanya “tradisi” pengambilan keputusan berdasarkan hanya dua pertimbangan, “melakukan satu hal atau tidak melakukannya”, yang sering dilakukan para manajer di organisasi bisnis, nonprofit, dan institusi publik, diindikasikan jadi penyebab kegagalan organisasi dan kemudharatan publik. Perilaku kepemimpinan seperti itu, kata para ahli, mengindikasikan cara berpikir mereka setara, bahkan sedikit di bawah, kalangan remaja – yang bisa dimaklumi, karena pola pikir remaja belum berkembang.    

Paul C. Nutt, professor Management Sciences and Public Policy and Management, Ohio State University, berdasarkan penelitiannya selama 20 tahun lebih, menghasilkan kesimpulan lugas. Keputusan-keputusan yang buruk dan gagal, memiliki tiga kekacauan sama: para manajer (bos) terburu-buru memberikan judgment, memanfaatkan sumber daya secara keliru, dan berulang-ulang menggunakan taktik sembrono (failure-prone) dalam pengambilan keputusan.  

Itu terjadi di lingkungan UKM sampai level korporasi, di institusi-institusi publik, dan lembaga nonprofit.

Berdasarkan penelitian Nutt, keputusan-keputusan yang diambil berdasarkan pada terbatas dua pilihan (binary choices) tingkat kegagalannya lebih dari 50%. Ini dapat kita lihat bersama, misalnya, pada proyek-proyek yang mangkrak atau biayanya membengkak jauh di luar perkiraan, atau bisnis yang berjalan ngos-ngosan, serta kebijakan publik blunder.

Kalau saja para pengambil keputusan bersedia menambah satu pertimbangan lagi, satu perspektif lebih jernih, menurut hasil penelitan, tingkat kegagalannya bisa turun drastis, sekitar 30%.

Untuk itu diperlukan sikap rendah hati, keterbukaan pikiran. Dua hal yang bagi orang-orang tinggi hati – merasa selalu paling benar, senang mengagung-agungkan sukses masa lalu, tidak merasa butuh masukan pihak lain – urusannya jadi pelik, counterintuitive. Sangat tidak nyaman.

Tapi itu penting untuk menemukan alternatif atau perspektif tambahan dalam pengambilan keputusan. Cara ini akan mendorong kita melahirkan keputusan-keputusan yang lebih baik, peluang lebih besar meraih keberhasilan.

Kenapa banyak orang cenderung berpikir cupet, menampik berperilaku rendah hati dan malas membuka pikiran mereka?

- Advertisement -

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

Latest article